
Puelba, Meksiko.
Semenjak kembali, Andrea tampak canggung dengan keluarganya terlebih ayahnya. Meski kembali menjalani hari-hari seperti biasa, Andrea lebih memilih menghabiskan waktu di kamar atau berjalan-jalan di taman yang ada di dekat rumahnya.
Dia enggan bercengkerama dengan keluarga maupun orang terdekatnya. Sudah satu bulan setelah dia kembali ke Puelba, banyak sanak saudara yang datang berkunjung, ada yang benar-benar simpati atas musibah yang dia alami, ada pula yang hanya sekadar datang dan memberi komentar yang kembali membuat dia down dan frustasi.
Mereka mengira dia di culik, di jadikan budak Mafia, lalu setelah puas dengan tubuhnya mereka membuangnya kembali ke Puelba. Dan Andrea tidak marah menanggapi itu, karena ia tahu seperti apa kehidupannya selama 3 bulan berada di Mansion itu.
"Kau baik-baik saja Sayang?" tanya Lazaro memulai percakapan.
Andrea mengangguk dengan tersenyum hambar. Dia tahu, ayahnya yang menyebar berita buruk tentangnya kepada keluarga yang lain. Meski tujuannya adalah agar mereka membantunya, tetapi itu terdengar menyakitkan ketika mereka mengatakan dia datang ke Verona adalah untuk menjadi budak napsu.
"Well, I'm fine Ayah."
"Apa kau menginginkan sesuatu untuk menemani mu membaca buku?"
"Tidak, aku sedang menunggu Miss Burman untuk menemaniku berjalan-jalan di taman.
"Ow, apa para wanita ini akan bercerita tentang yang special?" Lazaro mulai santai menanggapi setiap kalimat yang Andrea keluarkan.
"No! Kami hanya akan berjalan-jalan, Ayah."
"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu di makan malam nanti, Sayang." Lazaro mengecup pipi putrinya sebelum akhirnya beranjak dari kamar yang di dominasi dengan warna putih itu.
Seluruh ruangn itu di dominasi warna putih. Twnru saja karena sekarang Andrea menyukai sesuatu yang terlihat luas dan bersih agar dia tidak merasa sesak saat pikirannya mulai kembali kepada Malvin.
Wanita berambut panjanh itu terlihar sedang menunggu Ibu sambungnya untuk menemaninya jalan-jalan ke taman siang ini. Dia bosan berada di kamar dan akhirnya memutuskan untuk keluar. Perempuan dengan manik abu-abu itu bahkan sama sekali tidak menyadari jika bahaya sedang mengincarnya saat ini.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, apa mimpi buruk itu masih ada?" tanya Dayla ketika keduanya sudah mulai memasuki area taman.
"Cukup baik, meski tidak bisa menghilangkan mimpi itu, setidaknya aku berada dekat dengan keluargaku. Dan itu hanya mimpi, aku mungkin hanya belum terbiasa dengan keadaan Puelba."
"Kau menjaganya dengan baik Miss Burman."
"Panggil aku Dayla, Andrea. Aku tidak ingin terlihat seperti kepala panti bagimu."
Andrea terkekeh, sejenak dia sadar. Panggilannya memang terlalu resmi. Meski dulunya Dayla adalah kepala panti asuhan tempat di mana dia dan keluarga sering memberi sumbangan. Namun, sekarang wanita separuh abad ini adalah ibunya. Harusnya dia tidak kaku dan mulai membisakan diri.
"Bagaimana dengan Verona, aku ingin kau menceritakan tentang tempat itu."
"Tidak ada yang special dengan tempat itu. Orang-orang di sana sering menggunakan insting di banding perasaan, mereka menjalani hidup seperti berburu. Yang menjadi mangsa adalah mereka yang tidak memiliki kekuasaan."
Dayla tersenyum. "Pria seperti apa dia?"
"Pria?" Kening Andrea berkerut.
"Sì, pria seperti apa yang membuat putri cantik ku menjadi sangat muram."
"Dayla, aku sedang menceritakan tentang kehidupan di sana, bukan tentang seorang pria."
Andrea menyelanya. Namun Dayla sudahkebih dulu menyadarinya. Dia sempat berbincang dengan Demetrio sebelum pengawal pribadi itu kembali ke Verona. Dayla mendekati Andrea, menggenggam kedua tangan perempuan yang sudah di anggap seperti putrinya itu dengan lembut.
"Kau bisa mempercayaiku Andrea." Dia mengelus pada rambut panjang itu memberi ketenangan yang memang Andrea butuhkan dari sosok seorang ibu. "Aku menjadi seorang gadis terlebih dahulu sebelum menjadi seorang ibu Sayang."
Mata abu-abu itu mulai tenang. Andrea mengikuti Dayla untuk menuju tempat duduk di bawa pohon rimbun yang ada di taman. "Aku--"
Suara Andrea terjedah saat melihat sosok yang sama sekali dia sangka akan menemuinya. Mata abu-abunya membulat sempurna dengan kedua tangan menutupi mulut.
"Lama tidak berjumpa Andrea!"