Endless

Endless
Chapter 68



Kediaman Andrea sedang di selimuti duka saat ada yang menemukan Dayla bersimbah darah di taman dan Andrea yang menghilang. Dayla belum sadar sepenuhnya membuat teka teki panjang di benak Lazaro, mengira yang tidak-tidak untuk putrinya. Beruntung seseorang dari suruhan Demetrio datang dan menjadi saksi jika Dayla tertembak oleh sekawanan perampok bertopeng dan mereka membawa pergi Andrea.


Lazaro bernapas legah, setidaknya pelaku penembakan bukanlah putrinya. Namun, dia kembali cemas karena sampai siang ini, polisi belum memberi kabar tentang Andrea. Daniel dan para anak buah yang di perintahkan Malvin juga belum sampai di kediaman Lazaro. Malvin juga melarang untuk menghubungi polisi atau siapapun agar tidak timbul banyak pertanyaan.


"Sam, Bagaimana keadaannya?"


"Pelurunya tidak mengenai organ penting, beruntung dia di bawa kemari sebelum kehabisan darah."


"Dios mío, no puedo imaginarme perder a Dayla. (Tenanglah Lazaro, Dayla akan baik-baik saja." Sam menepuk pundak sahabatnya, dia memiliki hubungan yang baik dengan Lazaro, jadi dia tahu bagaimana pria ini akan sangat cemas jika ada keluarganya yang terluka seperti ini.


"Terima kasih telah meneolong Dayla Sam. Aku berhutang kepdamu."


"Itu adalah tugasku, dan kau adalah sahabatku. Sudah sewajarnya aku melakukan yang terbaik."


"Yah, kau benar. Kita memang harus melakukan yang terbaik untuk orang terdekat kita, dan aku yakin. Dayla sudah melakukannya."


"Lalu bagaimana dengan Andrea, apa sudah ada kabar tentang dia?" Samy kembali bertanya.


Pria tua itu menggeleng, wajahnya tampak muram saat Sam menyebut nama Andrea. "Aku tidak tahu kemana orang-orang itu membawanya."


"Apa kau kenal dengan mereka, atau kau punya musuh di luar sana yang tidak kau ketahui."


Lazaro mengerutkan keningnya. "Musuh? Aku bahkan tidak pernah mencari masalah dengan siapapun Sam, kau tahu itu. Aku adalah orang yang menginginkan ketenangan."


"Kau sudah mencari orang untuk mencarinya?"


Lazaro mendesah. "Aku hanya membuat laporan di kepolisian, semoga mereka segera menemukan putriku."


"Baiklah, aku harus memeriksa pasien lain, kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu atau ada kabar tentang Andrea." Sam menepuk bahu sahabatnya sebelum pergi yang kemudian di balas anggukan kecil dari Lazaro.


Sepeninggalan Sam, Lazaro berfikir sejenak tentang Malvin, apa semua ini ada hubungannya dengan pria itu. Namun, ia menepis pikirannya itu kembali, mana mungkin karena Malvin. Andrea kembali tepat setelah 3 bulan dan salah-satu anak buah terbaiknya membawa pulang putrinya. Lazaro mendesah dengan napas berat.


"Ayah berharap kau segera kembali."


Sedetik setelahnya, dia mendapat panggilan, mereka mengabarkan bahwa Andrea sudah di temukan, dia tiba di rumah dengan selamat. Hanya saja dia masih hilang kesadaran dan sedikit terluka.


"Sam!!" Lazaro berteriak girang hingga tidak sadar jika dia sedang di rumah sakit. "Maaf, maafkan aku." Dia tertunduk malu saat beberapa pengunjung menatapnya dengan tatapan marah.


"Benarkah! Oh God, syukurlah."


"Dia sedikit terluka, apa kau bisa mampir untuk melihatnya."


"Sì, tentu saja."


*****


Waktu menunjukan pukul 8 malam, dan wanita itu belum juga sadar, dan Malvin seakan tidak ingin menjauh dari kekasihnya dia menanti dari kejauhan, menatap jendela yang lampunya tidak pernah padam dengan tatapan dingin.


"Aku tahu ini tidak benar, tapi untuk saat ini aku takkan menjauh darimu. Sadarlah! Perlihatkan wajah ceriamu Andrea, aku benar-benar merindukan wajah itu."


"Signore."


"Sedikit lagi Demetrio, beri aku waktu sedikit lagi. Aku ingin memastikan jika dia baik-baik saja."


"Apa kau ingin makan sesuatu Signore? Kau menolak semua makanan yang di sediakan waktu di pesawat, aku pikir kau--"


"Apa kau lapar?" Malvin memotong ucapan Demetrio. Dia baru sadar jika teman terbaiknya itu juga belum memakan apapun semenjak mereka berangkat ke Puelba.


"Sedikit," jawab Demetrio singkat.


"Kalau begitu pergilah, aku akan menunggu di sini."


"Kau butuh sesuatu Signore, aku akan membawanya saat kembali nanti."


"Tidak."


"Kau tidak apa-apa aku tinggalkan?"


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."


Setelah Demetrio pergi, pria bermata hitam itu kembali fokus menatap jendela. Berharap bayangan seorang wanita muncul di sana. Namun, lagi-lagi, itu hanya sebuah harapan. Entah apa yang membuat wanita bermata abu-abu itu terlelap tanpa tahu seseorang sedang menantinya dengan khawatir.