Endless

Endless
Chapter 155



Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, acara penyambutan dari keluarga Lazaro pun sudah selesai. Andrea dan Malvin pun kembali ke kamar. Namun, wanita bermanik itu langsung tertidur. Ia bahkan tidak mengatakan apapun dan langsung membaringakan tubuh.


"Andrea, apa kau sedang menghindariku? Sangat aneh kau tertidur pada jam seperti ini. Kau bahkan sering berkeliaran di Mansion karena susah untuk tidur."


Malvin menghebuskan napas kasar saat Andrea tidak merespon panggilannya. Wajah lelap wanita itu membuat Malvin semakin gelisah. Malvin terlihat sedikit kesal karena Andrea yang mengabaikannya dari tadi, entah mungkin karena ia yang sibuk menyapa keluarganya yang datang ataukah memang sengaja karena takut jika Malvin akan memintanya lagi.


"Benar-benar menyiksa, memangnya apa salahku? Tidak ada pria normal yang bisa menahan jika terus berdekatan dengan wanita." Malvin mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia bersandar pada kepala ranjang. Sepertinya, dia benar-benar harus bisa menahan hasrat bercintanya mulai dari sekarang. Manik hitam itu kembali melirik kekasihnya, Malvin memikirkan kembali apa yang di katakan dokter tadi, dia masih bingung dengan apa yang dokter itu jelaskan.


Bahwa dia mengalami gejala dari sindrom couvade. Kondisi ini dianggap sebagai bentuk kehamilan simpatik ketika pasangan lelaki mengalami gejala kehamilan seperti yang dirasakan pasangan wanitanya yang sedang mengandung, tapi hanya gejala, tanpa benar-benar hamil. Memikirkannya saja dia sedikit bergidik. Mana bisa dia mengalami gejala seperti seseorang yang sedang hamil. Dia bahkan merasakan mual sepanjang hari, mulai dari pagi hingga sore ini.


Malvin menghembuskan napas panjang, kehamilan Andrea baru memasuki trimester pertama, jadi artinya dia harus menahan rasa mual dan tidak enak ini selama beberapa waktu, Dokter menerangkan jika ini akan hilang setelah memasuki trimester kedua. Bahkan dia tidak bisa menjauh dari Andrea karena aroma tubuh wanita itu lebih menenangkan dari obat dan vitamin yang Dokter berikan.


"Aaarrgh, Malvin ... Malvin ... Kesetiaanmu sedang di uji sekarang. Kau harus kuat menahan semua ini," pekiknya menatap mata Andrea yang masih saja tertutup. Namun, semakin ia bertekat semakin membaut naluli lelakinya meronta-ronta.


"Andrea, apa kau tidak kasihan padaku?" Hatinya ternyata kembali goyah, padahal baru saja dia bertekat untuk menahan.


Andrea membuka mata pelan, ia beringsut menatap kekasihnya yang menampilkan mimik wajah sedih. Hal itu langsung membuat Andrea tertawa. "Hentikan, wajahmu membuatku ingin terus tertawa."


Malvin membulatkan mata menatap Andrea. Mata hitamnya berbinar. "Kau mendengar panggilanku?"


"Cih!" Andrea berdecak. "Panggilan atau permohonan, kau seperti anak kuncing yang di tinggalkan oleh induknya meraung-raung tiada henti."


Malvin mendekatkan jarak yang sedikit jauh antara keduanya, ia meraih tangan Andrea dan menggenggam nya dengan lembut. "Kau terlihat sangat cantik ketika baru bangun, aku memang tidak salah memilih pasangan."


"Jangan merayuku," ucap Andrea melotot ke arah Malvin.


Malvin tersenyum manis, begitu manis hingga membuat detak jantung Andrea berpacu. Ia mati-matian menahan gelora di dalam dadanya karena tidak ingin Malvin melihatnya. Sama seperti Malvin, ia juga tidak bisa menahannya. Namun, mengingat wejangan yang di berikan Garilla sedikit khawatir. Ia takut akan menghancurkan impian Malvin. Pria itu sangat ingin memiliki seorang anak, dan Andrea takut karena hasrat dan nafsu sesaat semua impiannya menjadi hancur.