Endless

Endless
Chapter 59



"Signore?"


"Aku membebaskanmu Andrea, kau bisa kembali pada keluargamu."


"Apa ini lelucon? Kita baru saja melakukannya tadi, dan sekarang kau sudah mengatakan aku bebas. Apa kau sedang mempermainkanku Signore Malvin Alexander?"


Pria itu berdecak dengan tertawa hambar. "Bahkan kau bisa menyebut namaku dengan penuh cinta. Tetapi, kau malah ingin meninggalkanku."


"Apa maksud mu aku tidak mengerti."


"Pergilah Andrea. tinggalkan aku sendiri."


"No! Kau harus menjelaskan ini padaku, sekarang!"


"Apa yang aku harus aku jelaskan, bukankah kau yang sangat menginginkan kebebasan mu itu? Sekarang aku mengabulkannya. Pergila! Kembali ke Puelba dan hiduplah dengan damai bersama keluargamu."


"Tapi, apa salahku?"


"Pergilah!" teriak Malvin dengan sangat keras.


Bagai tersambar petir di siang hari, Andrea berdiri kaku tanpa ekspresi. Sama sekali tidak di percaya bahwa Malvin akan memperlakukannya seperti ini. Andrea mengepal mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?"


Tentu saja membuat pemilik manik hitam itu menggeleng. "Aku hanya mengambulkan permintaanmu."


Andrea kembali merasakan sesak di dada. Dan Andrea bukanlah wanita pembangkang, dengan mencoba tenang dan tidak menampilkan emosi apapun, Andrea menggangguk. Namun, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan air matanya. Andrea melangkah menuju pintu dengan deraian air mata.


Ini terjadi lagi, dia kembali terbuang di saat dia mulai membuka hatinya kembali. Cinta memang membingungkan. Jika boleh meminta, Andrea lebih memilih menjadi seperti Arsula. Di siksa lalu di lenyapkan tanpa harus merasakan hal sesakit ini.


Sama seperti Andrea, Malvin pun begitu hancur, dia berbalik tidak ingin melihat kepergian Andrea Dia tidak menduga pengakuan cintanya di anggap ilusi, dia bahkan mengatakan dengan berani kepada orang lain bahwa dia tidak yakin dengan perasannya. Lalu untuk apa dia membiarkannya menyentuhnya tadi? Untuk apa dia membairkannya mendekatinya.


"Aargh!!" Malvin mengumpat, dia menghancurkan seluruh ruangan, memukul segala apa yang ada di hadapannya tanpa peduli dengan tangannya yang sudah berlumuran darah.


Praang ... Crakc ... Crasng ...Crassh ... Praang


"Aaaa." Andrea berteriak sambil menutup kedua telinganya, Demetrio yang menunggu di luar segera berlari saat melihat Andrea sudah berada di depan pintu.


"Andrea! Apa yang terjadi?"


Perempuan itu menatap Demetrio dengan air mata yang berurai. Dia menggenggam tangan Demetrio dengan erat, menangis sejadi- jadinya di hadapan pria yang sudah membuatnya membuka hati.


"Andrea, tenanglah! Jangan menangis seperti ini."


"Aku pernah mengatakan ini kepda Garilla. Tetapi sepertinya aku harus mengatakannya kembali padamu."


"Andrea ...."


"Sejak aku datang ke Verona, doa yang selalu aku panjatkan adalah agar segera bebas dari tempat ini dan kembali ke Puelba. Namun, saat dia mengatakan bahwa dia menginginkanku, aku sama sekali tidak marah ataupun sedih, bahkan sebaliknya, aku sangat bahagia. Tetapi, kenapa saat dia mengatakan ingin membebaskanku, hatiku terasa sakit, aku terluka dengan kata-kata itu Demetro."


"Andrea ...." Demetrio kembali memanggil dengan lembut untuk menenangkan. Kali ini, dia berperan sebagai sahabat pendengar yang baik.


"Apa itu artinya aku sedang jatuh cinta? Aku ingin terus berada di sini Demetrio, hatiku sudah terpaut dengan tempat ini."


"Tenanglah Andrea, Signore mungkin hanya salah paham."


"Aku yang menyebabkan salah paham ini, mungkin saja dia mendengar saat aku mengatakannya kepada Garilla."


"Apa kau butuh bantuanku untuk menjelaskan?"


Andrea menggeleng masih dengan air mata. "Tidak perlu Dem. Apa yang harus aku lakukan jika dia tidak lagi menginginkanku."