
Andrea dan Marisa mendekat di temani Lazaro sebagai pendampingnya. Hari ini pria tua itu akan menyerahkan dua putrinya sekaligus kepada pria yang menjadi pilihan mereka. Begitupun dengan Paris, pendamping lelakinya adalah ayahnya sendiri. Lazaro dan ayah dari Paris menyerahkan putri-putri mereka untuk di nikahi.
Malvin mulai tersadar ketika jemari Andrea menelisik sisi telapaknya. Lalu terdengar sang pembawa acara memberikan aba-aba agar ketiga pasangan itu bersiap-siap dan naik ke atas altar secara bergiliran
"Apa kalian siap?"
Karena Malvin adalah pasangan pertama yang akan menikah, ia dan Andrea pun menjawab secara bersamaan. "Ya, kami siap."
"Baiklah! ... Malvin Alexander, Sei disposta a fare di Andrea Pricillia tua moglie nella gioia e nel dolore per amarsi e prendersi cura gli uni degli altri nel bene o nel male, nel ricco o nel povero, nel malato o nel sano finchΓ© morte non vi separi?"
(Apakah kau bersedia menjadikan Andrea Pricillia sebagai istrimu dalam suka maupun duka untuk saling mencintai dan saling peduli dalam keadaan yang baik, ataupun buruk, dalam kaya ataupun miskin, dalam sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan?")
Malvin yang masih di selimuti ketegangan bercampur dengan ketakutannya akan kemunculan Daniel tidak menjawab, dia membiarkan pertanyaan itu di hapus oleh angin. Membuat Andrea yang berdiri di sampingnya merasa sedikit bingung. "Malvin, jawablah."
Malvin menoleh pada Andrea yang sedang menahan napas dengan tatapan cemas. Dia tahu hati wanita itu pasti sedang menantikan jawabannya, terlihat dari tatapannya yang tajam. Pria bermata kelam itu kemudian tersenyum, ia menggenggam kembali jemari wanita di sampingnya dengan erat, lalu menjawab dengan keras lantang.
"Sì, sono pronto. (Ya, aku bersedia.")
Andrea menahan matanya yang sudah berkaca. Sungguh, itu adalah jawaban yang sangat di nantinya ketika sesaat ia melihat keraguan itu muncul di wajah Malvin. Entah apa yang di pikirkan pria itu tadi, dia begitu lama menjawab.
"Andrea Pricillia, Sei disposto a fare di Malvin Alexander tuo marito nella gioia e nel dolore per amarsi e prendersi cura l'uno dell'altro nel bene o nel male, ricco o povero, malato o sano finchΓ© morte non ci separi?"
(Andrea Pricillia, Apakah kau bersedia menjadikan Malvin Alexander sebagai suami mu dalam suka maupun duka untuk saling mencintai dan saling peduli dalam keadaan yang baik ataupun buruk, dalam kaya ataupun miskin, dalam sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan?")
Dengan bibir yang bergetar penuh air mata Andrea menjawab "Sì, sono pronto. (Ya, aku bersedia.")
πππ
Kelegaan menyelimuti semua setelah ketiga pasangan itu selesai mengambil sumpa dan mengutarakan janji pernikahan. Suasana menjadi haru biru dengan tepuk tangan dan sorakan orang-orang terdekat mereka. Baik keluarga Masion Alexander, keluarga Lazaro dan Keluarga Ryiz juga dari pihak Paris. Terkecuali dengan Zigo, pria dengan manik cokelat itu tampak sangat diam, keluarga tidak ada yang datang. Yah, karena dia memang tidak memberi kabar kepada mereka. Ibunya juga pasti tidak akan datang.
Lazaro dan Dayla bahkan tidak hentinya meneteskan air mata saat menyaksikan kedua putri mereka berada di atas altar dan berjalan bergandengan dengan pasangan masing-masing. Apalagi saat mereka kembali mengatakan janji pernikahannya. Itu adalah Suasana yang sangat luar biasa.
"Saya, Malvin Alexander. Mengambil engkau Andrea apricillia untuk menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah."
Andrea tersenyum saat pria bertato elang itu mengelus kedua tangannya, memberikan ciuman yang begitu hangat di sana. Penuh dengan cinta dan kebahagiaan.
"Aku mencintaimu, istriku."
"Benarkah?"
"Si. Kau adalah satu-satunya pria tertampan di Italia."
Malvin terkekeh, pria bermata kelam itu memberikan ciuman yang cukup lama pada bibir ranum istrinya hingga ramai orang bersorak meneriaki keduanya yang sedang berciuman. Sampai akhirnya keheningan menyelimuti. Hanya mengambungkan tatapan satu sama lain. Ini adalah acara La Tarantella, dalam bahasa Indonesia artinya adalah tarantula. Tapi tenang saja, orang Italia tidak menggunakan tarantula dalam acara pernikahan mereka. La tarantella disini berarti tarian tarantula yang dibawakan oleh para tamu undangan sebagai ucapan selamat tinggal kepada pasangan pengantin. Ketika acara pernikahan selesai, para tamu akan saling berpegangan tangan kemudian berputar searah jarum jam.
*
*
"Istirahatlah, kalian pasti sangat lelah," ujar Lazaro dan juga Dayla.
"Kami akan kembali ke Mansion, kalian tetaplah di hotel."
"Si," jawab Andrea dan Marisa kepada pada Dayla dan ayahnya. "Sampai bertemu Ayah, Dayla."
"Sampai ketemu nanti semuanya, aku doakan semoga malam pertama kalian lancar." Dayla menatap Andrea. "Tapi tidak dengan mu Sayang. ingat! Kalian punya bayi."
Mendengar itu Malvin langsung menjadi tidak bersemangat. Pria itu tidak bisa menikmati malam pertamanya.
"Sungguh menyedihkan," gerutu Malvin.
"Maaf, kawan. Tetapi kali ini, kami tidak bisa membantumu," ujar Demetrio.
"Malam ini, nikmati ciuman istrimu dengan baik yah, ingat! Tidak boleh melakukannya."
Kedua pria itu berlari kencang sambil membawa lari para wanitanya dengan tawa riang setelah mengatakan hal menyedihkan itu kepada Malvin.
"Zigo!! Demetrio!! Kembali Kalian! Kurang ajar! Beraninya kalian mengejekku."
"Hahahahah, Sampai nanti! Sampai bertemu di cerita anak-anak kita yah!"
The end .... π
ππππππ.