
Demetrio mendekat karena melihat kegelisahan sahabatnya. "Hei! Apa semua baik-baik saja?"
Demetrio membuka percakapan dengan kalimat santai, tidak seperti biasanya yang selalu tegang dan berkesan menjaga sikap.
Setelah Andrea menjadi kekasihnya dia tidak lagi memanggil dengan resmi kepada Malvin, kadang kalah dia sering memanggil dengan sebutan nama, itu lebih membuat keduanya menjadi lebih dekat.
Malvin menghebuskan napas panjang. "Andrea tidak berada di Mansion, dan Agrio tidak sedang bersamanya, dia mengatakan akan ke kelab untuk sedikit minum."
"What?" Demetrio memijat pelipisnya. "Kekasihmu ternyata memiliki kebiasaan yang buruk sepertimu."
Malvin menaikan satu alisnya.
"Kalian selalu membuat masalah di saat sedang kesal," ujarnya berlalu pergi. Dia tahu Malvin akan mengejarnya.
"Hei kawan, apa maksudmu? Kebiasaan buruk apa yang kau maksud." ujarnya dengan menahan lengan Demetrio.
"Apa kau lupa, kau sering membuat anak buahmu luka-luka saat sedang kesal jika Arsula pergi tanpa kabar dengan pria-pria hidung belang itu. Itu karena kau yang terlalu memanhakan wanitamu."
"Hentikan Demetrio, Andrea adalah wanita baik-baik. Dia tidak akan melakukan hal-hal seperti itu."
Demetrio memutar kedua bola matanya. "Kau selalu saja menjadi lemah jika sedang jantuh cinta. Itu yang membuat mu terlihat bodoh. Tegaslah! Agar mereka tahu kau adalah singa. Jika tidak ini akan berakhir seperti yang dahulu.""
"Dia hanya sedang kesal karena aku yang tiba-tiba pergi."
"Dan Arsula menjadi seperti itu karena berasal dari rasa kesal yang lama-lama dia menjadi bertingkah. Malvin. Aku tidak ingin wanita membuatmu menjadi lemah. Kita adalah kelompok yang di takuti, jangan sampai mereka mengira kita adalah badut karena kau yang selalu seperti ini."
Malvin berdecak. "Omong kosong!"
"Aku hanya mengingatkanmu."
"Andrea, dia adalah kekasihku, untuk apa kau seserius itu memikirkannya."
"Baiklah! Terserah kau saja. Aku hanya memperingatimu agar tidak terjatuh pada lubang yang sudah kau tutupi."
"Pantas saja Andrea tidak menyukaimu, kau selalu saja curiga kepadanya."
"Aku hanya ingin melihatmu tetap kuat dan tidak lemah, itu saja. Jika wanitamu tidak menyukaiku, itu pilihannya."
"Oh Tuhan Demetrio, Andrea tidak seburuk yang kau pikirkan, berhenti menyalahkannya. Cobalah untuk bisa akrab dengannya. Bukankah sejak awal kalian sudah terlihat akrab? kenapa sekarang tiba-tiba seperti tom dan Jerry."
"Itu karena dia yang selalu berulah, aku tidak menyukai wanita pembangkang."
Malvin tertawa. "Oke, baiklah kawan. Ku pikir kau seharusnya mencari kekasih agar sikap kaku dan dinginmu ini bisa hilang."
"Aku tidak ingin di perdaya oleh wanita," jawab Demetrio dengan cepat.
"Entahlah." Pria itu seperti takut, sejak dulu dia memang tidak sama sekali memikirkan tentang mendekati wanita. Arsula dan Andrea memang memiliki kepribadian yang berbeda. Sebenarnya Demetrio bukanlah tidak menyukai Andrea, dia hanya tidak ingin Malvin terlalu fokus dengan wanita itu dan melupakan Klan yang sudah mereka bangun dengan sudah payah selama ini. Dia hanya ingin Malvin tidak menjadi bodoh sama seperti saat bersama Arsula.
"Apa kau ingin aku mencarikanmu seorang wanita Dem?" ujar Zigo yang tiba-tiba saja muncul. Sekilas pria itu mendengar pecakapan terakhir mereka tentang wanita.
"Hentikan Zigo, jangan mengganggunya."
"Kau tenanglah Brother, ini urusan antara pria lajang, aku adalah ahli dalam mengenal wanita. Katakan, tipe seperti apa yang kau inginkan. Malam ini akan segerah kau dapatkan."
"Zigo." Malvin berteriak memberi peringatan.
"Ohw apa saudarkau cemburu?" Zigo berbalik menatap Malvin. "Kau bisa mendapatkannya juga Brother. lihat, banyak yang seksi dan cantik di sana. Sergio sudah menyiapkan seuanya untuk kita, tinggal kita n'ikmati saja. Bukankah begitu Tuan Sergio." Zigo bertanya kepada pria yang sudah menyiapkan segala kesenangan kepda mereka.
"Yah tentu saja, lupakan sejenak kekasih kalian dan nikmatilah, kita akan berpesta sampai pagi di sini."
Wajah pria bermata kelam itu mulai berubah, Malvin hendak beranjak pergi. Namun, seorang wanita yang di suru Zigo sudah lebih dulu menahannya.
"Uh ...." Wanita itu mengesekan dadanya pada bahu Malvin. "Kau sangat tampan sayang," ucapnya dengan wajah menggoda.
Demetrio yang tidak suka ingin menghalangi. Namun, Zigo dengan cepat menahanya. "Biarkan saja, kau seharusnya menikmati malam bersama yang lain dari pada sibuk menjaga majikanmu itu kawan."
"Jangan berlebihan Zigo, kau tahu apa yang akan terjadi jika Malvin benar-benar marah. Kami datang memenuhi undangan sahabatmu untuk membicarakan bisnis bukan untuk hal-hal seperti ini."
Zigo menyeringai, dia tahu akan hal itu. Hanya saja sedikit membuat saudaranya itu marah akan lebih menyenangkan. Apalagi jika beberapa adegan di sini dia abadikan dan memgirimnya untuk seseorang yang menunggu di sana.
"Menjauh dariku Nona, aku sudah memiliki istri dan aku sangat mencintainya. Tidak ada tempat untuk wanita lain di sini."
"Bukankah dia tidak tahu kau sedang apa di sini, kenapa harus setegang itu. Biarkan malam ini menjadi indah dengan bersamaku." Wanita itu mengeles lembut pada dada pria berjas itu hendak melonggarkan tali dasinya. Namun, Malvin menahan untuk menghentikan gerakannya.
"Tutup dadamu itu, yang di miliki kekasihku lebih indah dari pada punyamu Nona." Malvin mengecup singkat pada pipi wanita itu lalu berbisik. "Dan aku tidak bercinta dengan seorang pelacur."
Ekspresi Demetrio
*****
Just info.
Terus kasih dukungan yah dan jangan nimbun bab. Itu akan membuat statistik karya ku menurun. ✌🙏. Jangan lupa Vote like dan kasi komentar yang bijak. dilarang berkomentar kasar di sini, kalau tidak suka skip dan tinggalkan. 🙏✌💜
Btw, ada yang penadsran dengan Visual Zigo 🤭.