
Maaf yeah sayang-sayangku. upnya lambat. Aku sedang dalam perjalanan balik, makanya upnya terbatas karena jaringan yang tidak memungkinkan.. Sesuai dengan janjiku. Bahwa setiap sabtu akan Grazzy up, maka besok akan ada banyak bab untuk anda. Nantikan yeah, jangan lupa like komentar yang positif. jangan lupa Follow juga yeah. 😘💜🙏
•
•
•
•
•
•
"Signore." Setelah sekian lama diam, Demetrio akhirnya memberanikan diri untuk berbicara tentang bagaimana perlakuan Malvin kepada Andrea. "Apa kau menyukai Andrea Signore?"
Helaan napas berat Malvin membuat Demetrio meraskan apa yang di rasakan majikanannya. Hidup pria itu begitu rumit. Belum bisa membalaskan dendam untuk adiknya sekarang malah terjebak dengan perasannya sendiri.
"Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku sendiri."
Pria berwajah dingin itu tersenyum. "Aku tidak mengerti dengan percintaan Signore, tapi aku sarankan agar menggunakan hatimu dalam mengambil keputusan. Memang terkadang perasaan selalu membodohi tingkah laku, Apalagi kalau di dalamnya ada rasa kasihan. Kita akan terus terpedaya dengan dua kata itu. Namun, jika kau bisa membedakan antara Cinta dan rasa kasihan, maka pilihanmu akan selalu tepat."
Pria bermata hitam itu terkekeh. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tetapi aku setuju dengan kata-katamu."
"Apa itu artinya kau akan segera membereskannya?"
Mata kelam Malvin fokus. "Siapa?"
"Marco."
Malvin membuang napas pelan saat yang di sebut Demetrio bukanlah Andrea. Dan Demetrio hampir saja tergelak melihat majikannya yang salah tingkah. "Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Sì, Signore."
"Katakan."
"Andrea membelinya, bukankah Marco memiliki rumah mewah di Puelba?"
"Sì. Yang aku dengar, Andrea tidak mengetahuinya Signore. Rumah itu di huni oleh para pelayannya saja. Marco sering membawa seoran wanita ke sana. Namun, sayangnya para pelayan tidak mengenal wanita itu. Mereka tidak di ijinkan berada di Mansion utama saat wanita itu datang. Rambutnya berwarna perak dan selalu menggunakan kaca mata."
"Sama seperti yang Andrea katakan," batin Malvin.
"Orang-orang sekitar mengatakan dia sering berkunjung setiap minggu. Sepertinya Andrea tidak tahu soal wanita itu. Terakhir mereka terlihat bertengkar di sebuah restoran dan setelah itu, Marco tidak pernah kembali lagi Apartemen."
"Hanya itu."
Demetrio mengangguk pelan. "Karena setelah itu, kabar tentang hutang Marco dan kaburnya dia tersebar. Andrea juga mengalami stres berat karena itu. Dia beberapa kali mencoba bunuh diri. Untuk itulah Rico membuat keseoakatan denganmu Signore."
"Itu Artinya dia tidak ada hubungannya dengan Marco?"
"Sepertinya begitu Signore. Aku juga sudah bertanya kepada salah satu asisten di rumahnya Andrea saat mencari informasi. Dan ...." Demetrio menjedah kalimatnya. Dia terlihat ragu-ragu untuk mengatakan.
Kening Malvin berkerut. "Dan apa?"
"Maafkan aku Signore, pelayannya mengatakan bahwa kau menjadikan Andrea sebagai pemuas napsum di sini."
"What?"
"Aku baru ingat terakhir saat kita mengikuti Garilla dan Andrea berbelanja, bukankah dia menangis saat menghubugi keluarganya. Sepertinya dia mendengar tentang itu."
Seketika Malvin mengalihkan pandangan, wajah pria bermata hitam itu menjadi suram, tubuhnya bergetar hebat membayangkan bagaimana dia menyiksa perempuan itu dengan sangat tidak manusiawi. Bagaimana wanita itu menerima siksaan fisik dan batin yang selama berada di Verona. Dia bahkan mengambil keperawanannya tanpa ijin.
"Signore! Kau baik-baik saja?"
Alih-alih menjawab, pria bermata hitam itu malah mengeluarkan pistol dari balik badannya. Pria itu menatap Demetrio dengan tatapan datar, dia mengisi amunisi tanpa memikirkan Demetrio yang kebingungan. Demetrio terdiam, tubuhnya menegang tanpa bisa di sembunyikan.
"Signore!"
"Kita akan membuat dia menyesal seumur hidup karena telah membodohiku."