Endless

Endless
Chapter 76



Hujan belum berhenti sejak Malvin meninggalkannya malam itu. Dan sudah sejak itu Andrea tidak memperdulikan suara-suara yang memanggilnya dari balik pintu. Entah sudah berapa orang yang terus menggedor-gedor pintu kamarnya untuk di buka. Dia hanya mengalihkan pandangan pada pohon-pohon rimbun yang tumbuh di bagian samping pekarangan rumahnya. Menenggelamkan sorot matanya membayangkan jika Malvin akan muncul dari balik pepohonan itu.


Tok ... tok ... tok .... Terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya.


"Apa Ayah boleh masuk?"


"Masuklah."


Lazaro masuk dengan nampan yang berisikan makanan dan buah serta segelas susu untuk putrinya. "Ayah bawakan buah kesukaanmu, Pier Anjou, kau suka kan? Makanlah yang banyak."


Andrea menatap sepintas apa yang di bawa oleh Lazaro, lalu menunjukkan sorot mata dinginnya dan menjawab. "Aku tidak lapar Ayah."


"Kau harus makan Sayang, kalau tidak kau akan sakit."


Lazaro memegang kedua bahu putrinya, menatap ke arah wanita yang seperti kehilangan nyawa. "Ayah tahu, kau sangat terpukul karena kajdian kemarin. Tapi jangan sampai kau mengabaikan orang-orang sekitar yang masih peduli padamu."


Bibirnya tertutup rapat, tetapi mata Andrea menjelaskan semuanya. Mengerti dengan itu, Ayahnya menganggukkan kepala. Dia paham, mungkin saja putrinya butuh waktu untuk sendiri, kejadian beberapa hari yang lalu mmebuat dia sedikit terpukul. Mengingat Marco adalah mantan kekasihnya, dan pria itu dengan tega meninggalkannya, tiba-tiba dia kembali datang dan menculiknya adalah hal tidak manusiawi yang di lakukan sesama orang yang saling mencintai.


"Baiklah. Maaf kan ayah jika terlalu memaksamu."


Melihat tatapan Ayahnya yang sedikit sedih, Andrea akhirnya mendekat dan mengambil nampan yang hendak di bawa keluar. "Aku akan memakannya nanti," ucapnya dengan sedikit tersenyum.


"No! aku bukan anak kecil Ayah."


Lazaro tersenyum. "Baiklah, jika kau membutuhkan sesuatu, ayah dan Dayla berada di bawah." Lazaro mengusap puncak kepala putrinya sebelum keluar.


Dan Andrea hanya tersenyum kecil menatap Ayahnya yang berjalan tenang menuju pintu keluar. Meskipun terkadang dia keras dan dingin. Namun, dia tahu Lazaro sayang dan khawatir padanya. Karena itulah Andrea berhenti mengurung diri, dia menatap nampan yang terisi makanan itu kemudian dengan pelan mulai memakannya.


Dalam pandangan kosong itu, dia mengingat sosok pria yang dia rasa baru saja menciumnya, memeluknya, tiap kalimat cinta dan janji yang Malvin ucapakan bahkan aroma tubuh pria itu masih dia rasa jelas di penciumannya.


Andrea menyelesaikan sarapan paginya dengan baik, dia membereskan sekua sisa makanan dan meletakannya di luar pintu, dia sudah melakukannya bebera hari ini karena enggan turun dan bersapa dengan anggota keluarga lainnya.


Andrea kembali bersandar pada jendela, membiarkan angin pagi menyapa wajah cantiknya. Rambut cokelatnya yang panjang di biarkan melambai di tiup angin. Hujan terus turun seakan ikut merasakan kesedihannya. Air mata wanita berparas cantik itu turun mebasahi pipi mulusnya. "Kau harus kembali, kau harus menepati janjimu Malvin. Aku akan terus menunggumu."


Angin dingin semakin bertiup kencang, ini adalah musim dingin terakhir di Puelba, akan berganti menjadi musim semi. Musim di mana bunga-bunga akan mulai bermekaran di mana-mana, dan saat hari itu tiba, Andrea berharap pria yang sangat dia nantikan itu juga datang menjemputnya.


Wanita bermata abu-abu itu membuang napas berat. "Apa kau sedang merindukanku seperti halnya diriku sekarang?"


♡♡♡♡♡♡


Note: Maaf jaringan akan sedikit membaik ketika sore, jadi untuk semetara aku akan telat up yeah. maafkan aku 😭💜🙏.