Endless

Endless
Chapter 101



"Baiklah Sayang, aku harus mandi. Ada urusan yang harus aku selesaikan bersama Demetrio."


"Kalian akan keluar?"


"Sì, kami akan menemui seseorang hari ini. Kau harus di rumah Andrea, aku tidak mengijinkanmu untuk keluar Mansion sampai aku kembali."


"Apa aku tidak boleh ikut?"


Malvin menggeleng sambil melangkah ke kamar mandi. "Ini urusan laki-laki, kau tidak bisa ikut Sayang."


Andrea memoncongkan bibirnya. "Baiklah," jawabnya sedikit cemberut.


Dia kembali berbaring sementara menunggu kekasihnya menyelesaikan mandi. Lama menunggu akhirnya wanita itu ketiduran. Ia tidak bisa menahan rasa mengantuknya, semalam dia bahkan tidak bisa tertidur sama sekali karena memikirkan keadaan pria bermata hitam itu. Di tambah lagi Demetrio yang seperti menghantuinya, wajah dan suara pria itu terngiang membuat dia semakin kesal hingga tidak bisa memejamkan mata.


"Ya Tuhan! Apa ini dia calon istriku? Kenapa dia tertidur di jam seperti ini." Malvin menggeleng dengan terkekeh menuju walk in closed, dia keluar setelah memakai setelan pakaian yang membuatnya semakin terlihat gagah. Dia menggenakan kaos putih polos dan jaket kulit hitam, itu terlihat pas menempel pada tubuh atletisnya.



Malvin mengecup sebentar pada bibir kekasihnya, wanita itu tertidur dengan mulut yang terbuka, membuat Malvin harus mencubit bibirnya agar mulutnya sedikit tertutup. Dia keluar setelah menyelimuti Andrea, dan memastikan pendingin ruangan berada di suhu yang pas untuk kekasihnya.


"Apa yang kalian bicarakan di dalam sana?"


Malvin terhentak kaget saat Zigo tiba-tiba muncul di balik punggungnya saat dia sedang menahan napas menutup pintu agar tidur Andrea tidak terganggu. Dia menyeret saudaranya itu menjauh. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Hei! Santai Brother, tidak perlu sekasar ini."


"Tutup mulutmu dan enyalah dari tempat ini, jangan membuat kekacauan di Mansionku."


"Katakan, sedang apa kau di Mansionku."


"Di mana Andrea? Aku datang untuk menemuinya, apa dia baik-baik saja?"


"Dia sedang tidur."


"Di mana, di kamarmu? Aku akan melihat--"


"Zigo!!" Malvin mengetatkan rahangnya menatap tajam pada pria yang selalu memulai perang dengannya itu. "Pergi dari sini sebelum amarahku benar-benar aku luapkan padamu."


Zigo tersenyum. "Pria bodoh! Aku hanya ingin melihatnya bukan mau menidurinya."


"Tutup mulutmu, dan pergilah dengan tenang. Andrea bukan Arsula yang bisa kau tiduri kapan pun kau mau Zigo. Dia milik ku, dan hanya akan menjadi milik ku."


"Wow! Kau tahu tentang aku dan Arsula? Lalu kenapa tidak mengatakannya Brother, apa itu yang membuat kau selalu tidak meyukaiku? Kau membuatku tidak enak hati sekarang."


Pria bermata hitam itu berdecak. Dia melangkah pelan mendekat pada saudara laki-lakinya, menyunggingkan senyum licik tepat di kuping kirinya. "Jika kau bukan saudaraku, sudah ku lenyapkan saat tahu kau meniduri kekasihku, dan sayangnya wanita yang kau tiduri itu tidak lebih berharga dari senjata-senjata ku. Jika tidak, kau tidak akan muncul sekarang di hadapanku. Dan ku peringati untuk tidak mendekati Andrea."


Malvin berlalu pergi setelah mengatakan semua itu. Kini dia harus berhati-hati, Andrea tidak boleh dekat atau bertemu dengan Zigo, itu akan berakibat fatal jika mereka saling mengenal.


Zigo menelan ludah kasar melihat kepalan tangan Malvin, wajah itu benar-benar marah, meskipun sebelumnya mereka selalu seperti ini. Namun kali ini tatapan Malvin berbeda. Zigo pun tidak pernah mengira jika Malvin tahu akan hal itu. Namun, seperti tertantang, pria yang menyukai **** itu tidak akan mengubris peringatan Malvin.


"Sepertinya ini akan sangat menarik jika aku sedikit bermain-main dengan Nona manismu itu."