
Malvin mengumpat saat mendapati tubuhnya basah kuyup. "Oh S*hit! Apa-apan ini Sayang. Kenapa kau menyiramku."
"Kenapa? Apa kau tidak suka karena aku membangunkanmu dari mimpi indahmu bersama Selena."
Malvin mengerutkan wajahnya. Menurunkan kakinya dan beranjak dari atas ranjang basah itu. "Untuk apa aku memimipikan wanita itu, lebih baik aku memimpikan mu dan anak kita," ujar pria bermata abu-abu itu dengan tersenyum lebar. Dia memeluk tubuh Andrea dari arah belakang.
"Dasar pria tidak setia," umpat Andrea melepaskan pelukan kekasihnya lalu melempar sibur kecil yang kemudian di tangkap oleh Malvin.
"Sayang ...."
"Berhenti memanggilku Sayang. Dan segera bersihkan tubuhmu. Aku tidak suka ada bekas wanita lain yang menempel padamu."
"Sayang, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak! Aku tidak akan memafkanmu."
Malvin tergelak, bibir pria iru tersenyum dengan bahagia. Setidaknya Andrea tidak benar-benar memarahinya. Dan Selena, gadis itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Menaru obat pada minuman mereka itu sudah sangat melanggar aturan dalam persahabatan mereka.
****
Melihat wajah Andrea yang tampak begitu kesal, membuat Malvin harus secepatnya memberi penjalasan. Pria itu masuk ke dalam walk inclosed dan keluar dengan kaos putih dan celana pendek hitam membuat dia semakin terlihat tampan.. Hari ini adalah akhir pekan, ia ingin menghabiskan satu hari penuh bersama Andrea. Mungkin saja dengan begitu kemarahannya akan sedikit meredah.
"Selana adalah sahabtku sejak dulu, aku pikir dia hanya iseng karena mungkin sudah lama kita tidak bertemu. Aku benar-benar tidak menyangka dia menaruh obat itu di minuman kami."
"Benar-benar tidak tahu?"
"Tentu saja."
"Tapi ku lihat kau sangat menikmatinya, kau membalas ciumannya," ujar Andrea dengan yang melotot.
"Tidak mungkin, aku bahkan tidak sadarkan diri," elak Malvin.
Andrea, tertawa hambar. "Jangan mengujiku Malvin, aku lihat dengan kedua mataku. Kalian bercumbu di depanku, apa kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Sakit, aku benar-benar sakit hati melihat bagaimana kekasihmu membelai wanita lain. Kau bahkan mengabaikan semua panggilan dan pesanku."
"Tunggu!" Malvin mencari ponselnya. Ia ingin memastikan jika apa yang di katakan Andrea itu benar. Seingatnya Andrea sama sekali tidak menghubungi atau mengirimkan pesan untuknya.
"Apa yang kau cari?"
"Ponselku? Di mana ponselku."
"Ponselmu?" Andrea ikut mencari, dia juga baru menyadarinya jika ponsel Malvin sejak pulang subhu tadi tidak ada.
"Tidak, aku tidak mungkin meninggalkannya. Demetrio juga tidak mungkin memegangnya, dia sibuk menerima panggilan Marisa semalam.
"Itu adalah panggilanku, bukan Marisa."
"Huh?" Malvin terkejut. "Kenapa kau memanggil Demetrio, bukankah kau bisa menghubungiku Sayang?"
"Sudah kukatakan, aku tidak bisa menghubungi ponselmu, pesan yang aku kirimkan bahkan tidak kau balas."
"Mana mungkin aku tidak membalasnya jika itu pesan darimu Andrea, kapan aku pernah mengabaikan pesanmu." Malvin berbalik kembali mencari ponselnya. Ada sesuatu mengganjal tentang kejadian semalam. Ini seperti terencana.
"Ini sangat mencurigakan. Apa seseorang sudah mencuri ponselmu?"
"Mencuri bagaimana Sayang, aku tidak mengerti."
"Apa ada orang lain selain kalian berempat di bar tadi malam?" Andrea bertanya untuk memastikan dugaannya.
"Tidak. Hanya kami. Kau tahu sendiri itu adalah ruang pribadiku."
"Apa jangan-jangan ...."
"Selena!"
Kedua orang itu menyebutkan nama Selana secara bersamaan.
"Kurang ajar, berani sekali dia." Kepalan tangan Andrea sudah ssmpurnah. Bahkan rahangnya mengeras, tampilannya saat ini sama persis jika Malvin sedang marah.
"Sayang, sudahlah. Aku akan memperingatinya agar tidak mengulanginya lagi. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, kasian anak kita jika kau terus emosi seperti ini."
Andrea menyunggingkan senyum miring. "Kau terlambat, aku sudah membereskannya."
"Apa??" Andrea apa yang kau lakukan padanya, kami masih membutuhkannya. Jangan bertindak yang aneh-aneh."
"Aku sudah mengirmnya untuk menemani Arsula di neraka. Kedua wanita itu cocok berada di sana."
"Apa kau serius."
"Jika kau berani menolongnya, maka kalian bertiga akan bernostalgia di neraka."