Endless

Endless
Chapter 31.



Wkwkwk. ya Ampun banyak bangat yang gedek yah sama Malvin. Kasihan andrea juga kalau ngak di tolong yeah.


Aku berfikir panjang untuk grazi up hari ini, karena sibuk bangat hari ini. tapi alhamdulillah beberapa bab sudah kelar. Jadi akan aku up benar-benar Grazy hari ini 🤣🤣. Demi rasa penasaran kalian. aku takut di marahin dan di tinggalkan seperti Andrea 😭


•••••••


Andrea terbangun, wanita itu bergerak berusah untuk duduk. Jam di kamarnya menunjukan pukul 5 dini hari, biasanya dia akan bangun di waktu seperti ini untuk bersiap-siap sama seperti Garilla. Wanita tua itu selalu terbangun pukul 5 untuk menyiapkan segala keperluan dapur. Semoga saja dia ingat bahwa Andrea masih membutuhkan bantuannya.


Dan perkiraan Andrea benar, beberapa menit setelah dia memutuskan untuk tidak tidur, Garilla muncul dari balik pintu dengan beberapa potong roti dan 1 gelas susu hangat untuknya. Seketika itu wajah Andrea berbinar, dengan tenaga penuh dia mencoba untuk duduk kembali.


"Andrean?"


"Garilla." Dia tersenyum lebar menyambut kedatangan wanita tua dengan nampan di tangannya. Wajah tuanya terlihat sayu, mendalami kesedihan yang sama dengannya.


"Apa kau terbangun karena lukamu terasa sakit?"


Andrea menggeleng pelan, membuat wanita itu mengerutkan kening penasaran.


"Lalu apa?" ujarnya dengan wajah cemas.


"Aku kelaparan Garilla."


"Oh mio Dio, (Oh Tuhan,) Andrea. Aku pikir kau kenapa." Dengan wajah tenang Garila memberikan nampan yang dia bawah kepada Andrea. "ini, makanlah dengan pelan."


"Grazie, (Terima kasih,) Garilla."


"Apa luka mu masih sakit?"


Andrea menggeleng, dia tidak bisa menjawab karena mulutnya sibuk mengunya. Setelah itu selesai, dia menjawab dengan tersenyum lebar.


"Sekali lagi, Grazie, Garilla. Karena kau telah merawatku."


"Jangan berterima kasih padaku Sayang, berterima kasihlah kepada Signore Malvin."


Wajah Andrea langsung berubah mendung saat mendengar nama Malin. Dia seakan menahan amarah. "Aku?" Andrea menunjuk dirinya sendiri. "Berterima kasih padanya? No!" teriak wanita itu dengan tegas.


Wanita yang sudah termakan usianya itu membuang nafas kasar. "Bukan aku yang menjagamu melainkan Signore. Dia menjagamu dengan baik ketika kau tertidur. Dia bahkan mengganti perbanmu dengan sangat rapih. Dan lagi." Garilla memperhatikan sekitar sebelum melanjutkan.


"Signore mengunci pintu kamarmu agar tidak ada yang mengganggu, aku bahkan harus mendorong dengan kuat agar dia membukakan pintu."


"Aku berharap kau benar-benar akan menjadi Signora, Andrea," ucap Garilla dengan tulus.


"Jangan bercanda Garilla, kau ingin wanita gila itu membunuhku?"


"Percayalah dengan kata-kataku, kau akan menjadi Signora di rumah ini Andrea."


Wanita bermanik abu-abu itu tidak menjawab, dia menghentikan kegiatan makannya, bersandar pada kepala tempat tidurnya yang hanya berukuran 1 tubuh manusia. Andrea menatap Garilla. "Aku tidak pernah berharap untuk menjadi Signora Garilla, aku hanya ingin bebas."


Andrea menatap tajam wanita berkulit hitam itu sebelum melanjutkan. "Dan aku tidak ingin menjadi pasangan pria yang sudah memaksa untuk meniduriku, mengambil keperawananku tanpa seijin dariku," ucapnya dengan nada berat. Andrea membuat wajah seolah jijik dengan kata yang di ucapkan wanita tua itu.


Ucapan Andrea membuat wajah Garilla berubah pucat seketika. "Apa yang kau katakan, ulangi sekali lagi." Garilla menekan kedua tangan Andrea dengan gemetar.


"Aku pikir kau sudah tahu, kita pernah membahasnya sesaat sebelum Signore pingsan."


"Bukan ini yang aku maksud Andrea, aku hanya mengira Signore menyukaimu."


"Aku membencinya Garilla, aku membencinya!"


Wajah tenang Garilla berubah seketika, dia meraih tubuh Andrea dan memeluknya dengan erat. Pantas saja dia begitu membenci Malvin, dia berkata akan menyingkirkan mereka yang suka merampas kekebasan dan harta orang yang lemah, tidak di sangka karena hal itu.


Seharusnya ini menjadi hari tenang untuk Andrea, mengingat Signore Mlavin sudah begitu baik merawat dan memperhatikannya dengan baik. Ternyata, ini maksudnya.


"Kau adalah wanita baik Andrea, semoga semua hal baik akan selalu bersamamu setelah ini. Aku yakin Signore benar-benar menginginkanmu."


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan Garilla."


"Signore Malvin tidak pernah membawa wanita ke atas kasurnya selain Arsula, kau adalah wanita kedua yang dia tiduri. Aku bersaksi untuk itu."


"Lalu, apa aku harus bersorak bahagia."


"Bukan itu maksudku Andrea." Wanita berkulit hitam itu mengelus lembut pada pipi Andrea. "Signore adalah orang baik Andrea, dia hanya sedang menata hatinya yang patah karena di tinggal oleh Nona Daisy. Dia sering menghabiskan waktu bersama banyak wanita. Namun, tidak ada satupun yang berakhir di atas kasur selain Arsula dan kau."


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Singkatnya, jika dia tidak menginginkanmu, dia tidak akan menidurimu. Kau mengerti maksudku bukan."


Andrea terdiam dengan napas yang menderu, entah dia harus bahagia atau sedih. Malvin penuh dengan teka teki. Dan Andrea pun tidak ingin terus terjerat kedalam teka teki itu.