
Jam menunjukan pukul 11, dan Malvin masih berada di atas sana membuat Demetrio yang berjaga di balik pohon-pohon itu merasa sedikit cemas.
"Kenapa dia begitu lama, apa dia sedang bernostalgia bersama Andrea?" Pria bertato itu mendesah dengan napas panjang karena yang Malvin lakukan kali ini benar-benar di luar kebiasaannya.
Karena jam 3 nanti pesawat mereka akan bertolak ke Italia, Demetrio berfikir untuk mengirimkan pesan peringatan kepada Malvin agar dia cepat keluar dari sana. Namun, saat hendak menuliskan pesan, ponselnya tiba-tiba bergetar, satu panggilan dan nama Garilla muncul di sana. Sejenak Demetrio mengerutkan kening, mengingat Kepala pelayan itu tidak pernah menghubunginya jika keadaan tidak darurat.
"Ciao, Garilla. Ada apa?"
'Tuan! Arsula tidak ada di dalam ruang tahannnya.'
"Apa!!"
'Sì, baru saja aku ingin memberikan makan malam kepadanya karena ku pikir Sella meninggalkannya. Beberapa hari ini, wanita itu juga menghilang sejak kau dan Signore meninggalkan Mansion. Aku pikir dia pergi karena keadaan Arsula yang sekarang. Akan tetapi, saat hendak masuk, sel tahanan itu terbuka dan Nona Arsula sudah tidak ada. Aku curiga jika Sella sengaja merencanakan ini.'
"S ial!" Demetrio mengumpat pelan dalam persembunyian-nya. "Apa para penjaga tidak mencegatnya?"
'Aku sudah menanyakan tentang Arsula kepada semua penjaga Tuan.'
"Lalu apa jawaban mereka."
'Ya, Nona Arsula memang terlihat keluar dan dengan seseorang pria yang membantunya. Mereka pikir itu hal yang biasa karena mereka pun tidak tahu apa yang terjadi, dia lolos tanpa ada pengawasan.'
"Oh S hit! Malvin akan membunuhku karena ini. Aku lupa memberitahu kepada mereka tentang Arsula."
'Lalu, apa yang harus aku lakukan, kapan kalian kembali?'
"Malam ini kita akan kembali, cari Agrio dan katakan padanya agar memimpin yang lain untuk mencari Arsula. Ingat, sekecil apapun yang terjadi di sana, segerah hubungi aku. Mengerti!"
Garilla mengangguk di sana. 'Sì, Tuan. Aku mengerti.'
Sedangkan itu, di atas sana ....
Malvin masih setia menatap wajah andrea yang sedang terlelap, meskipun tadi cukup sulit baginya untuk memanjati dinding. Namun, dia bahagia bisa melihat wanita di hadapannya ini baik-baik saja
"Kau terlihat tidak cantik jika kurus? Lihatlah, kau seperti mumi yang hanya tertinggal tulang Andrea. Makanlah yang banyak agar kau tidak sakit," bisiknya dengan sangat pelan, karena jika ada yang mendengarnya maka habislah sudah.
Perlahan, Malvin menyingkirkan sejumput rambut yang menutupi wajah gadis itu, mengelus lembut pada wajah kekasih hati yang sangat dia rindukan.
"Tetaplah bermimpi indah, maaf jika kedatangan ku tidak begitu sopan." Malvin mengecup puncak kepala Andrea dengan sangat-sangat lembut dan hati-hati.
"Aku sangat merindukanmu Andrea. Kau tahu, Garilla bahkan mogok bekerja karena aku membiarkan mu pergi. Dia tidak ingin bicara padaku. Dan aku memakluminya karena kedekatan kalian." Malvin tersenyum mengingat bagaimana wanita berkulit hitam itu menceramahinya.
Dan saat hendak melanjutkan, ponsel Malvin berdering. Pria itu mengumpat karena nada suara ponselnya membuat Andrea sedikit bergerak. Malvin menunduk di bawa lantai saat wanita itu mulai bergerak membalikan posisi tidur.
"Apa yang dia pikirkan, sudah ku katakan tetap berjaga kenapa dia malah mengirimkan pesan padaku." Malvin bergumam di dalam hati, mengumpat tiada henti karena nada dari pesan yang di kirimkan oleh Demetrio sepertinya membangunkan Andrea.
Kesal karena itu, dia sampai lupa untuk membaca pesannya. Kini dia sibuk mencari jalan agar bisa keluar dari dalam kamar Andrea dengan selamat tanpa ada yang melihatnya, terutama Andrea.
"S hit! Bagaimana caranya agar aku bisa keluar, bagaimana jika Andrea menyadari jika ada orang yang diam-diam masuk ke kamarnya."
Malvin kembali membulatkan mata saat jendela kamar mulai bergoyang tutup lalu terbuka karena tiupan angin. Dan itu mengulang beberapa kali hingga menimbulkan suara yang keras.
"Oh God! Jangan sekarang aku mohon."
Saat hendak menerobos jendela yang masih terus seperti itu, langkah Malvin tiba-tiba terhenti. Pria bermata hitam itu berdiri diam dan kaku dengan tatapan yang sangat aneh.
Entah apa yang terjadi ... Bersambung 😆