Endless

Endless
Chapter 159



Demetrio tampak gelisah, pagi ini Marisa tidak muncul untuk ikut sarapan. Membuat dia tidak berselera menyantap sarapannya sendiri. Entah kenapa, wanita itu seakan menarik semua simpati di dalam dirinya.


"Dem! Apa sarapannya tidak enak?" tanya Andrea dengan berbisik. Pria itu terlihat hanya memainkan sarapannya. Padahal, menu yang Dayla buatkan adalah makanan yang menurut Andrea sangat enak. Telur mata sapi plus kacang polong serta tak lupa keju dan saus tomat di atasnya. Orang Meksiko juga biasa memakan menu sarapan yang dinamai Huevos motuleños ini dengan sangat nikmat. Lalu kenapa Demetrio terlihat tidak berselerah.


"Tidak, ini enak," jawab Demetrio datar.


"Lalu kenapa kau hanya menggaruk-garuk sendokmu di sana? Apa sesuatu mengganggumu?"


"Tidak ...," jawab Demetrio sesekali menengok kebelakang.


Malvin menyipitkan matanya. "Untuk apa kau bertanya seperti itu padanya? Seharusnya kau mengkhawatirkanku, aku yang sedang tidak baik-baik saja di sini."


Andrea tersenyum lebar. "Sayang! Apa kau sedang cemburu?" Andrea bertanya dengan suara pelan.


"Tentu saja, kau lebih mengkhawatirkan Demetrio dari pada diriku yang sedang lemah ini."


"Berhenti mengatakan hal bodoh." Andrea mencubit pipi Malvin dengan pelan. Ia gemas dengan kekasihnya sendiri, entah sejak kapan pria yang awalnya sangat keras ini berubah menjadi manja. "Apa kau memperhatikannya? Dia terlihat aneh."


Malvin hanya menggelengkan kepala fokus pada sarapannya. Matanya menatap tidak suka saat Andrea terus memperhatikan Demetrio. "Berhenti menatapnya dan selesaikan sarapanmu."


Andrea tersenyum kecil, matanya menatap sesaat Malvin yang cemberut di sampingnya. "Pria pencemburu."


*****


"Ayolah Marisa, buka pintunya. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."


Wanita di balik pintu itu tidak menjawab, ia terus saja berdiam sambil menempelkan kupingnya pada daun pintu.


"Marisa."


"Kau melewatkan sarapanmu."


"Aku ... aku tidak lapar," ucapnya berbohong. Tidak mungkin jika dia mengatakan bahwa dia malu bertemu dengan Demetrio, bahkan setelah pria itu menyatakan keseriusannya, Marisa masih saja merasa ini terlalu cepat.


"Apa kau malu melihatku?" tanya Demetrio ragu-ragu. Wanita di balik pintu ini semakin membuatnya penasaran.


"Hahaha!" Marisa tertawa hambar. "Untuk apa malu, kita bahkan sering bertengkar semenjak kau datang."


"Kalau begitu apa kau tidak menyukaiku? Jika benar, maka aku tidak akan mengusikmu lagi," ujar Demetrio semakin menekan Marisa.


Detik setelahnya Marisa keluar dengan terburu-buru. "Tidak, aku sangat menyukaimu," ucapnya menarik tubuh Demetrio mendekat padanya. Ia memeluk erat tubuh itu, saking eratnya hingga membuat Demetrio terbatuk seketika. "Aku menyukaimu, sungguh. Hanya saja ....." Marisa sedikit menjedah ucapannya, ia memberi jarak antara keduanya dan menundukkan wajah.


"Hanya saja?" Demetrio bertanya dengan menangkup daguh Marisa yang lancip. Menatap lekat wajah wanita yang berhasil membuat bongkahan es di hatinya mencair itu dengan serius.


"A-aku malu bertemu denganmu," ujar Marisa sangat canggung dan juga gugup. Jantungnya memompa dengan cepat hingga ia merasa jika benda itu akan melompat keluar dari tempatnya.


Demetrio terkekeh, ia mengamati wajah malu-malu Marisa. Jika di bandingkan dengan Marisa yang dulu, tentu saja ini adalah Marisa yang jauh berbeda dari sebelumnya. Wanita arogan yang selalu bertengkar dengannya kini tersenyum malu-malu di hadapannya.


"Apa kau ingin menemaniku sarapan di luar? Karena kau tidak ada tadi, aku khawatir hingga mengabaikan Huevos motuleños yang di buatkan Dayla tadi."


Marisa tersenyum. "Si, akan aku ajak kau ke restoran terbaik di Puelba."




Mohon maaf yah kemarin ada hajatan keluarga jadi baru bisa up 🙏💜