Endless

Endless
Chapter 95



"Dengan siapa kau berbicara Garilla, di mana Andrea."


"Signore!"


"Di mana Andrea, apa dia sudah makan?"


Kaget karena Malvin yang tiba-tiba datang membuat Garilla tidak mampu untuk berkata apa-apa. Wanita itu terdiam dengan wajah yang menunduk.


"Garilla, aku bertanya padamu di mana kekasihku. Apa dia ada di kamarnya?" Malvin hendak mencari Andrea ke kamar. Namun, jawaban Garilla membuat langkahnya terhenti.


"Signora, tidak ada di Mansion Tuan."


"Apa maksudmu tidak ada di Mansion!"


"Dia keluar setelah Agrio mengatakan anda dan Demetrio tidak ada. Aku sudah memperingatinya untuk tetap berada di Mansio . Tetapi..."


Garilla menjedah kalimatnya, karena suara keras itu sudah memenuhi Mansion.


"Agrio!!"


Malvin terlihat panik begitu pun dengan Demetrio, sama seperti yang di katakan Garilla, banyak pengemis yang suka menghabiskan malam di sekitar pemakaman dan itu sangat tidak aman untuk seorang perempuan.


"Agrio ...!! Dimana dia!" Malvin berteriak dengan sangat keras hingga membuat Garilla berlari cepat menuju gerbang untuk menyeretnya ikut bergabung.


"Garilla ada apa?" Agrio bertanya saat wanita tua itu menarik lengannya dengan paksa.


"Tuan memanggilmu. Cepat! Ini sangat darurat." pelayan dengan postur tubuh tinggi itu menarik Agrio tanpa menunggu persetujuan .


"Tuan sudah kembali? Lalu bagaimana dengan Nona Andrea, dia juga belum kembali."


"Kita akan di bunuh untuk itu."


****


Agrio terlihat sangat tegang saat menatap mata Majikannya. Entah apa yang harus dia jawab saat pria itu bertanya tentang kekasihnya.


"Dari mana saja kau! Dimana Andrea?"


"Nona mengatakan ingin ber--"


Plak ....


"Signore?" Agrio memegang pipinya yang di tampar, kepala pria itu bahkan dia menunduk secepatnya tidak berani di angkat.


"Kau tahu apa kesalahanmu?"


"Apa?"


"Tidak bersama Nona Andrea."


Bugh ... bugh ... bugh ....


Tubuh Agrio di hantam keras dengan 3 pukulan Malvin.


"Malvin hentikan dia kesakitan." Demetrio melerai dengan memeluk sahabatnya.


"Aku menyuruhmu untuk tetap berada di sekitarnya, kenapa kau malah membiarkannya pergi sendirian."


"Aku sudah memaksanya Signore, tapi Nona Andrea mengatakan aku bukan kekasihnya dia tidak mengijinkan pria lain berada di sekitarnya."


Malvin berdecak tawa mendengar itu. Dia menarik salah satu pengawal terbaiknya itu dengan mencengkeram pada bagian depan bajunya. "Jika sesuatu terjadi padanya, kau orang pertama yang akan aku habisi!" ujarnya menghempas kembali tubuh Agrio hingga tersungkur ke lantai.


Kecemasan dan emosi Malvin kini sama-sama memuncak, para pelayan yang tidak bersalah itu pun mendapat cacian yang tiada henti dari tuannya. Dan Demetrio tahu, itu tidak main-main. Kemampuannya membaca dari raut wajah seseorang membuat Malvin selalu mengandalkannya dalam keadaan apapun.


"Aku akan menghubungi Zigo, dan meminta bantuannya untuk mencari."


"Zigo? Apa dia pria gila itu sudah kembali dari Kanada?"


Demetrio mengangguk. "Dia baru saja sampai, Zigo memiliki banyak pengalaman dengan preman-preman itu, kita bisa memanfaatkannya agar Andrea cepat di temukan."


"Tidak perlu, aku memiliki anak buah dan mereka bisa melakukannya sendiri." Raut wajah Malvin sedikit tidak bersahabat, dia tidak menyukai pria itu.


Zigo adalah sepupu Malvin, dan hobinya adalah bermain bersama wanita-wanit bar yang ****, dia bahkan keliling dunia untuk melakukan hobi gilanya itu.


"Baiklah!"


"Ikuti aku, bawa beberapa anak lain untuk ikut mencari"


"Sì." Meski wajah dan sudut bibirnya sudah terluka, Agrio masih tetap siap untuk melayani majikannya. Dia berlalu pergi dengan mengelus pada sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Ketika mereka hendak keluar, Garilla tiba-tiba menyela. Sedari tadi wanita tua itu ingin mengatakannya. Namun, dia urungkan karena melihat Agrio yang di pukul.


"Maaf Signore."


"Ada apa Garilla. Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Malvin.


"Signore, sebenarnya Nona Andrea mengatakan dia akan mengunjungi satu tempat. Namun, yang ingin ku katakan adalah, ada seorang pria tua yang mengganggunya di sekitar pemakaman."


Rahang Malvin mengetat seketika. "Oh God! Garilla! Seharusnya kau mengatakannya dari tadi." Pria itu berlari dengan sangat cepat, menuju mobilnya. Menginjak gas dan melaju membela jalanan kota Verona untuk mencari kekasihnya.