
Marco terkekeh, dia memengang perut yang terasa begitu sakit akibat peluru yang Malvin berikan. "Kau tahu, berapa pun harta yang kau miliki, tidak akan mampu untuk membeli sebuah kebahagiaan. Kau di takdirkan untuk menyendiri Mavin, semua orang akan meninggalkanmu karena keegoisanmu."
Malvin tertawa sepanjang dia mendengar itu. Hinga tawanya hilang berganti dengan suara tembakan yang kembali keluar dari senapan miliknya.
"Aaah." Marco mengeram, dengan deretan gigi yang saling beradu. "Bajingan ...!"
"Kau masih saja mendongeng ketika maut sudah di hadapanmu Tuan Marco Endrique."
Marco menyeringai, meski harus membuang napas dengan sangat susah. Kini dua peluru bersarang di tubuhnya membuat dia susah untuk bergerak. Marco mendudukan tubuhnya, mencoba mencari cela saat fokus Malvin beralih darinya. Dan saat Malvin mulai lengah, dengan cepat, dia melepaskan pelatuknya, satu peluru menuju ke arah Malvin. Sayangnya, pria itu menyadari dan dengan cepat menghindar.
"S hit," umpat Marco saat peluru itu meleset.
Entah dari mana mereka, anak buah Marco tiba-tiba bermunculan, mereka datang dengan sangat banyak dan mengecoh. Kesempatan untuk Marco, pria itu berusaha untuk berdiri ketika seseorang mendatanginya. Namun, saat dia hendak di larikan oleh salah satu dari anak buahnya. Tiba-tiba sebuah pistol menodongnya di kepala.
"Malvin!"
Marco menegang, dia baru sadar saat berbalik, anak buahnya sudah di lumpukan oleh Demetrio. Entah bagaimana, pria itu menghabisi semua anak buahnya.
Dan sebelum Marco membuka mulut, Malvin lebih dulu menarik pelatuknya. "Jangan pernah berfikir untuk lari dariku."
Malvin kemudian melangkah dengan berat ke arah Andre, memeluk wanita yamg tidak sadarkan diri dengan sangat erat.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi."
"Signore!" Daniel mendekat.
"Bawa dia kembali, dan jangan katakan apapun" Malvin menutupi tubuh Andrea dengan jaket yang ia kenakan. "Jika ada yang bertanya, katakan yang menyelamatkannya adalah kalian."
Malvin mengecup lembut bibir Andrea sebelum Daniel membawanya. "Maafkan aku, hanya itu yang bisa ku katakan padamu."
"Signore, bukankah lebih baik jika dia tahu kau yang menolongnya?"
Malvin mundur, membiarkan Daniel mengambil alih Andrea. "Dia tidak bole tahu apa yang terjadi. Itu akan lebih baik."
"Tapi Signore-"
Ucapan Demetrio terpotong saat mendapatkan tatapan tajam dari majikannya. Entah Andrea akan menyadarinya atau tidak, tapi Malvin sangat bahagia karena bisa menyelamatkan wanita itu. Meski mungkin akan tetap ada kesalah pahaman antara keduanya, Malvin tidak menyesal.
Demetrio mengikuti Malvin yang berjalan keluar. Mencoba memberikan pengertian agar dia mau untuk mengatakan kebenaran. "Signore."
"Aku tidak ingin membahasnya Demetrio, biarkan seperti ini."
"Aku tahu, keputusanmu adalah untuk membuat dia tidak mengingat mu dalam kenangan buruk. Tetapi, jika dia tahu kau yang menolongnya, dia pasti akan sangat bahagia. Kau bisa punya kesempatan lagi untuk membawamya kembali ke Verona."
"Aku takut dia akan semakin membenciku."
"Untuk alasan apa dia membencimu, kau bahkan menyelamatkannya tadi."
"Dia mengalami hal semengerikan ini karena aku Demetrio, Marco mengincarnya karena dia tahu aku akan kalut dan melepaskan Arsula untuk mendapatkan Andrea." Malvin menghebuskan napas panjang, pria itu menatap Andrea yang di bawa pergi oleh kawanan Daniel.
"16 jam aku memikirkan bagaimana jika aku melakukan itu, bagaimana kalau aku menukarnya dengan Arsula. Aku hampir gila karena takut jika tidak sempat untuk menyelamatkannya Demetrio, dan keselamatannya sudah cukup bagiku. Aku tidak ingin membawanya kembali dan merasakan hal seburuk itu lagi."
Demetrio terdiam, dia tahu, yang di lakukan Malvin sekarang hanyalah agar wanita itu tetap aman dari jangkauan musuh-musuhnya.