Endless

Endless
Chapter 74



Andrea memekik kaget saat punggung kekar itu melopat dari ketinggian yang baginya itu cukup untuk bisa mematahkan kakinya. Pria bermata kelam itu bahkan terguling cukup keras hingga membuat Demetrio secepatnya mendekat.


"Signore."


Bugh ....


Satu pukulan keras mendarat di kepalanya. "Itu karena kau sudah membuat aku ketahuan." Pria itu berlalu tanpa menoleh untuk dia yang sedang menatap dari atas sana. Dan nyatanya Andrea sedikit kecewa karena itu. Dia mengira Malvin akan berbalik dan melihatnya untuk yang terakhir sebelum akhirnya menghilang di balik pepohonan rimbun yang memutus penglihatannya.


"Ketahuan?" Demetrio menatap jauh ke atas sana dan kaget saat melihat sosok wanita dengan rambut yang tergerai karena tiupan angin itu menatapnya dengan datar dari atas sana.


"Andrea?" Demetrio menyamakan langkahnya dengan sang majikan. "Signore, apa kau ketahuan?"


"Jika kau tidak mengirimkan pesan itu maka aku tidak akan ketahuan." Kaki itu melangkah lebar, malam yang sial untuknya. Dia harus meninggalkan Puelba dan kembali segera ke Verona.


Demetrio menghembuskan napas berat, tidak seperti biasanya. Pria di depannya benar-benar berubah, mungkinkah karena sosok wanita yang masih menatap dari jendela itu yang telah melunakannya. Ya, itu adalah janji Andrea padanya sebelum akhirnya dia pergi dan meninggalkan Malvin.


"Di mana mobil kita?"


"Di sana?" ucapnya membawa Malvin ke arah sebaliknya.


"Kau memindahkannya?"


"Sì, aku takut orang akan menyadari jika sudah 2 malam ini mobil itu parkir tanpa penghuni."


Malvin menghembuskan napas pelannya, dia sadar kalimat itu adalah sindiran untuknya. Tanpa peduli dengan tatapan sinis pria yang sedang menyetir itu, Malvin mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Daniel kembali. Namun, pria itu tidak menjawab. Membuat manik hitam itu menatap keluar jendela yang terbuka, menampakkan langit yang gelap.


"Jam berapa kita akan terbang."


"Pukul 3 dini hari Signore."


"16 jam lagi, kita seperti berada di lorong waktu yang salah. Semua terjadi dengan sangat lambat."


Tentu saja kalimat itu mengingatkan Demetrio akan tidak sabarnya Malvin saat Andrea di sekap dan dia terjebak dengan perjalanan panjang yang membuat dia hampir gila karena Malvin yang terus menerus bertingkah menyebalkan.


****


Tepat pukul 7 malam Malvin dan Demetrio tiba di Mansion. Beberapa musuhnya mungkin sedang berpesta pora karena gerakannya yang sedang lambat. Baru saja dia akan melakukan peregangan tulang punggungnya yang tegang akibat lamanya perjalanan pesawat, Demetrio kembali muncul dengan sebuah pesan penting.


"Signore!"


Demetrio menggeleng. "Sella di temukan, dia mengatakan jika Arsula melarikan diri bersama Marco."


"Apa?" Manik hitam Malvin membulat, dia membalikkan badan menatap Demetrio dengan kaget.


"Pria itu masih hidup, Signore."


"Mana mungkin, aku menembaknya tepat di bawa rahangnya, mustahil jika dia bisa bertahan."


"Kita tidak memastikannya sebelum pergi."


"****!!" Umpat Malvin dengan penuh amarah. Segera dia memakai pakiannya, dan keluar menuju ruang bawa tanah di mana Demetrio menahan Sella. Itu adalah tempat saat Arsula di tahan sebelum dia melarikan diri.


Dan ketika Malvin menuruni tangga, Sella menampilkan guratan wajah cemas. Apalagi saat pria itu mulai mendekati jeruji dengan senjata yang menempel pada jemarinya.


"Buka pintunya." Malvin masuk, cepat kilat pria itu membuat wanita di hadapannya menggigil karena todongan senjatanya.


"Si-signore ...?" Suara dan tubuh Sella bergetar hebat.


"Dimana wanita sialan itu?"


"A-aku ...." Sella sungguh ketakutan hingga membuat dia susah mengatur kata.


"Katakan!"


Sella memekik kaget dengan suara Malvin yang seperti harimau yang mengaum karena menemukan lawan. Mata hitam itu seperti api membuat Sella menunduk tidak berani menatapnya. "Aku meninggalkannya di Roma, dia bersama Signore Marco."


"Kau yang menyelamatkannya? Kau berada di sana saat itu."


"Sì."


Tubuh Sella lemas seketika, saat Malvin menarik pelatuknya. Pasokan udara di dadanya sekilas menghilang. Menyisakan tubuh yang terbujur kaku dengan darah yang mengalir menutupi lantai.


"Kau ingin berburu sekali lagi rupanya."


Maaf jaringan lag, aku berusaha Up semoga ini lolos 🙏💜