
Marisa dan Demetrio kembali ke Mansion. Wajah Marisa terlihat sangat kesal karena sepanjang perjalanan keduanya bertengkar tiada henti. Marisa yang tidak ingin mengalah dan Demetrio yang semakin agresif membuat aura di sekitar keduanya semakin buruk.
Demetri kembali ke kamar Andrea untuk memastikan apa yang sudah pria bermanik hitam itu lakukan. Apakah, sudah menjadi baik atau semakin buruk, ia memang tidak suka menunda-nunda suatu masalah, jika salah yah harus mengakuinya, jika benar maka perjuangankan hingga titik terakhirmu. Itu yang ia yakini selama bersama Malvin.
Andrea adalah wanita yang baik, hanya saja keras kepalanya membuat dia menjadi tidak terkontrol lalu mengambil keputusan dengan terburu-buru. Keras kepala Andrea yang tidak bisa mengalah, beruntung sikap dingin Malvin sudah sedikit mencair, jika Malvin tidak sedikit menahan diri maka hubungan keduanya pasti tidak akan bersatu.
Tok .... Tok ..... Tok.
"Apa aku boleh masuk?"
"Masuklah!" jawab Andrea. Suara wanita itu sedikit melemah menatap pintu kamar mandi yang belum juga terbuka.
"Di mana Malvin?" tanya Demetrio saat netra cokelatnya tidak menangkap sosok pria yang menjadi majikannya.
"Dia sedang di kamar mandi." Andrea menoleh menatap Demetrio. "Apa ada sesuatu yang dia makan pagi ini? Dia terus saja muntah. Bahkan lebih parah dari pada yang sedang aku alami."
Saat Demetrio hendak menjawab, Malvin keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Dia menggelengkan cepat kepalanya seperti sedang menahan kesadarannya. Ia melangkah dengan terhuyung karena tidak mampu menahan langkah kakinya, pandangannnya menjadi kabur seketika.
"Malvin!" Demetrio menahan tubuhnya yang hendak terjatuh. "Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat."
"Entahla. Kepala ku sangat berat dan aku ... uhmmm." Malvin menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan muntah. Ini sudah dari tadi tapi dia terus saja mual. "Singkirkan teh herbal itu, aku merasa ingin muntah mencium aromanya."
"Pokoknya singkirkan, aku tidak menyukai aroma teh itu."
Andrea kembali menatap Demetrio, pria berwajah dingin ini hanya mengedikkan bahu menjawab tatapan majikan wanitanya. "Bantu dia berbaring Demetrio, aku akan memanggilkan Dayla untuk melihatnya."
"Si." Demetrio segera memapah Malvin menuju pembaringan, dia tahu jika sedari pagi Malvin sudah mual tetapi tidak menyangka akan separah ini.
Andrea kembali masuk bersama Dayla dan Marisa, wajah wanita tua itu menjadi sangat bingung karena ternyata bukan saja Andrea yang merasa mual melainkan Malvin. Herannya yang di alami Malvin lebih parah dari pada yang di alami Andrea.
"Apa sarapan yang aku buatkan tidak cocok dengan perut kalian berdua? Kenapa bisa mual secara bersamaan, bukankah Signore terlihat baik-baik saja tadi pagi."
"Sejak dia terbangun sudah seperti ini, hanya saja dia tidak muntah. Aku pikir dia hanya karena masuk angin," timpal Demetrio menerangkan.
"Apa?" Mata Marisa terbuka lebar melihat Demetrio dengan tajam. "Dan kau tidak mengatakan apa-apa kepada Andre malah sibuk membawaku untuk membeli bunga. Dasar pria tidak peka. Kau harusnya memberitahukan ini lebih awal."
"Tidak mengatakan apa, aku bahkan menunggunya di depan pintu kamar selama dua jam pagi ini." Demetrio membalas tatapan tajam Marisa lalu menoleh kembali pada Andrea. "Kau mengabaikan panggilanku Andrea, berulang kali aku memanggilmu tapi kau sama sekali tidak membukakan pintu."
Andrea hanya mengerjabkan matanya, ia ingat jika tadi pagi Demetrio terus meneriakinya. Namun, karena mengira dia bersama Malvin, dia mengabaikannya dan membiarkan dia terus berteriak di luar kamarnya. "Maafkan aku, aku tidak tahu juka kau ingin mengatakan tentang kondisi Malvin."
Demetrio menggela napasnya, Andrea, wanita itu memang selalu membuat dia lelah. Sikap egois dan keras kepalanya membuat Demetrio sedikit kesal. "Belajarlah dari pengalaman Andrea, kau sama sekali tidak bisa belajar dari kesalahan-kesalahanmu," ujarnya melangkah keluar.