
Malvin berulang kali menghebuskan napas kasar, pria itu gelisah menunggu Lazaro yang tak kunjung tiba. Bukan karena takut, hanya lebih kepada rasa gugup karena ini adalah pengalaman pertama dia menemui orang tua kekasihnya. Seumur dia mengencani wanita, hanya Andrea yang bisa membuatnya menemui orang tuanya. Bahkan Arsula yang bertahun-tahun dengannya tidak membuat dia berfikir untuk seserius ini. Selain itu, Malvin juga khawatir, takut jawaban Lazaro nanti akan mengecewakan kekasihnya. Apalagi Andrea sedang hamil, perasaan sensitif kadang selaku membuatnya mendramatis keadaan dengan berlebihan.
Andrea yang melihatnya tiba-tiba mengerti sesuatu. "Sayang .... Jika kau lelah, istirahatlah. Aku akan membangunkanmu saat Ayah tiba nanti," pintanya dengan tatapan lembut Andrea memberikan genggamam penuh cinta pada jemari kekasihnya.
Perjlanan yang mereka tempuh memang sangat jauh, dan Malvin sama sekali belum istirahat karena selama perjalanan dia terus menjaga Andrea dan tidak pernah beranjak dari sisinya. Ia bahkan sama sekali belum tidur sejak meninggalkan Verona.
Malvin menggelang. "Aku bisa menunggu, tidak sopan jika aku meninggalkan kalian sementara aku tidur."
Baru saja ia hendak mengelus kekasihnya suara riuh terdengar dari arah pintu. Itu adalah kedatangan calon mertuanya. Namun, sepertinya di sini bukan hanya ada kedua orang tua kekasihnya saja. Derap langkah terdengar jika lebih dari 1 orang sedang mendekat ke arah mereka.
"Apa kalian mengundang orang lain?" tanya Malvin saat mendengar suara tawa wanita di ikuti derap langkah yang ramai.
Dayla tersenyum menyambut raut wajah Andrea yang juga ingin mengatakan hal serupa. "Tidak, hanya ada keluarga."
"Keluarga?" Andrea bertanya karena tidak mengerti dengan keluarga mana yang Dayla maksud.
Dia memang masih memiliki keluarga dari pihak Ayahnya, hanya saja mereka sama sekaki tidak akur. Mereka sering mempermasalahkan tentang harta dan juga suka mengusik kehidupan pribadinya. Ayahnya juga mulai menjaga jarak saat terakhir mereka membawa gosip bawa dirinya menjadi pemuas napsu dan menjual diri Verona. Tentu saja yang di maksud adalah kepada Malvin.
"Marisa?" Andrea memekik dan langsung berdiri mendekati saudara sambungnya. "Kau di Peulba, dan ...." Mata abu-abunya kembali menoleh pada pria kecil yang sedang menggenggam tangan Lazaro. "Lexi ...." Andrea merentangkan tangan agar anak kecil itu mendekat.
"Apa kabarmu hai pria tampan. Kapan kalian datang?" Rona bahagia terpancar jelas dari mata Andrea saat melihat kedua saudara sambungnya ada di Puelba.
Marisa dan Lexi adalah anak dari Dayla dengan suaminya yang terdahulu. Meski begitu, mereka selalu akrab. Marisa dan Andrea bahkan bukan hanya menjadi saudara tiri melainkan adalah sahabat akrab. Kedua anak Dayla, Marisa dan Lexi tinggal di Malinalco, itu adalah kampung halaman Dayla. Malinalco adalah sebuah kota yang kaya dengan legenda sihir. Kira-kira dua jam dari barat daya Mexico City. Andrea sangat suka ke Malinalco karena kota itu terletak di antara pegunungan dan dikelilingi oleh hutan yang rimbun. Wanita bermanik abu-abu itu sangat menyukai pengunungan, untuk itu dia selalu menghabiskan masa liburannya di sana.
"Aku sangat merindukanmu Marisa." ujarnya memeluk wanita yang umurnya sama dengannya itu.
"Maaf, aku sangat sibuk dengan pekerjaanku dan Lexi juga baru saja mendapatkan liburan. Saat Ibu mengatakan kau akan menikah, kami langsung bergegas datang ke Puelba."
Bibir Andrea mengulas senyum tipis, ia sedikit merasa tidak enak kepada Marisa karena tidak memberitahukannya langsung. "Maaf, aku tidak mengatakannya langsung padamu."
"Oh Sayang. Tidak apa-apa, aku mengerti dengan keadaanmu." Marisa memeluk kembali tubuh saudaranya. Saat berbalik, ia baru sadar jika ada dua pria yang sedari tadi menatap dengan tersenyum kearah mereka. Dan salah satu di antaranya menarik fokus matanya. Pria dengan setelan jas lengkap itu bahkan sama sekali tidak bisa mengekspresikan senyumannya dengan benar. Itu terlihat sangat kaku dan dingin.