Endless

Endless
Chapter 89



6.30 Waktu Verona Italia


Mansion Malvin.


Andrea baru saja menyelesaikan mandi, Sambil mengeringkan rambut, manik abu-abunya memperhatikan bagaimana senyum di bibir kekasihnya itu terus mengembang. Rupanya bahagia tengah menyelimuti perasaan Malvin sepanjang hari ini. Dan itu terlihat aneh untuk seseorang yang awalnya selalu menampilkan raut wajah datar dan tatapan dingin. Namun, sebelum pertanyaan akan senyum kekasihnya itu terjawab, matanya membulat kaget saat melihat deretan baju-baju di sana yang sudah berubah. Padahal, baru tadi pagi dia melihatnya masih sama seperti terdahulu. Sepertinya Demetrio merubah-nya saat mereka keluar tadi pagi


"Apa yang kau lakukan dengan pakaian-pakaian itu? Lalu Dimana kau meletakan pakaian Daisy?"


"Sudah ku simpan sayang. Semua yang di sana adalah milikmu."


"Aku?" Andrea menunjuk dirinya sendiri. "Estás bien? (Apa kau baik-baik saja?)" tanya Andrea saat senyum itu semakin membuatnya terganggu.


"Tentu saja Sayang. Estoy bien, (Aku baik-baik saja)," jawab Malvin yang sedang sibuk dengan tabletnya. Senyum ini karena wanita yang sedang menatap dengan wajah aneh dari sana.


Andrea membuka mata batinnya, kekhawatiran yang selalu terus mengganggunya selama ini hilang menyisahkan kelegaan. Maka dari itu dia tidak berhenti untuk tersenyum, dan Malvin sangat berterima kasih untuk Andrea karena hal itu, dalam hati pria bermata hitam itu berjanji, dia akan memberikan kebahagiaan tiada tara yang tidak sempat dia berikan kepada Daisy untuk Andrea.


"No, te ves raro después de que regresamos. (Tidak kau tampak aneh setelah kita kembali.)"


"Aku memang selalu aneh setelah bertemu denganmu?"


"What?" Mata abu-abu itu menyipit, Andrea menghentikan pengering dan berjalan mendekat ke arah kekasihnya. "Apa aku terlihat aneh?"


Malvin menghentikan pekerjaannya, ia menyimpan tablet di atas meja dan meraih tubuh kekasihnya hingga berada di atas pangkuannya. "Kau wanita teraneh karena membuat seorang penjahat sepertiku jatuh cinta."


"Tu mientes. (Kau berbohong.)"


"Berhenti bicara dengan menggunakan bahasa spanyol Andrea, kau harus belajar menggunakan bahasa Italia. Anak-anak kita nanti akan berada di Italia bukan di Spanyol." Jemari kekar itu menyentuh dan mengelus pipi kekasihnya. "Ku rasa kita harus membuat komitmen."


"Andrea! Apa masa period mu sudah datang?"


Wanita bermata abu-abu itu semakin merasa aneh, dia berdiri tidak lagi berada di pangkuan kekasihnya. "Apa yang kau bicarakan Malvin, kau semakin aneh."


Malvin kembali menarik tubuh yang ingin menjauh darinya. "Aku sedang serius Sayang." Pria itu menatap lekat manik abu-abu di hadapnya. "Apa kau sudah mengalami masa period saat pertama kali kita melakukannya?"


Andrea mengangguk pelan "Ya, itu datang saat aku kembali di ke Puelba," jawabnya sedikit ragu-ragu.


Malvin membuang napas berat, ada sedikit rasa kecewa di matanya. "Jadi itu gagal." Tatapan Malvin menunduk. "Padahal aku berharap salah satu dari itu tumbuh di sini."


Andrea menelan ludah dengan sangat susah saat tangan Malvin mengelus perutnya yang datar.


"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dari tadi."


Pria dengan tata elang pada dadanya itu memeluk wanita yang masih bingung di hadapnya. Mengecup pada bibir tipis itu berulang kali. Dan saat manik hitamnya terangkat, itu sedikit membuat Andrea sedikit. "Aku ingin memiliki mu selamanya Andrea."


Andrea menghela napas panjang karena kalimat itu. Mata abu-abunya membulat dengan sempurna, Hampir saja dia terjatuh dari pangkuan pria itu jika tidak di peluk.


"Oh God! Apa ini Artinya ...."Kalimat Andrea terhenti saat bibir ranumnya sudah di lahap habis oleh sang Dewa kematian.


****


Note : Bahasa yang di gunakan di atas adalah bahasa Spanyol. Orang Puelba sering menggunakan bahasa Spanyol untuk bahasa sehari-hari.


Maaf baru free jadi baru up ✌💜