
"Kau mengabaikanku lagi Malvin."
"Sayang maafkan aku, kau menelpon ketika aku sedang di dalam pesawat. Tentu saja ponselku tidak bisa di hubungi. Maafkan aku."
Wajah Andrea cemberut, mendengus dengan kesal "Kau pergi tanpa memberitahuku. Jika itu buru-buru seharusnya kau membangunkan ku, bukankah kita sudah sepakat untuk memberi kabar jika salah satu dari kita meninggalkan Mansion."
"Apa kau sudah melihat ponselmu, aku menghubungi berulang kali Sayang. Kau terlihat nyenyak, aku tidak tega untuk membangunkanmu," ujarnya menjelaskan, berharap kekasihnya tidak akan mengamuk saat dia kembali nanti.
"Aku maafkan soal itu. Itu adalah kesalahanku karena tertidur melewati waktu. Tapi tetap saja, kau seharusnya menuliskan note. Kau tahu, Garilla menertawakanku karena tidak tahu di mana kekasihku! Dan itu memalukan."
Malvin tersenyum lembut di sana. "Baiklah, aku minta maaf. Kau bisa menghukumku jika aku kembali nanti. Maaf, aku membuatmu lelah karena melayaniku semalam."
Mata Andera membulat. "Ssstt! Jangan mengatakan itu, bagaimana kalau mereka mendengarmu. Lupakan tentang itu." Protes Andrea membuat Malvin tertawa terbahak di sana. Wanitanya sangat polos dan selalu menggemaskan ketika marah.
"Lalu kapan kau kembali? Garilla mengatakan jika kau tidak bisa kembali hari ini. Apa ada sesuatu yang harus kau kerjakan di sana?"
"Sì, kami sedang menemui calon pembeli, Zigo sedang berbincang dengannya untuk membuat transaksi kita lebih mudah. Calon pembeli kita adalah sahabat lamanya."
"Tunggu!" Ekspresi Andrea berubah tegang seketika. "Apa Zigo yang kau maksud adalah pria gila itu? Maksudku, saudaramu itu?"
"Tentu saja, memangnya kau pikir siapa lagi Sayang. Dia satu-satunya Zigo yang aku kenal."
Pikiran Andrea sudah ke mana-mana, dia menarik napas dalam-dalam sebelum berucap. "Ada di mana kau sekarang!" Andrea bertanya dengan penuh penekanan.
"Aku? Tentu saja di Madrid Sayang."
"Aku tahu, tapi bukan itu yang aku maksud. Aku bertanya di mana kau sekarang, apa di hotel? Kelab? atau di mana?"
Malvin mengerutkan kening mendengar pertanyaan dan suara kekasihnya yang keras. "Kami sedang di kelab Sayang. Apa kau tidak mendengar lagu-lagu itu. Mereka sedang berdansa."
"Kembali sekarang juga!"
Sekali lagi Mlavin mengerutkan kening. "Aku akan segera kembali jika semua urusan di sini selesai."
"Sayang, aku tidak bisa, kami belum selesai di sini."
"Kau bersama Zigo dan kalian berada di kelab malam. Malvin, aku tahu apa yang akan kalian lakukan setelah itu. Kembali sekarang juga aku tidak peduli."
Malvin tertawa, dia baru menyadari jika jawabannya membuat kekasihnya marah. "Andrea Demi Tuhan, aku hanya menemani mereka minum, tidak ada wanita di sini Sayang, aku bersumpah hanya kau yang akan terus berada di atas ranjangku."
Wanita itu terdiam, entah apa yang di pikirkan wanita bermata abu-abu itu. Dia bahkan tidak menjawab panggilan Malvin yang sudah beberapa kali memanggilnya.
"Apa kau tidak mempercayaiku?"
"Entahlah, kau dan saudaramu memiliki hobi yang sama, mana aku tahu kau mengatakan dengan jujur atau tidak." Sorot mata Andrea tampak redup, jemari cantiknya memainkan cicin dengan peramata besar yang Malvin berikan saat melamarnya. "Bersenang-senanglah, aku ingin berjalan-jalan sebentar, memikirkan apa yang akan kalian lakukan di sana membuatku sedikit sesak."
"Kau ingin keluar?" Malvin bertanya dengan nada sedikit tinggi. "Tidak Andrea aku tidak mengijinkanmu keluar ke manapun?"
Pipi gadis itu sedikit merona, sementara bibirnya mengulas senyum licik. "Tenang saja Sayang, aku hanya akan minum sedikit dan kemudian kembali lagi ke Mansion."
"Kau akan ke bar?"
"Ya! Kenapa tidak, aku ingin melihat bagaimana tempat milik kekasihku."
"Andrea jangan ke sana, banyak pria nakal yang mungkin saja sedang mabuk. Kau tahu resikonya jika itu kau lakukan."
"Aku hanya akan minum Sayang, tidak akan mengganggu siapa pun di sana. Jika ada pria yang mendekat, aku akan mengatakan jika pemilik tempat ini ada kekasihku. Aku yakin mereka pasti akan langsung menjauh."
"Tidak Andrea, aku bilang tidak!"
"Santailah Sayang, sampai jumpa nanti. Aku mencintaimu."
"Andrea ...! Oh sh*it."
Malvin mengumpat saat Andrea memutuskan sabungan telepon. Dengan cepat dia kembali menghubungi. Namun, Andrea sepertinya mematikan ponselnya. "Apa yang kau lakukan Andrea!" Malvin memijat pelipisnya dan kembali menggaruk kasar telingahnya. Pria bermata hitam itu gelisah, jika Andrea benar-benar melakukannya dia akan gila jika ada yang melapor jika wanita itu di ganggu.