
Cangkir teh ditangannya perlahan mendingin karena tiupan angin malam yang menusuk. Musik yang disetel dengan keras, mengusik orang-orang yang tengah terlelap. Pertengahan malam bahkan tak cukup tenang untuknya.
Katakanlah Louqina Marcella tidak cukup beruntung bahkan untuk sebuah ketenangan. Suara-suara berisik dari depan kamarnya masih dapat menembus musik yang ia setel dengan volume full. Nyatanya orangtuanya saling cekik lagi, saling membanting barang untuk melepaskan emosi masing-masing.
Tak peduli jika kedua orangtuanya saling membunuh sekalipun, Lou sungguh muak dengan keributan mereka. Tubuhnya terasa lemas setiap kali mendengar kedua orang itu yang saling membentak.
Lou meremas cangkir tehnya saat pintu kamarnya diketuk dengan kencang.
"Buka pintunya Louqina, saya perlu bicara sama kamu!! " sial, bajingan itu pasti mengadu lagi pada Papahnya.
Lou tetap diam ditempatnya, ia tidak punya tempat untuk lari ataupun sembunyi. Papah pasti akan membuka pintu itu dan menemukannya.
"Louqina Marcella!!" Rasanya memang begitu, karena sekarang Lou merasakan tarikan kasar pada rambutnya.
Papah menariknya dengan kasar hingga rasanya kulit kepala Lou akan terlepas. Pria yang berstatus sebagai Papah kandungnya itu menariknya hingga pintu rumah. Mendorong Lou hingga terjatuh membentur lantai, kemudian pintu besar itu ditutup dengan kasar.
Selalu seperti ini, Louqina Marcella pada akhirnya diusir lagi ditengah malam yang dingin oleh orangtuanya sendiri. Lou tidak bisa untuk tidak menangis, ia keluar dari pagar rumah dengan keadaan berantakan. Beberapa tetangga yang berusia remaja sepertinya mengintip dari balkon kamar mereka, menyaksikan pengusiran yang entah keberapa kali dalam bulan ini.
Rambutnya yang kusut, memar biru pada lengan atasnya serta luka di beberapa bagian kakinya karena tak sengaja menginjak pecahan vas bunga milik Mamah. Lou berjalan menelusuri komplek padat penduduk itu, ia punya tempat tujuan.
Rumah besar bercat putih itu menjadi tujuan Lou, mengetuk beberapa saat pintu coklat besar itu hingga pintunya terbuka. Seorang wanita empat puluh tahunan berdiri disana, merentangkan kedua tangannya menyambut Lou.
"Ibu" Tangis Lou pecah begitu saja setelah masuk ke pelukan Ibu. Rasanya sesak saat ada seseorang yang memperlakukannya lebih baik daripada orangtuanya.
"Aman, kamu udah aman sama Ibu. Jangan nangis lagi" Ibu tersenyum hangat, melepaskan pelukannya pada Lou beralih mengelus lembut kepala gadis itu.
"Aku dipukul" dan akhirnya, Lou selalu akan mengadu.
...
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul setengah tujuh pintu rumah Ibu diketuk. Kedua orangtua Lou berdiri disana, menampilkan senyum hangat pada pemilik rumah.
"Apa Lou ada disini?" Suara milik Mamah masuk kedalam pendengaran Lou, rasanya sungguh menakutkan.
Ibu menatap kedua orang yang tak asing lagi dimatanya itu dengan senyum kecil "Anaknya masih tidur, semalam nggak bisa tidur karena kesakitan" jawabnya jujur.
Mamah mengangguk lemah "Boleh saya bawah dia pulang?" tanyanya lagi.
Ibu tersenyum nanar "Dia anak kalian, saya tidak berhak melarang kalian untuk membawanya pergi."
Ibu membawa kedua orangtua Lou memasuki rumah, ketiganya berhenti pada pintu kamar utama. Ibu membuka pintunya, mempersilahkan kedua orang itu menemui anak mereka.
"Pulang sama Mamah ya?" pintanya dengan sebuah harap dimatanya.
Lou melirik sekilas pada Ibu, ia menganggukkan kepalanya dengan pelan. Karena seperti apapun orangtuanya, Lou tidak akan bisa berkata tidak. Mama masih cukup peduli padanya meski wanita itu kasar.
