Endless

Endless
Chapter 19.



Perlahan Malvin membuka matanya, memandang dengan diam wanita yang tertidur membelakanginya. Semua berjalan sesuai yang dia inginkan. Dia tahu, semua yang dia lakukan ini tidak akan membuat Adiknya kembali, dia menyiksa wanita ini tanpa belas kasihan. Bahkan sekarang dia menidurinya dengan paksa, mengambil apa yang seharusnya tidak dia miliki.


"Aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan dengan pria itu, aku juga tidak ingin menyiksamu terus-menerus. Tetapi setiap melihatmu, mendengar namamu, itu mengingatkanku pada kematian adikku."


Keheningan yang menjawab ucapan Malvin, pria itu masih menatap wajah Andrea dengan lekat. Tangannya terangkat menelusuri garis punggung Andrea yang tertidur begitu lelap.


"Kau tahu .... Aku seperti kehilangan nyawa saat dia pergi. Aku bahkan tidak berani memandang diriku sendiri. Membenci diriku karena tidak bisa menjaga dan memahami perasaannya."


Malvin menahan rasa sakit di dadanya dengan memejamkan mata. "Aku tidak bisa membiarkan orang yang menghancurkan impian adikku hidup dengan tenang Andrea. Aku ingin kalian merasakan sebagaimana yang di rasakan adikku."


Tangan pria bertato elang itu kembali mengusap wanita di hadapannya. Memainkan jemarinya pada punggung Andrea yang tidak tertutupi oleh selimut, mengakibatkan pemilik mata abu-abu itu bergerak, membalikan badan menghadap Malvin yang terjaga. Perempuan itu tidur beralaskan tangan Malvin.


Malvin berdecak dengan senyuman. "Kau tidur dengan sangat nyenyak saat orang lain sedang merasa tersiksa," ucapnya menahan pergerakan karena merasa keram pada tangan yang di jadikan bantalan Andrea.


Senyum itu semakin mengembang saat melihat bibir Andrea yang merekah, mengingatkan mereka baru melakukan hubungan beberapa jam yang lalu. Meski dengan keterpaksaan wanita itu membuat dia lelah.


"Kau terlihat seperti seekor udang yang sedang di goreng."


Andrea melengguh tidak nyaman saat Malvin kembali mencium bibirnya.


"Apa benar kau tidak pernah melakukannya dengan pria lain?"


"Ini tidak mungkin."


Malvin bergerak spontan karena kaget, hingga tangannya terangkat, membuat pemilik mata abu-abu itu mulai tersadar. Matanya mengerjap terasa berat, pengaruh alkohol masih menguasai raganya.


"Kau sudah bangun," ucap Malvin di sela ciumannya. Kali ini dia melakukannya tanpa ragu-ragu.


"Huh?" Andrea bergumam dengan kening yang berkerut. Perempuan itu masih belum sadar sepenuhnya.


"Aku harus pergi Andrea. Sepertinya aku melakukan kesalahan besar."


Pria itu mencium bahu Andrea sebelum beranjak, memunguti pakiannya dan keluar dari kamar. Bersamaan dengan tertutupnya pintu, kesadaran Andrea sedikit kembali normal. Andrea meremas selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya, dan meringis tanpa mengeluarkan suara.


"Apa yang sudah terjadi, kenapa seluruh tubuhku terasa sakit. Dan ... Aaaah."


Perempuan Puelba itu menjerit karena merasa sakit di bagian intimnya. Melihat tubuhnya yang tidak terbalutkan pakian membuat dia kembali menjeri, lalu menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. "Apa bajingan itu melakukannya?"


Gadis itu menangis keras, dia seharusnya memberikannya kepada pria yang dia cintai, bukan dengan pria yang sangat dia benci. Dalam tangisannya perempuan itu berharap benih yang Malvin tebarkan tidak tubuh menjadi janin. Mengingat dia belum pernah melakukannya dengan siapapun.


"Kenapa aku harus menjadi budak penanggung dosa bajingan sepertimu. Kau menikmati segalanya dan membiarkan aku menanggung ini semua. Dasar bajingan! Aku membencimu Marco. Aku membencimu!"