Endless

Endless
Chapter 130



Sepanjang hari Andrea tidak ingin melapaskan tangan Malvin, entah kenapa dia sangat takut mengingat semua ucapan Zigo. Perempuan itu berfikir bagaimana jika itu benar, jika ayahnya tidak mau menyetujui hubungan mereka lalu bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya? apa dia harus lari ataukah dia harus rela menggugurkan kandungannya karena tidak mungkin jika dia membesarkan anak tanpa seorang ayah. Lazaro adalah seorang pria yang keras dan dingin. Jika sikapnya bertemu dengan sikap Malvin yang juga keras dan dingin, itu akan sangat susah.


"Apa aku harus memberitahukan kehamilanku kepada Dayla terlebih dahulu?" Andrea bergumam di dalam hati, dia berfikir untuk menghubungi Dayla dan menceritakan keadaannya. Itu akan mempermudahnya karena Dayla pasti akan membantunya untuk bicara dengan Ayahnya.


Andrea m e n de sahkan napas berat, perempuan berambut panjang itu terus berfikir keras hingga dia tidak sadar jika Malvin sedang menatapnya dari tadi. Pria itu terus tertawa melihat ekpresi Andrea yang berubah-ubah. Bibir tipisnya terus menarik perhatian Malvin karena selalu saja bergerak, hingga terlihat sangat menggemaskan. Andrea terlihat seperti bayi yang sedang berfikir, akan selalu memanyunkan bibir saat sedang memikirkan sesuatu.


"Sayang! Apa kau tidak lapar?" ujar Malvin tiba-tiba. Suara pria itu membuyarkan semua lamunan Andrea.


Andrea mengangkat wajahnya lalu menggeleng dengan pelan setelahnya wanita dengan manik mata abu-abu itu kembali melanjutkan lamunannya. Dia memang sangat lapar, akan tetapi seperti tidak memiliki napsu untuk makan.


"Hei!" Malvin menangkup wajah Andrea karena wanita itu terus mengabaikannya. Malvin melihat kekhawatiran di sana. "Kau memikirkan apa yang Zigo katakan tadi?"


Seketika Andrea terdiam, menatap kekasihnya dengan lurus. Telihat jika pendar di mata yang sudah mulai berkilau.


"Andrea ...!" Malvin mengelus lembuat pada pipi Andrea. Namun, elusan itu bukan membuat wanita di hadapnya tenang melainkan semakin terpuruk. Mata Andrea langsung bereaksi dengan mengeluarkan air mata. Melihat itu, Malvin langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Mengelus pada puncak kepalanya dan memberikan ciuman berulang kali di sana.


"Semua akan baik-baik saja Sayang, percayalah."


"Aku sangat takut."


"Jangan pedulikan apa yang di katakan Zigo, dia memang seperti itu. Selalu mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya."


"Tapi bagaimana jika yang dia katakan itu benar bagaimana jik-- uhmm."


Malvin mencium sudut bibir kekasihnya agar dia berhenti mengatakan hal-hal yang tidak ingin dia dengarkan. "Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Dan apapun yang akan terjadi nanti, tidak akan ada yang berubah, kita akan tetap bersama, dan anak-anak kita nanti."


"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku apapun keputusan ayahku nanti."


"Aku berjanji," ujar Malvin dengan mengecup kening Andrea. "Dan kau juga harus berjanji untuk tetap menjaga kesehatanmu mulai sekarang. Untuk itu kau harus makan, Ini sudah lewat dari jam makan siang."


Malvin menggelengkan kepalanya. "Aku menunggumu."


Andrea menyipitkan kedua matanya. "Why?"


Malvin mengecup sekali lagi bibir kekasihnya. "Mana mungkin aku kenyang di saat kekasih dan anak ku bahkan belum makan apapun."


"Kau tahu, kau semakin manis jika lembut seperti ini Dan itu semakin membuat rasa cintaku ini bertambah padamu."


Malvin membeliak. "Benarkah?"


"Tentu saja Sayang."


Jawaban Andrea membuat Malvin menyeringai. "Kalau begitu, bolehkah aku mencicipi makan Siangku?"


"As you wish, Baby."


Andrea hendak beranjak untuk memanggil Garilla agar menyiapkan makanan. Namun, Malvin menahan gerakannya. "Bukan itu yang ingin ku makan Sayang."


Andrea memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung, dia menatap lurus ke arah manik hitam yang sedang membara. "Bukankah kau baru saja mengatakan ingin makan? Ataukah aku yang salah mendengarkan."


"Kau tidak salah." Malvin mendekatkan wajahnya kepada Andrea. "Hanya saja bukan makanan itu yang aku inginkan. Tetapi ini."


Malvin sekali lagi mengecup bibir wanita itu dengan dengan yang terus mengelus di perut yang masih datar itu. Ciuman yang tadinya biasa saja kini semakin dalam, semakin ber g a i rah, hingga Andrea terpaksa harus membalasnya, membuat ciuman mereka semakin panas dan semakin menuntut.