
Maaf yeah gays. dari subuh sedang perjalanan dinas dan 12 jam di dalam mobil tidak ada jaringan 😭😭. ini baru saja sampai langsung saya up perlahan.
Maaf jika membuat kalian menunggu 🙏🙏💜
•
•
•
Selama beberapa saat Andrea menutup kedua matanya mengingat kembali apa yang sudah di lakukukannya dengan Malvin hingga dia berakhir di kamar milik pria bermata hitam itu. Namun, tidak ada sama sekali ingatan tentang bagaimana dia bisa berada di kamar ini. Wanita ini lupa jika dia bukanlah tertidur melainkan pingsan, saat semua yang ada di dalam kepalanya kembali berputar matanya di paksa mengerjab, kali ini dia benar-benar membuka mata dengan sempurnah.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya pada diri sendiri.
Andrea kaget ketika Garilla muncul. Dia datang dengan wajah bahagia, saat melihat Andrea yang sudah semakin membaik.
"Kau terlihat lebih baik Andrea."
"Ini semua berkat dirimu Garilla, perawatanmu luar biasa. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu."
"Apa kalian melakukannya lagi?"
Pertanyaan itu langsung di tepis oleh Andrea dengan cepat. "No! Tidak ada yang terjadi dengan luka-luka sebanyak ini Garilla." Andrea mencoba menghentikan wajah antusias Garilla. "Katakan, kenapa aku bisa berada di sini?"
"Sudahlah Sayang, habiskan saja makan malam-mu ini. Aku akan menyiapkan perban untuk membersihkan lukamu."
"No! Garilla, tunggu! Jelaskan dulu padaku apa yang sebenarnya terjadi."
"Sudah ku katakan hilangkan kebiasaan bertanyamu itu Andrea. Hidupmu akan terus susah jika terus saja menyimpan kebiasaan buruk itu."
"Dasar Gila kau wanita tua."
Wanita tua itu tidak peduli dengan umpatan Andrea, dia lebih dulu menutup pintu sebelum Andrea menanyakan tentang kenapa dia ada di dalam kamar Malvin. Dan karena sudah sangat lapar, Andrea akhirnya menghabiskan semua makanannya dengan rasa penasaran.
"Pria itu, dia bisa membuat kekasihnya membunuhku sekarang," gumamnya dengan kekesalan.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, sambil menunggu Garilla yang sedang mengambil peralatan, Andrea menenggelamkan diri di dalam selimut tebal milik Malvin. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini tidaklah nyata. Hatinya mencari pembenaran bahwa semua yang terjadi ini hanyalah untuk melindungi dirinya dari Arsula. Mungkin saja pria itu tidak menginginkan kekacauan seperti kemarin, maka dari itu dia membawa Andrea ke kamarnya. Dan pada kenyataannya memang seperti itu.
Cukup lama menunggu kedatangan Garilla, wanita itu malah kembali menguap. Mungkin saja karena efek obat yang dia minum membuat dia sangat mudah untuk tertidur. Ketika matanya hampir tertutup sempurnah, elusan di pipinya malah membuat dia kembali mengerjap. Namun, hanya beberapa saat kemudian dia kembali menutup mata.
"Andrea?"
Dalam setengah kesadaran wanita bermanik abu-abu itu bergumam menyahuti panggilan Malvin.
"Andrea, apa kau tidak lelah terus tidur?"
Wanita itu terpaksa membuka matanya, menatap manik hitam Malvin yang melihatnya dengan tajam. Namun, tanpa Emosi.
"Buka matamu sebentar."
"Huh?"
Kepolosan Andrea membuat Malvin terkekeh, yang mana kembali membuat wanita itu mengerutkan keningnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, bahkan hidup mancung Malvin hampir beradu dengan hidup Andrea.
"Aku akan pergi untuk mencari tahu kebenaran untuk menentukan kebebasanmu, apa kau akan menungguku?"
"Apa aku berhak memiliki kebebasan yang kau maksud Signore?"
"Jika Tuhan berkehendak."
"Bukankah aku harus membayar hutang dengan sisa hidupku di sini?"
"Apa kau bersedia jika aku membuatmu berhutang padaku dan tetap berada di sini seumur hidup?"
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau melihat wajah pria jahat sepertimu seumur hidupku."
Kini Malvin terdiam, tidak ada kata ataupun yang bisa dia gunakan untuk menjawab. Manik hitamnya menatap Andrea yang kembali tertidur dalam diamnya.
"Apa aku harus menjadi baik agar kau mau bersamaku?"