Endless

Endless
Chapter 108



Andrea terbangun sudah cukup siang, dia bahkan tidak percaya jika dia tidur dan melewatkan waktu sarapan. bahkan nampan berisi Pancke dan beberapa buah berry di atasnya itu masih terlihat utuh. Mata yang perlahan terbuka itu melebar seketika saat fokus matanya mendapati tubuh sang kekasih yang tidak berada di sampingnya.


"Oh Tuhan, jam berapa ini?" Ia beringsut mengambil jam weker di nakas dekat tempat tudur untuk melihat. Waktu menunjukan pukul 12 siang. Andrea mengumpati dirinya karena tertidur melewati batas waktu. Dan tentu saja  Malvin tidak ada, pria itu selalu terbangun di pagi hari karena selalu berolah raga sebelum memulai aktifitas.


Andrea menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan semua aktifitas yang biasanya di lakukan di pagi hari. Berfikir jika pria dengan tato elang itu mungkin sedang bersama Demetrio di ruang kerja dia memutuskan untuk menuju dapur dan melihat apa yang bisa dia makan. Andrea memang kekasih dari pemilik Mansion. Namun, dia enggan berteriak sambil memberi perintah karena sadar jika dirinya yang dulu adalah seorang pelayan. Tidak enak jika dia harus berteriak seperti yang biasa di lakukan Arsula.


"Selamat siang Signora, apa anda butuh sesuatu?" Seorang pelayan yang sedang membersihkan ruang makan bertanya dengan sopan.


"Di mana Garilla, aku butuh sesuatu untuk di makan."


"Aku akan segera menyiapkan itu untukmu Signora, Garilla sedang berada di halaman belakang."


"Sì, terima kasih."


Beberapa menit setelah pelayan menyiapkan makanannya, Garilla kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia tersenyum sambil menggeleng ke arah wanita yang menyantap sarapannya di jam makan siang. "Kau sungguh menikmati hidupmu Signora." Garilla berdiri tepat di depan Andrea. "Berapa ronde tadi malam?"


Andrea berdecak dengan tawa. "Tidak sopan bertanya seperti itu."


Garilla tertawa lepas. "Apa kau tidak mencari kekasihmu?"


"Ahmmm .... Ku pikir dia sedang bersama Demetrio di ruang kerjanya."


Garilla mencubit kedua pipi Andrea, merasa gemas dengan kepolosan gadis yang sudah di anggap seperti anaknya itu. "Kekasihmu tidak berada di Mansion Sayang, dia sedang melakukan perjalanan ke Madrid pagi tadi. Selesaikan sarapanmu dan kembalilah ke kamarmu."


"Apa!!" Andrea berdiri serentak. "Dia pergi ke Madrid."


"Sì. Sepertinya mereka akan kembali besok. Signore berpesan untuk tidak menunggunya."


Andrea menampilkan wajah cemberut, dan juga kesal. Dia menghabiskan sisa sarapannya dan beranjak pergi meninggalkan Garilla yang tidak berhenti menertawainya. Andrea melangkah menuju kamar mencari ponselnya. Namun, sudah berulang kali dia mengecek nakas, ponselnya sama sekali tidak ada. 


"Oh God! Di mana benda itu berada." Andrea mendesah dengan mengumpat kecil terus mencari hingga membongkar seisi kamar. Saat dia sudah mulai pasrah, dia baru sadar ponselnya terjatuh di bawa ranjang saat Malvin menggodanya semalam.


Andrea memunguti ponselnya, saat layar itu di nyalahkan. Berpuluh-puluh pesan masuk di sana. Bahkan ada 40 panggilan tak terjawab yang tentu saja semua itu dari kekasihnya Malvin Alexander.


"Oh tidak! Aku melewatkan semua panggilan ini."


Tanpa membaca pesan-pesan yang sudah masuk, Andrea menekan nama yang dia simpan dengan bentuk hati. Namun, sayangnya sepertinya Malvin masih berada di dalam penerbangan, ponsel pria itu tidak bisa di hubungi. Andrea membanting dirinya di atas kasur menatap langit-langit kamar dengan perasaan bersalah. Dia kembali menyalahkan dirinya yang terlalu bersemangat bercinta hingga lelah dan tertidur seperti orang pingsan.


"Bagaimana bisa dia tidak memberitahu kepergiannya. Oh tidak! Kau membuatku kesal Malvin."