Endless

Endless
Chapter 27.



Hari sudah mulai gelap dan belum ada yang menemukan dirinya. Andrea semakin kalut, dia mendudukan dirinya, memegang perut yang tertikam, matanya tidak beralih dari pintu berharap ada yang membukanya dan menemukan dirinya. Karena jika tidak, maka dia akan berakhir mengenaskan di dalam gudang ini.


Perempuan bermata abu-abu itu menatap luka pada perutnya, dan menyadari bahwa ini cukup dalam hingga untuk bernapas sja dia harus sedikit lebih menahan sakit. Di tambah lagi Air kotor yang di sirami membuatnya bau seperti pemungut sampah.


Mereka manusia yang sangat kejam, menganggap nyawa bukanlah sesuatu yang penting. Andrea tahu, kuasa Tuhan itu ada. Maka dari itu Andrea, terus berdoa, memohon kepada Tuhan agar mengirimkan sesorang untuk menolongnya. Dia sudah cukup lelah, hingga saat dirinya tidak bisa lagi menahan, dia pun menutup mata dalam kesakitan.


"Oh Tuhan. Apa aku akan mati di sini?" Wanita mudah itu mengeram kesakitan.


"Berbicara saja sesakit ini, lalu bagaimana bisa aku berteriak." Andrea membatin dalam kesakitannya. Mengutuk dirinya yang bodoh karena tidak hati-hati dengan Arsula.


•••• Semenetara itu ••••


"Sella! Katakan, di mana Andrea?"


"Apa aku harus menjawab setiap kali kau bertanya?" Sella manaikan nada bicaranya.


"Dia belum juga kembali. Bukankah terakhir kalian yang memaksanya untuk ikut dengan Nona Arsula?"


"Mungkin saja dia sudah tertidur?"


"Dia tidak ada di kamarnya Sella, jika Demetrio tahu apa yang kalian lakukan padanya, kau tahu bukan resikonya."


Sella yang sedang menikmati makan malamnya itu sedikit gemetar. Mendengar nama Demetrio saja membuatnya merinding, apalagi berurusan dengannya. Namun, dia harus tetap menjaga mulut. Dia mengabaikan Garilla dan terus melanjutkan makannya.


"Di mana Andrea?" Garilla sekali lagi menekan wanita itu untuk memberitahu tentang keberadaan Andrea.


"Sudah ku katakan, aku tidak tahu!"


"Lebih baik kau katakan sebelum Tuan Malvin datang dan tahu apa yang kau lakukan pada Andrea."


Sella tertawa keras, dia mendorong dada Garilla untuk menjauh darinya. "Kau pikir Signore akan mendengarkanmu? Kalian hanya pelayan rendahan yang mengemis di sini untuk melunasi hutang."


Plakk


Satu tamparan keras Garilla dapatkan dari Sella. Wanita berusia 50 tahun itu menahan pipinya yang memerah dengan bekas jari yang menempel di sana.


"Berani sekali kau menamparku!" Kekesalan tampak terlihat di matanya. Namun, dia tidak ingin melawan lagi. Saat ini keberadaan Andrea lebih penting.


"Minggir dan menjauh dari hadapanku sebelum aku melaporkan keberanianmu ini kepada Nona Arsula."


Garilla menatap kepergian wanita pembuat ulah itu, entah kenapa Malvin tidak mengusir mereka dari Mansion ini, jika ada mereka maka kekacauan selalu terjadi. Mereka selalu berbuat dengan sesuka hati.


Tiba-tiba saja, telepon berdering. Garilla berlari dengan buru-buru ke ruang utama di mana suara itu berasal. Dia mengabaikan rasa sakit di pipinya lalu dengan cepat, dia menerima panggilan itu berharap itu adalah Malvin.


"Ciao."


"Garilla, apa itu kau?"


"Signore?" Wanita tua itu membuang napas legah.


"Apa Andrea sudah kembali?"


"Belum Signore."


Dalam hati Garilla berharap Malvin memberi perintah untuk menahan Sella. Perempuan itu membuat kekacauan sama seperti mahikannya. Ternyata itu tidak terjadi, akhirnya, dia memberanikan diri untuk sekali lagi memohon bantuan.


"Signore."


"Tenanglah Garilla, aku akan segerah sampai."