Lou berdiri, menapakkan kakinya yang dipenuhi luka ke lantai yang dingin tanpa alas kaki. Lou menghampiri Ibu sejenak, memeluk wanita yang selalu menjadi penyelamatnya itu "Makasih Bu, karena Ibu mau ngurus aku" bisiknya.
....
Mereka berada di dalam mobil sekarang, tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Kedua orangtuanya yang berperang dingin, bahkan Papah tak berbicara satu katapun saat mereka masih di rumah Ibu. Pria itu memang kaku, kecuali saat bersama putra kesayangannya.
"Mamah nggak setuju kamu kabur kayak gitu lagi, bikin malu"
Lou mendelik tak terima "Mamah lebih senang aku tidur diluar?" sarkasnya.
Mamah menghela nafas kasar "Makanya nggak usah cari gara-gara, Kamu tuh selalu buat kekacauan dirumah. Sadar nggak sih?" ada nada kesal disana.
"Mah, segitu nggak percaya sama aku. Harus berapa kali aku jelasin kalau bukan aku yang buat kekacauan, Gravin yang buat proposal Papah rusak" ungkap Lou tak terima, gadis itu mengalihkan tatapan kearah Papahnya "Kalian berdua sama aja, nggak ada yang percaya sama aku. Tahu nggak dampak buat aku apa? Kalian pernah mikir sampai sana nggak?"
"Papah juga, aku bahkan nggak pernah masuk ruang kerja Papah barang sejengkal pun. Tapi kenapa selalu aku yang salah? Karena mata aku iya? karena kalian anggap aku nggak bisa ngelihat dan cuman bisa buat kacau semuanya" Lou mati-matian menahan suaranya agar tidak bergetar.
Dadanya sesak, apalagi tatapan tajam Papah menghunus kearahnya. Lou tidak pernah tidak takut dengan tatapan itu, tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Tatapan itu selalu terasa penuh kebencian, cemooh dan ketidak percayaan.
"Kenapa kalian nggak biarin aku tinggal sama Ibu? Kalian keberatan rawat aku-"
"Kamu kira apa fungsi kami disini? Kamu masih punya keluarga lengkap. Apa kata orang?" Papah berucap seperti itu rasanya seolah meremas hati Lou.
Lou tidak berani menjawab. Ia takut akan dipukul lagi jika berani protes. Hingga mobil mereka berhenti, Papah turun lebih dulu. Tersisah ia dan Mamah saat ini.
"Kamu pernah nyadar nggak kalau tingkah kamu buat malu keluarga?" nada bicara Mamah selalu ketus dan dingin "Harusnya saya nggak pernah ngelahirin kamu. Cacat, banyak tingkah lagi" katanya sebelum turun dari mobil.
Lou tidak bisa lagi menahan isak tangisnya, dadanya sesak. Perkataan Mamah terasa berulang di telinganya, Kata-kata jahat itu selalu berhasil menyakiti hatinya.
Lou tidak bisa menahan untuk tidak berteriak, ia sakit hati. Mengapa harus ia yang merasakan hal ini, rasanya sakit sekali.
Pintu mobil tiba-tiba terbuka saat Lou menangis dengan keras, seorang gadis yang lebih tua dua tahun darinya berdiri disana. Menatapnya dengan pandangan terluka.
"Kak Helen" isaknya dengan suara kecil.
Helen meraih tubuh Lou, membawa gadis itu keluar dari mobil. Lou bahkan tidak bisa menopang tubuhnya, ia terkulai lemah di samping mobil.
"Mamah.M-mamah jahat. Dia bilang aku cacat, Aku nggak cacat Kak. Aku nggak cacat" raungnya.
"Iya, Lou nggak cacat. Lou anak baik" Helen mengelus bahu Lou menenangkan.
Lou tidak bisa berhenti, isak tangisnya makin kencang. Membuat Helen kelabakan dibuatnya.
"Udah ya, nanti kepalanya sakit" Helen tak bisa untuk tidak ikut menangis, ia merengkuh tubuh Lou dengan kuat.
Tidak ada sautan sama sekali, gadis itu menutup matanya. saat itu Helen sadar, bahwa gadis itu pingsan.
....