
Andrea senang selalu mendapatkan tugas untuk membereskan ruang kerja Malvin, meskipun sedikit banyak menggunakan tenaga setidaknya dia tidak bertemu dengan Sella atau berpapasan dengan wanita yang mengklaim dirinya Nyonya di rumah ini.
Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku jika kerjaannya sudah selesai, dan beruntungnya Demetrio mengijinkannya. Setiap kalimat yang ada di dalam buku-buku yang dia baca membawanya berkeliaran pada dunia yang berbeda. Hingga dia tersentak saat bayangan itu muncul di antara tumpukan buku yang sedang dia baca. Dengan tergesah-gesah dia merapikan bajunya dan berdiri tegak lalu kembali membungkuk.
"Signore."
"Sedang apa kau di sini?"
"Demetrio menyuruhku untuk merapikan ruang ini Signore."
"Kau suka membaca?"
"Sì."
"Kenapa?"
"Karena aku bisa membayangkan hal-hal indah yang mungkin tidak bisa aku nikmati."
"Begitukah."
"Sí, Signore."
Tubuh Andrea menegang tatkala Malvin mulai mendekatinya.
"Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan dia menyakitiku lagi, aku mohon," batin Andrea memohon perlindungan.
"Apa ada yang kau inginkan Signore?"
"Entahla, aku hanya ingin melihat buku apa yang sedang kau baca."
Andrea menahan tubuh Malvin yang terus mendekatinya, menempelkan telapak tangannya di dada pria itu agar tidak terus menghimpit tubuhnya. "Apa yang kau inginkan."
"Dirimu."
"Untuk?"
"Kau tahu maksudku Andrea, bukankah kau sangat menggilai uang, aku akan membayarmu jika kau mau melakukannya."
"Aku bukan wanita murahan Signore." Andrea mengucapkan dengan penuh penekanan. Dia mencoba mendorong dada Malvin untuk menjauh. Akan tetapi pria itu sama sekali bergeming.
Malvin tersenyum miring. "Hidupmu adalah milik ku Andrea Pricilia," bisiknya tepat di telinga perempuan berdarah Puelba itu.
"Baby!!"
Malvin menghampiri wanita yang menunggunya di sofa, dengan sensual wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu duduk dengan belahan baju yang cukup menampakkan semua bagian kakinya hingga sebatas paha.
"Baby, apa kau sedang sibuk? Apa yang sedang kau kerjakan," ucapnya melangkah untuk masuk. Namun, Malvin menahannya. Ruang kerja Malvin memang bersebelahan dengan kamarnya dan memiliki pintu penyambung antara kedua ruangan itu.
"Tidak ada Arsula."
Manik Arsula sedikit tajam, dia seperti mencurigai sesuatu yang ada di ruangan itu. Namun, karena Malvin mengatakan tidak maka dia mengiyakan.
"Kalau begitu apa kau mau menemaniku minum? sudah lama kita tidak minum bersama bukan."
"Aku tidak ingin minum Arsula. Kau tahu kesehatanku lagi tidak baik."
"Ayolah Baby, sudah lama kita tidak keluar dan minum bukan. Aku sudah memesan tempat di salah dari Klub milikmu, sudah ku suruh orang untuk menyiapkan anggur terbaik, kau akan menyukainya."
"Tidak Arsula, jangan memaksaku."
"Dasar pria menyebalkan. Dia bahkan tidak menatapku sama sekali," batin Arsula kesal.
"Apa kau benar-benar akan mengabaikanku terus seperti ini?" Tangan Arsula menahan Malvin yang hendak pergi darinya. "Ini terakhir kalinya aku memohon, setelah kau menemaniku minum, aku tidak akan lagi memaksa untuk hal apapun"
Beberapa saat Malvin menatap manik Arsula yang sudah berkaca-kaca. Dalam hatinya dia tertawa, wanita di depannya ini memainkan peran dengan cukup baik. Ingin sekali dia mengatakan kalau dia memang menginginkan perpisahan. Namun, lagi-lagi rasa kasihan menahannya untuk tetap diam. Arsula hanya memiliki dirinya, kedua orang tuanya membuangnya karena tidak ingin memiliki anak perempuan yang nakal. Sejak itulah dia selalu bersama Malvin, hingga keduanya saling jatuh cinta.
"Baiklah."
Perempuan itu tidak bisa menahan rasa bahagianya saat melihat Malvin mengambil jaketnya, dia mengambil kunci mobil. Akan tetapi gadis yang memiliki manik yang sama dengan Andrea itu menolak.
"Kita akan membawa mobilku Baby."
Senyuman licik melengkung di ujung bibirnya. Bahagia. Karena jika Malvin menghabiskan semua minuman yang dia siapkan di sana maka mereka akan berada di dunia fantasi yang penuh dengan kenikmatan. "Malam ini dan seterusnya, kau akan menjadi milik ku Malvin Alexsander," batinnya tersenyum miring memikirkan apa yang ada di dalam hayalannya.
"Aku adalah wanita yang beruntung karena memiliki Baby."
Pria itu menyunggingkan senyum, mengikuti alur yang ada. 30 menit keduanya pun sampai. Para pelayan yang sudah Arsula bayar mendekat untuk melayani keduanya. Mereka menunduk sejenak saat menatap sang pemilik. Namun, tanpa di sangka, beberapa menit kemudian Demetrio datang dan di temani oleh Andrea.
"Andrea? Sedang apa kau di sini?"