
Malvin meremas pelan benda yang menempel indah pada dada Andrea, bermain pelan di sana hingga wanita bermanik abu-abu itu bergetar hebat menahan erangan. Malvin menyunggingkan senyum di ujung bibirnya melihat wanita di dalam kukungannya begitu tidak bisa menyembunyikan gairahnya. Kini ia tahu, jika semua yang dia baca tentang wanita hamil itu bukanlah mitos semata. Memang benar adanya, gairah wanita yang sedang dalam masa kehamilan akan meningkat dua kali lupat dari biasanya.
Saat kehamilan, hormon estrogen, progesteron, kortisol, dan testosteron ternyata ikut mengalami peningkatan. Maka perubahan fisik dari seseorang yang hamil juga mengalami peningkatan gairah seks. Dengan semua peningkatan kepekaan itu, tidak heran jika dorongan **** Andrea bisa melonjak tidak seperti biasanya.
Maka sebaiknya Malvin manfaatkan waktu ini dengan sebaik mungkin karena yang ia tahu berhubungan intim selama kehamilan adalah cara yang baik untuk tetap terhubung secara mental, emosional, dan fisik. Begitulah yang ia baca saat mencari tahu tentang kehamilan di internet. Malvin juga mempelajari posisi-posisi apa saja yang aman untuk bercinta dengan ibu hamil, semua itu ia lakukan demi keamanan bayi nya dan juga kenyamanan Andrea juga kepuasan untuk didirnya sendiri.
"Kau terlihat sayang menggoda malam ini," ujar Malvin sesaat setelah selesai bermain di bagian favoritnya.
"Benarkah?" Tanya Andrea menempelkan jemarinya di leher Malvin, menggoda dengan menariknya lembut turun di bagian pinggangnya, hingga membuat pria bermata hitam itu mendesis.
Tidak tahan dengan godaan itu, secepat kilat Malvin menerkam bibir Andrea dengan sangat buas. Andrea terkekeh di sela ciuman Malvin. Namun, saat tangan Malvin mulai bermain di bagian pahanya tubuh Andrea jadi menegang. Ia merasakan sensasi yang tidak biasa saat Malvin mulai bermain-main di sela pahanya.
"Malvin ku mohon ...."
Malvin menatap Andrea yang sudah tidak berdaya lemas dengan rangsangannya. Ia mendorong tubuhnya mundur hingga posisinya duduk tepat dia atas bagian sensitif milik Andrea.
"Arrrgh," erang Malvin saat keduanya menyatu. Kini ia kembali mengatur napasnya yang menderu dengan menggoyangkan pinggulnya perlahan-lahan agar Andrea merasa nyaman. Malvin melakukannya Dengan lembut dan sangat perlahan sambil mencium bibir Andrea yang semakin mendesis di bawahnya.
Namun, Malvin bergerak cepat memagut bibir Andrea dan meredam erangannya. Ini masih belum terlalu malam, pasti para penghuni belum semuanya tertidur, apalagi kamar Andrea berada tepat di ujung koridor. Suara yang mengaung tentu akan terdengar jelas di malam hari.
"Sayang, pelankan suaramu sedikit. Eranganmu akan terdengar keluar," ujar Malvin masih dengan menggerakan pinggulnya di atas Andrea.
"Kurasa aku .... Aaahh ...." Andrea sampai pada klimaksnya, ia meremas kepala Malvin dengan kedua tangannya dengan napas memburu. Begitupun dengan Malvin, pria bertato elang itu mengeram panjang saat mencapai puncak kenikmatannya.
Malvin membuang napas panjang, melepaskan diri dari Andrea dan berbaring di samping kekasihnya. Peluh keringat bercucuran pada kening keduanya. Malvin lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka menyingkirkan sejumput rambut basah yang menghalangi wajah Adrea. "Kekasihku sungguh luar biasa malam ini."
Andrea tersenyum malu-malu, pipinya memerah karena membanyangkan kembali percintaan yang baru saja selesai.
"Apa kau menginginkannya lagi?"
Andrea membeliak. "Oh God! Tidak!"
Malvin tertawa geli sambil mencium pipi Andrea. "Terima kasih telah menjadi bagian hidupku," ujar Malvin tersenyum bahagia.