Endless

Endless
Chapter 128



"Hay Brother!"


Suara yang tidak asing terdengar di pendengarannya. Andrea yang sedang bersandar sambil menikmati buah kesukaannya mengalihkan pandangannya. Tubuhnya sedikit menegang mendapati sosok pria yang meneriakan nama kekasihnya.


"Zigo? Sedang apa kau di sini! Bukankah Malvin sudah melarangmu untuk datang?"


"Dia sudah meminta ijinku Sayang,"


"Apa!"


"Tenanglah, dia tidak akan macam-macam, Paris bersamanya di sini," ujar Malvin menenangkan kekasihnya. Dia tahu Andrea pasti sangat terkejut melihat kedatangan Zigo.


"Hai Andrea!" Paris tiba-tiba muncul di balik punggung kekasihnya dengan seikat bunga tulip. Ia mendekat dan langsung memberikannya kepada Andrea. "Maaf, kami datang tanpa bertanya kepadamu, apa kau ingat aku berjanji akan membawa Zigo untuk meminta maaf kepadamu."


Andrea mengedipkan matanya beberapa kali dengan mulut yang sedikit terbuka. Tentu saja dia ingat dengan janji Paris padanya. Namun, ini terlihat seperti kunjungan paksaan. Apalagi melihat bagaimana Zigo yang seperti tidak merasa bersalah membuatnya kesal. Mood yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba beruba menjadi membosankan.


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Zigo yang langsung duduk di sampingnya.


"Menjauh darinya atau kupatahkan lehermu," ujar Malvin dengan tatapan nyalang.


"Oke ...." Pria dengan gaya santai itu langsung mengambil jarak. Sebelum kembali duduk, dia merentangkan tangan kepada Paris agar mendekat dan duduk di sampingnya.


Zigo tersenyum lembut yang mana semakin membuatnya terlihat tampan. "Bagaimana perkembangan calon ponakan ku, apa dia sehat?"


"Hampir tidak sehat karena ulahmu," jawab Andrea ketus.


"Sayang ...." Malvin mengelus lembut jemari kekasihnya. "Kau harus menjaga emosimu, itu tidak baik untuk perkembangan anak kita."


Zigo tersenyum sinis, dia mengamati perubahan sikap Malvin. Pria bertato itu terlihat sangat perhatian juga lembut, berbeda dari Malvin yang dulu, yang selalu kasar dan cuek. Andrea benar-benar merubah saudaranya menjadi pria idaman semua wanita. Jelas saja Arsula sangat marah dan hampir membunuh wanita itu.


Zigo berdehem. "Kalian membuat orang lain cemburu," ujarnya melirik pada Demetrio yang selalu terlihat sendirian. Dia terlalu setia kepada majikannya hingga lupa jika dia adalah seorang pria yang membutuhkan sentuhan wanita. Zigo tertawa pelan membayangkan nasib pria yang sempat menjadi rivalnya itu.


Demetrio tersenyum mendengar sindiran Zigo. "Aku tidak keberatan dengan pekerjaanku Tuan Elio."


"Ya ... ya ... ya ...," gumam Zigo.


"Ku dengar kalian akan segera menikah," ucap Paris mengalihkan pembicaraan. Karena jika di biarkan kedua pria itu akan terus saling beradu mulut.


"Kami masih harus kembali ke Puelba menemui orang tua Andrea terlebih dahulu," jawab Malvin dengan tersenyum ke arah kekasihnya. Ia menggenggam jemari Andrea untuk menyalurkan rasa bahagianya.


Malu-malu Andrea tersenyum, dia mengakui jika Malvin berkali-kali lipat tampan dengan sikap lembut seperti itu. Dia menjadi sangat tidak sabar untuk bersanding di atas altar bersama pria pujaannya.


"Oh astaga, kau belum menemui orang tuan Andrea?Bagaimana jika Ayahnya menolak, apa kalian akan lari atau Andrea akan menggugurkan kandungannya?"


"Zigo!"


Pria itu mengeryitkan kening, tidak paham kenapa Paris meneriakinya. "Ada apa?"


"Bisakah kau mengatakan hal-hal yang lebih baik?"


"Memangnya apa yang aku katakan? Aku hanya bertanya saja Sayang." Zigo kembali menoleh pada saudara dan juga Andrea, raut wajah mereka memang sangat tidak aman untuknya. "Ada apa dengan wajah kalian, apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"


"Dasar menyebalkan!" Andrea mengumpat keras di tempatnya. Namun, tidak dengan Malvin dan juga Demetrio. Kedua pria itu dengan gerakan bersama menarik Zigo dan menyeretnya keluar.


"Hei! Lepaskan Aku, kalian mau membawaku ke mana? Kekasihku ada di sana. Paris ...!"


Paris menggelengkan kepalanya, dia menatap Andrea dengan perasaan bersalah juga tidak enak hati kepada wanita hamil tersebut. "Maaf Andrea, sepertinya kedatangan kami mengganggumu."


"No Paris. Aku senang kau datang, tapi tidak dengan kekasihmu itu." Andrea mencibir menatap pria yang di seret pergi oleh Malvin dan Demetrio.