
"Marisa!"
Wanita yang gemar melukis di jalanan itu menoleh ke belakang saat mendengar suara berat yang sangat ia kenal memanggil namanya. Sorot matanya tajam mengarah pada Demetrio yang melangkah dengan tersenyum ke arahnya. "Si wajah dingin. Ada apa dia mencariku?"
Meninggalkan dokter yang sudah berpamitan pergi, Marisa melangkah mendekat hingga keduanya bertemu tepat di depan pintu masuk Mansion. "Apa kau membutuhkan sesuatu hingga memanggilku Tuan Es?"
"Tuan es ...." Demetrio menjedah ucapannya. ia mengerang kesal di dalam hati, kesal karena Marisa yang terus saja mengatakan dia pria dingin seperti es.
Sejujurnya, jika bukan karena Malvin ia pun enggan melakukan ini. Hubungannya dengan Marisa sudah tidak akur dari awal pertemuan mereka. Dan sekarang, dengan gagahnya dia menawarkan diri untuk mengatasi wanita arogan ini. Entah apa alasan yang harus ia gunakan sekarang untuk menahan Marisa sampai Malvin selesai dengan urusannya. Salah-salah, malah dia yang akan kena amukan wanita itu.
"Bisakah kau menemaniku membeli bunga? Andrea meminta bunga tulip sebagai syarat agar bisa mendapatkan maafnya. Untuk itu Malvin memberiku saran agar mengajakmu membeli bunga tulip untuk Andrea. Dia mengatakan kau tahu di mana toko bunga yang menjual bunga tulip di Puelba," ujar Demetrio berbohong. Bahkan jika Marisa menyadarinya dia masih punya alasan yang lain. Andrea menyukai bunga dan Marisa pasti tahu akan hal itu. Tidak mungkin bukan dia menolak untuk membuat hubungan saudaranya membaik.
"Kau ingin aku menemanimu?" Kening Marisa berkerut sebagai jawaban bahwa dia benar-benar tidak percaya. "Apa kau tidak bercanda, aku mengatakan jika aku sangat tidak menyukai mu. Lalu, untuk apa kau mengajak ku? Dasar bodoh!"
"Jadi kau tidak mau menemaniku?"
"Tidak!"
"Tapi ini adalah permintaan Andrea!"
"Tidak!" Marisa berdecak, ia menghentakan kakinya ke lantai, mengatakan dengan isyarat bahwa dia benar-benar tidak akan ikut.
"Hei! Apa yang kau lakukan aku tidak ingin menemanimu!" protes Marisa saat Demetrio menyeretnya ikut masuk ke dalam mobil.
"Diamlah! ujar Demetrio. "Kau hanya perlu mengantarku untuk membeli bunga, setelah itu kau bisa melakukan apapun yang ingin kau lakukan." Demetrio menyalakan mobil Lazaro yang ia pinjam dari Dayla untuk membantu Malvin mencarikan baju tadi pagi.
Marisa mendengus kesal. "Memangnya siapa kau? Berani sekali mengatur apa yang harus aku kerjakan." Marisa hendak beringsut dari tempat duduknya untuk keluar. Namun, Demetrio dengan cepat mengunci mobil dari dalam. "Apa yang kau lakukan? Buka pintunya!"
"Dasar pelit, menunjukkan jalan saja tidak mau. Apa kau mau aku laporkan kepda Tuan Lazaro karena memperlakukan tamu dengan kasar?"
"What?" Marisa terkekeh ia mencondongkan tubuhnya ke hadapan Demetrio. "Apa kau sedang menakutiku dengan membawa-bawa nama ayahku?"
Demetrio berdecak. Ia menyentil dahi Marisa dengan jarinyan. "Kau sepertinya harus belajar menjadi wanita yang lembut. Jodohmu akan menjauh jika kau sekasar ini kepada pria."
"Bukan urusanmu mengatur jodohku, buka pintunya atau akan berteriak," ujar Marisa mengancam.
"Lakukanlah jika kau bisa."
Demetrio menginjak pada pedal gas, dan mobil hitam mengkilap itu melesat dengan kencang menuju pusat kota. Sungguh, ini adalah hal tergila yang pernah ia lakukan dengan seorang wanita.