Endless

Endless
Chapter 51



Fajar hampir menunjukan dirinya. Namun, udara dingin masih terus menyeruak membuat perempuan bermata cokelat itu meringkuk di balik jerusi besi dengan gaun tipis dengan lengan yang lebarnya hanya seruas jari kelingkingnya.


Arsula mengulurkan satu tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri. Luka tembakannya terasa nyeri, membuat dia tidak bisa tidur. Untung saja Demetrio bisa meluluhkan hati Malvin agar Arsula di pindahkan ke ruangan bawah tanah yang sering di gunakan untuk para tawanan. Jika tidak, malam dingin ini akan dia lewati dengan sangat sulit karena luka dan juga tubuh yang semakin lemah.


Arsula bahkan tidak tahu, apakah Malvin akan memaafkannya dan membiarkan dia tetap hidup ataukah secepatnya dia akan di bunuh. 3 tahun lalu, saat dia berhasil menjadi kekasih Malvin hari-harinya penuh dengan cinta, Malvin begitu menyayanginya lebih dari apapun. Namun, saat Ayah Malvin meninggal, Daisy di asih oleh Malvin, gadis itu selalu bersama Malvin, dia menempel kemanapun pria bermata hitam itu pergi. Arsula bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bermanja atau menikmati hari yang romantis dengan kekasihnya, dia lebih memperhatikan Daisy di banding bercumbu dengannya.


Sampai di saat dia bertemu dengan Marco, kehidupannya pun mulai berwarna kembali. Marco memberikan apa yang dia butuhkan dari Malvin. Tidak di sangka, keakrabannya dengan Daisy yang sering kali di ajak betemu dengan Marco karena tidak ingin Malvin curiga membuat Marco jatuh hati dan menyukai Daisy.


Arsula merasa tersingkirkan lagi, akhirnya dia menghasut Marco dia menawarkan kerja sama untuk mendapatkan semua harta yang di miliki keluarga Alexander. Dan Marco, karena ingin hidup mewah, dia menyetujuinya. Arsula yang terlanjut sakit hati kepada Malvin dan adiknya, akhirnya mulai bersandiwara. Daisy masuk ke daalam lerangkap dan mulai terus menjalani hubungan dengan Marco.


Hingga akhirnya dia mengetahui jika Marco memiliki kekasih lain yaitu Andrea. Arsula yang oebih dulu memgetahuinya memaksa Marco unruk memutuskan Andrea karena jika tida, dia akan melaporkan Marco kepada Malvin dan menggagalkan rencana mereka.


Sejalan dengan itu, Daisy di jebak untuk melihat Marco dan Andrea, membuat Daisy terpuruk lalu memohon agar Marco tetal bersamanya. Kesempatan datang dengan mulus. Marco memberi syarat agar Daisy memyerahkan semua yang dia miliki kepada pria itu. Cinta membuat Daisy buta, dia pun menyerahkan semua kekayaan yang di wariskan padanya tanpa merasa curiga.


Arsula lalu kembali beraksi, dia menghasut dengan Daisy dengan mengatakan pria iru sebenaenya tidak mencintainya, dia hanya memanfaatkan untuk mendapatkan kekayaannya. Karena kecewa, Daysi akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Gadis kecil itu melompat dari lantai 3 kamarnya hingga tewas.


"Bajingan keparat, kau melarikan diri dariku. Seharusnya kau lari bersamaku, aaaaarghh." Arsula menjerit keras saat lukanya kembali sakit. Dia mengatakan semua ini karena Marco. Pria itu melarikan diri begitu saja saat tahu Malvin akan mendatanginya di Milan.


"Seharusnya aku tidak memberitahu mu jika Malvin akan ke Milan, agar pria itu membunuhmu! Dan aku tidak akan merasakan penderitaan ini!"


Karena sakitnya makin terasa, Arsula memiringkan badan, dia bersandar pada lantai dingin berharap nyeri dari lukanya sedikit berkurang. Di saat dia menutup mata, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Dia kembali membuka mata menatap seseorang dari kegelapan yang mendekat ke arahnya.


Sebuah suara yang sangat dia kenal terdengar di pendengarannya. Jantung Arsula memompa dengan cepat. Ketakutan kembali merasuki pikirannya saat wajah yang begitu datar muncul di balik jeruji, bahkan sinar lampu yang redup tak mampu menutup kebencian yang terlihat pada matanya.


"Malvin?"


"Jangan mengira aku sudah memaafkan mu. Aku menempatkanmu di sini karena permohonan Demetrio. Jika kau ingin membalas kebaikannya, lebih baik diam dan patuhi yang dia katakan."


Arsula mengangguk dengan pelan. Diam untuknya adalah pilihan terbaik saat ini. Begitupun dengan Malvin, dia begitu marah dan merasa tidak adil. Semua rasa itu berkumpul menjadi satu. Rasanya ingin secepatnya membunu wanita yang telah menghianatinya ini. Namun, dia menahannya, kali ini dia tidak boleh gegabah. Arsula harus bisa dia gunakan untuk memancing Marco untuk keluar dari persembunyiannya.