
"Apa ada kabar tentang keberadaan Daniel?"
Malvin menggeleng pelan. Raut wajahnya tampak sangat gelisah. "Bagaimana dengan Tuan Amer, apa sudah bisa menghubunginya?"
"Si. Dia bersedia membantu jika Daniel benar-benar melapor kepada pemerintah."
Amer adalah salah satu orang kepercayaan Malvin di pemerintahan yang sering membantu segala urusan Dea dela morte. Sebagai imbalannya Malvin harus menjamin keselamatannya dan juga anggota keluarganya. Banyak anak buah dari Deo dela morte yang menjadi bodigar dan juga pengawal pribadinya. Mereka semua sudah terlatih dalam kondisi apapun.
"Sudah kau pastikan? Akhir-akhir ini banyak penghianat yang berkeliaran di sekitar kita. Kau harus pusatkan semua untuk setiap anggota Dio dela morte agar mereka terkontrol. Katakan pada Agrio agar melaporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan," perintah Malvin. "Dan lagi, Andrea tidak boleh tahu akan hal ini, aku takut dia akan khawatir."
"Si, aku mengerti."
"Malvin, apa sebaiknya kau menunda pernikahan mu dulu? Aku takut Daniel akan berontak saat kita lengah."
"Aku tidak bisa, Andrea sudah sangat menantikannya. Lagi pula dia sedang hamil, kondisi seperti ini akan membuat dia stres dan itu tidak baik untuk janninnya," ujar Malvin lirih, pria itu menundukkan wajahnya.
Zigo dan Demetrio saling memandang, kedua pria itu juga tidak bisa bertindak yang lebih karena Malvin melarang untuk bertindak gaduh. Pergerakan mereka sedang di awasi, jadi dengan terpaksa harus bergerak dengan diam. Malvin berusaha tidak terlihat agar semua anggota klannya aman.
"Sudah ku peringati agar kau meninggalkannya di Puelba, lalu kenapa kau membawanya. Bahkan menambahkan satu anggota baru." Zigo sedikit melirik Demetrio saat kalimat terakhir ia ucapkan.
"Apa maksudmu, apa kau sedang menyindir kekasihku? Dia saudaranya Andrea, apa salah jika dia datang ke sini? Dia di undang, bukan datang seperti pencuri," ujar Demetrio dengan mengepalkan tangan. Dia tidak terima jika Zigo menyinggung tentang kehadiran Marisa. Apalagi, Marisa datang karena keinginan Andrea dan Demetrio berjuang memenangkan hati kedua orang tuanya karena itu.
"Siapa lagi."
"Kau!" mata Zigo memandang nyalang.
"Hentikan!" Malvin memukul meja dengan keras sesaat ketika Tangan Zigo hendak mendarat ke wajah Demetrio. "Ada apa dengan kalian berdua, kita sedang membahas Daniel, kenapa kalian malah bertengkar."
Demetrio menepis keras tangan Zigo yang mencengkeram kerak bajunya. "Belajarlah untuk tidak menyakiti orang lain dengan kata-katamu Zigo."
Demetrio mengibas bagian depan kemajanya lalu mengangkat tatapan tajam ke arah Zigo. Ia tahu jika saudara sahabatnya itu masih menyimpan dendam kepadanya karena Paris. Padahal dendam antaranya keduanya sudah cukup lama. Namun, pria berkulit cokelat ini masih saja mengungkit-ungkit hubungan masa lalunya bersama Paris. Padahal ia jelas tahu jika Demetrio sudah melupakannya. Tidak di pungkiri jika perasannya jiga sangat sakit saat Paris meninggalkannya dan memilih bersama Zigo. Namun, dulu mereka masih sangat mudah, dan hal seperti ini sangat lumrah meski efek darinya membuat dia tidak mudah lagi mempercayai wanita.
"Ya Tuhan, apa sekarang kalian berdua akan beradu tatapan?" Malvin membuang napas kasar. "Baiklah, jika kalian tidak ingin membantu ku. Biarkan Daniel datang dan menghancurkan kita semua. Kalian berdua teruskanlah, teruskan." Tangan kanan Malvin menjulur mempersilahkan Zigo dan Demetrio untuk melanjutkan perdebatan mereka. Ia memilih bersandar menutup mata dari pada menatap kedua pria di depannya yang sama sekali tidak mengerti jika keadaan mereka sedang mendesak dan tidak baik-baik saja.
"Maaf." Demetrio kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Zigo, pria itu memilih keluar dari ruang kerja Malvin untuk menenangkan emosinya.
"Aku akan segera kembali."
"Zigo!" Malvin meneriaki saudaranya agar tidak ke mana-mana. Namun, sepertinya tidak berhasil. Melihat emosi saudarnya yang seperti itu membuat dia kembali membuang napas panjang. "Kenapa dia tidak bisa sedikit saja menahan emosinya, dan kau!" Malvin menoleh ke arah Demetrio. "Bisakah kau tidak terpancing dengannya, kalian sudah tidak lagi menjadi anak kecil. Berhenti bertingkah seperti itu."
"Aku minta maaf." Pria berdarah Prancis itu menunduk. Menyesal telah memulai pertengkaran dengan Zigo. Entahlah, ada rasa yang berbeda saat pria itu menyudutkan Marisa. Padahal, biasanya ia selalu tenang menanggapi bualan Zigo.