
"Apa kau masih waras, kau tahu Andrea sedang hamil, lalu kenapa kau melakukan itu padanya?"
"Malvin aku tidak sengaja, tiba-tiba saja tanganku langsung mendorongnya." Selena benar-benar kaget, ia tidak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Padahal, ia hanya ingin menakut-nakuti Andrea saja.
"Kau berbohong!" Tatapan nyalang Malvin memperlihatkan bagaimana pria itu sedang menahan amarahnya yang hampir meledak. "Kau selalu mengalihkan segala hal dengan terus berbohong. Jika sesuatu terjadi pada mereka maka aku tidak akan mengampunimu."
"Malvin Aku ---"
"Jangan menyentuhku!" Malvin menepis tangan Selena yang perlahan ingin menyentuh bahunya. Emosi membuat senjata yang selalu ia simpan keluar menyentuh rahang Selena. "Sudah ku katakan sejak dulu jika aku tidak menyukaimu, kenapa kau masih saja keras kepala dan terus melakukan semua ini. Kenapa!"
"Jika kau tahu bagaimana perasaanku, lalu kenapa kau mengabaikannya."
"Karena aku tidak menyukaimu. Apa kau belum sadar? Aku tidak menyukaimu!"
Selena tertawa tangis. "Why! Memangnya apa yang kurang dariku, sehinga kau tidak bisa menyukaiku Malvin. Bahkan jika di bandingkan dengan Andrea, aku jauh memiliki segalanya.
"Kau? Hahahaha." Malvin membalas dengan kekehab yang lebih keras. "Jangan bercanda Selena. Tidak ada dari dirimu yang lebih dari Andrea, bahkan Arsula sekalipun tidak bisa kau bandingkan dengan Andreaku."
"Kau benar-benar sudah di butakan oleh wanita itu, entah pelet apa yang dia gunakan hingga kau seperti tidak waras."
"Bukan aku yang tidak waras tapi kau, kalian. Kau dan Arsula kalian tidak waras. Cinta? Kalian sama sekali tidak pernah mencintaiku. Hanya obsesi akan segala yang aku miliki yang membuat kalian menjadi tidak waras seperti ini. Menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang kalian inginkan. Apa kalian tahu, semua yang kalian lakukan ini bisa membuat orang lain terluka termasuk aku."
Derap langkah beberapa orang yang mendekatinya membuat Selena bingung. "Malvin apa-apan ini?"
"Berhenti bertanya dan enyalah dari sini. Dan ingat. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku."
"Malvin apa yang kau lakukan, tidak! Aku tidak ingin di penjara, Malvin!" Wanita itu meronta tidak ingin di bawah. Ternyata yang datang adalah beberapa petugas dari kepolisian italia yang akan menangkapnya.
"Bawa dia!"
"Malvin ...!" Selena berteriak menahan heels nya agar tidak terseret. "Bukan kah kau harus menangkap Daniel. Kau membutuhkanku untuk melakukannya. Jika kau membiarkan mereka membawaku maka rencanamu akan gagal."
"Aku sudah tidak peduli. Apapun itu sudah tidak penting lagi. Kesalamatan Andrea dan Anakku lebih penting. Dan kau tidak bisa berada di dekat mereka."
"Tidak ... Tidak ... Malvin! Lepaskan aku."
"Nona, harap tenang. Kalau tidak, kami tidak akan segan bersikap kasar padamu," ujar. seorang petugas memberi pengertian kepada Selena yang terus melawan.
"Oh sial! Kenapa malah berakhir seperti ini." Sebelum akhirnya ia di bawah oleh petugas. Selena berteriak keras ke arah Malvin yang menghampiri Zigo yang keluar melihatnya.
"Bye bye Nona Selena. Sampai bertemu lagi, cari aku saat kau bebas nanti," teriak Zigo melambai dengan senyum ejekan membuat wanita itu semakin meronta-ronta.
****
Demetrio memeluk Marisa, menenangkan kekasihnya untuk tidak terus menangis. Ia menoleh pada Malvin yang baru saja datang dan bergabung bersama mereka.
"Dimana wanita tidak tahu malu itu," tanya Marisa masih dengan wajah sedihnya.
"Polisi sudah membawanya."
"Kenapa tidak kau bunuh saja," ujar Marisa menatap kesal. "Kau terlalu lemah Malvin, untuk itu Andrea selalu saja terluka. Rasa kasihanmu membuat orang yang kau cintai terus terluka."
"Marisa benar. Aku sudah memperingati mu soal Selena," tambah Demetrio, sedikit menoleh pada Zigo yang berdiri tidak jauh dari Malvin.
"Kenapa kau menatapku." Zigo dengan wajah polosnya mencoba mengelak dari keadaan.
"Semua ini terjadi karena kau. Kau yang membawa selena masuk ke dalam masalah kita." Sejak awal kedatangan wanita itu memang sudah tidak di sukai olehnya. Namun, karena saran dari Zigo mereka menyetujuinya.
"Bukankah kalian berdua juga setuju, lalu kenapa sekarang malah menyalakanaku."
"Lihat, dia mengelak lagi."
"Karena aku tidak bersalah, seharusnya dia bisa lebih tegas pada wanita itu.Jika dia tergoda dan terjebak, lalu apa aku juga bersalah."
"Kau--"
"Sudahlah! Hentikan!" teriak Marisa melerai. "Ini rumah sakit, kenapa kalian saling menyalahkan. Apa dengan begini keadaan akan kembali baik. Semua ini adalah salah kalian, tidak becus! Hanya satu wanita saja kalian tidak mampu."
Kedua pria itu langsung terdiam. Malvin juga tidak mampu untuk berkata apa-apa. Semua yang di katakan Marisa benar. Jika saja dia bisa tegas dari awal, mungkin Selena tidak akan melakukan semua ini. "Sudahlah, semua ini adalah salahku." Malvin mengangkat wajah menatap Marisa. "Maafkan aku."
*
*
*
Gays ada Giveaway ni buat 2 orang pemenang masing-masing akan dapat pulsa 50K. tapi di novel sebelah yah. Bakal aku umumin tgl 25 nanti. aku bakal ambil 2 top fans 1 mingguan dan 1 bulanan, di Novel aku yang judulnya Rine And Shine. Buruan kasi vote dan dukungan kalian di sana. jangan lupa like dan komentwr sebanyak² nya juga Tekan Fav. agar tiap up selalu ada notif.. 🥰😘💜