
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, Demetrio."
"Aku?" Demetrio menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk. "Aku rasa tidak ada hal penting saat ini yang akan kita bicarakan, bukankah ssmua sidah di jelaskan oleh Zigo."
"Aku ingin bicara tentang masalah Andrea."
Dahi Demetrio semakin mengerut. "Andrea? Apa sesuatu terjadi padanya?" Demetrio bertanya dengan wajah serius. Pria dingin itu bahkan tidak menyadari jika ialah penyebab kekesalan Andrea.
"Apa kau tidak sadar jika kau sudah membuatnya kesal?"
Sekali lagi Demetrio terkejut dengan kerutan di dahinya. "Apa hubungannya kekesalan kekasihmu dengan diriku, mungkin saja karena dia bertemu Zigo saat kita sampai. Mana mungkin itu aku." Demetrio berkelit jika kekesalan Andrea adalah karena dirinya.
Malvin menyapu wajahnya kasar, berbicara perasaan dengan orang kaku seperti Demetrio memang harus butuh penjelasan panjang lebar. Entah sudah berapa abad pria dingin ini tidak berperasaan, hingga menyadari telah menyakiti wanita saja tidak bisa.
"Dasar pria bodoh, seharusnya, selain mengajarinya memahami ssnja, harusnya aku mengajarinya bagaimana memikat dan memahami wanita." Malvin membatin kesal di dalam hati. "Sudahlah, inti dari pembahasan ini adalah, biarkan Andrea bicara dengan saudaranya. Berikan mereka waktu, kau membuatnya kesal karena terus memonopoli Marisa."
"What? Jadi kekasihmu kesal karena hal itu?"
"Tentu saja dia membawa Marisa untuk menemaninya, bukan untuk terus bersamamu," ujar Malvin setengah berteriak. Harusnya dia mengataknnya dengan pukulan agar Demetrio bisa cepat menyadari kesalahannya. Keegoisannya melindungi Marisa dari jarahan pria nakal seperti Zigo membuat kekasihnya tidak memiliki waktu bersama saudaranya itu.
"Tapi Marisa adalah kekasihku, wajar jika dia terus bersamaku."
Malvin berdecak dengan tertawa hambar. "Kalian baru saja resmi menjadi kekasih, belum seminggu kau sudah mengatakan wajar jika kalian bersama? Oh astaga Demetrio, kau lebih buruk dari pada diriku."
"Ahahahahaha." Suara gelak tawa Demetrio terdengar nyaring. "Aku pikir, kita berdua adalah pria yang sama-sama buruk. Kita jatuh cinta dan menjadi tidak terkendali karena wanita. Aku bahkan hampir mematahkan alat kelamin saudaramu karena cemburu."
Mata Malvin terbuka lebar dengan raut wajah yang hampir tidak percaya. "Ahahahahh .... Aaaaah .... Hahahah. " Malvin tergelak dengan rawa yang cukup keras. Bagaimana bisa Demetrio melakukan itu pada pria Casanova itu. "Oh Tuhan! Kau membuat perutku sakit Demetrio. Jika kau memarahkannya lalu bagaimana bisa dia bersenang-senang dan menaklukan wanita-wanita di luar sana. Hahahahaha!!"
****
"Sayang." Malvin duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut Andrea dengan lembut
Senyum mengembang di bibir Malvin. "Aku sedang membahas pekerjaan dengan Demetrio tadi, maaf tidak memberi tahumu."
Andrea mengerucutkan bibirnya, mencebik keras di dalam hati. Karena Demetrio Lagi dan lagi, pria itu seakan ingin mengambil semua orang yang berada di sisinya.
Melihat wajah andrea yang masih murung, Malvin segera menundukkan wajahnya mencium bibir Andrea dengan lembut. "Maafkan aku."
Dan tiba-tiba, seringai licik muncul di wajah cantik itu. Andrea menengadah, menatap wajah Malvin dengan senyum terbaiknya. "Sayang? Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
Malvin tersenyum sambil mengangguk pelan. "Si, katakanlah. Permintaanmu adalah keinginanku."
"Bolehkah kau memberikan Demetrio sebagai pengawalku? Hanya 1 bulan, setelah ketika menikah kau bisa mengambilnya kembali."
Malvin tersenyum tipis. "Apa kau ingin--"
"Suuttt."Andrea menemoatakan jemari twlunjuknya di bibir pria bermata kelam itu. Dia hanya akan ku beri peringatan agar tidak semena-mena padaku. Jika kau tidak mengijinkannya maka aku tidak akan tidur sekamar denganmu."
"Sayang ...."
"Aku juga tidak akan berbicara denganmu." Andrea memutar setengah wajahnya dengan melipat kedua tangan di dadanya sebagai tanpa bahwa ia bersungguh-sungguh.
"Andrea, lelucon apa ini. Demetrio adalah tangan kananku, jika dia terus bersamamu lalu bagaimana dengan pekerjaannya."
"Dia bisa melakukannya seperti biasa, aku membutuhkannya jika semua tugas darimu sudah selesai. Aku janji tidak akan mengganggu pekerjaanmu."
Malvin menghela napas berat, jika menolaknya ia takut jika Andrea akan semakin merajuk. Apalagi kalian tahu bukan, wanita hamil ini sangat sensitif ðŸ¤. "Aku tidak mengiayakan keinginanmu karena itu salah. Tapi juga tidak bisa menolakmu karena aku berjanji mengabulkan keinginanmu."
"Lalu?"
"Lakukan sewajarnya, jangan mengikuti emosimu. kau mengerti."