
"Kenapa lo bawa dia kesini?" Alaska menarik kerah baju Heka saat lelaki itu sedang sibuk dengan masakannya.
"Okey, sorry sorry. Gue nggak nyangka sebenarnya hal ini bakal kayak gini, gue nggak ngira lo bakal bawa Lou kesini" jelas Heka, lelaki itu melepas tangan Alaska dari kerah bajunya.
"Lagian udah kejadian juga, santai aja Lou nggak akan berfikir negatif sama lo" katanya.
Alaska menghela nafas kasar, menarik slah satu kursi didekat meja makan lalu mendudukkan dirinya disana "Kalian juga kenapa kesini? " tanyanya.
Ada empat orang di dapur saat ini, Alaska, Heka, Zio dan Sean. Meski sedari tadi hanya ada Heka yang berbicara, karena Zio jelas tidak akan berniat membuka mulutnya sama sekali sedangkan Sean tidak akan bicara jika tidak diajak bicara terlebih dahulu.
"Kalian nginap disini?" tanyanya. Alaska berharap sekali bahwa mereka akan mengatakan tidak.
"Tadinya sih nggak niat, tapi kalau lihat lo disini kayanya bakal nginap disini" jawab Heka.
Sebenarnya Alaska punya teman berapa sih, dari tadi hanya Heka yang menyaut.
"Lo berdua nggak punya mulut? Apa udah dikasih sama Heka? " kesal Alaska.
"Emang lo nanya sama gue" Sahut Sean dingguki oleh Zio.
Alaska menghela nafas kasar"Terserah"katanya.
Heka terkekeh pelan "Suka gue sama keributan" katanya. Matanya beralih ada Sean "Panggil Anin sama Lou, ajak makan. Kalau lo nggak mau lo bisa pulang" katanya melihat Sean yang akan protes.
...
"Ini lo yang masak Ka?" Lou menatap tak yakin pada Heka.
"Gue bantu lihatin, Zio yang masak" katanya.
Alaska menatap interaksi kedua orang itu dari tadi, ini sangat mencurigakan. Heka seolah-olah memang mencari celah untuk dekat dengan Cella-nya.
"Makan, jangan bicara" tegur Alaska.
Lou tersenyum saja, semuanya makan dengan santai. Alaska beranjak terlebih dahulu setelah selesai makan, lelaki itu tidak berucap sama sekali.
"Dia kenapa?" Anin menatap Lou yang nampak terdiam.
"Kalian balik ke kamar aja, biar gue yang beresin" Heka menatap pada Lou dan Anin "Lo nginap disini aja, bukannya orangtua lo nggak dirumah?" katanya.
"Tapi, gimana sama Alaska? Nanti dia marah"
"Gue yang kasih tahu" ucap Heka.
Lou menarik tangan Anin, membawa gadis itu ikut bersamanya. Lou mengunci pintu kamarnya, membaringkan dirinya diatas kasur. Lou tidak pernah punya teman perempuan sebelumnya, jadi ia cukup senang dengan kehadiran Anin sekarang.
"Kenapa kamu setuju aku nginap disini?" Anin bertanya.
Lou melirik Anin dengan alis terangkat"Harusnya lo senang kan? Bukannya lo mau dekat sama Alaska?"tanyanya.
Anin menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum "Apa kamu bakal dukung setiap perempuan yang suka sama Alaska?."
Lou diam, ia menarik dirinya untuk duduk. Menatap Anin yang nampak aneh dimatanya "Bukannya lo harusnya senang kalau gue bantu lo?"
Anin menggeleng "Kamu benaran nganggap aku suka sama Alaska selama ini ternyata" Anin terkekeh kecil "Aku nggak suka sama Alaska. nggak pernah" katanya.
Lou menatap tak percaya, bukannya selama ini Anin selalu berusaha mencari perhatian Alaska. Jika Anin tidak suka pada Alaska, untuk apa gadis itu terus mendekati Alaska dengan gigihnya.
"Alaska sepupu aku, Kakek aku sama kakek Alaska saudara. Nggak ada yang tahu soal ini" jelas Anin melihat kebingungan Lou.
"Kalian sepupu? jadi selama ini yang lo lakuin apa?"
Anin beredehem pelan, menarik satu tangan Lou untuk ia genggam "Ini agak rumit sebenarnya. Alaska mungkin nggak suka kalau aku cerita ini sama kamu" katanya.
Lou menatap bingung "Apa? Cerita apa?" tanyanya.
"Alaska bakal donor hati buat saudara kembarnya"
Lou tidak bisa berucap, ia jelas merasa kaget dengan semua ini. Alaska tidak pernah mengungkit soal keluarganya, dan bodohnya Lou tidak pernah menanyakan hal demikian.
"Hari pertama Alaska pindah ke sekolah kamu saat kita SD, aku ada disana. Kita datang bertiga, aku, Alaska sama Athala. Kamu nggak kenal aku, tapi aku tahu kamu."
"Alaska nggak pernah cerita soal keluarganya selama ini, makannya gue kira lo suka sama Alaska"
Lou menggeleng "Karena gue kira dia baik-baik aja sama keluarganya."
"Alaska nggak baik-baik aja"
"Bisa lo ceritain semuanya?" pinta Lou.
Anin menggeleng "Itu bukan hak aku, harusnya kamu tanya sama dia kan?."
....
Lou mengetuk pintu kamar Alaska beberapa kali, hingga lelaki itu membuka pintu. Alaska berdiri dihadapannya, dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Cella" gumamnya.
Lou menubruk Alaska dengan pelukannya, mengelus bahu lelaki itu menenangkan. Sisi Alaska yang satu ini, Lou baru melihatnya setelah sepuluh tahun mereka bersama.
Lou menarik dirinya, menatap Alaska yang menatapnya dengan tatapan terluka.Lelaki itu nampak rapuh.
Lou menarik Alaska menuju sofa, mendudukan diri disana.
"Maaf" Lou mencicit pelan "Maaf karena gue benar-benar nggak tahu semuanya" katanya.
"Dia cerita sama lo?"
"Kenapa lo nggak cerita? Harus banget gue tahu semuanya dari Anin" Lou mendengus kecil.
Alaska menghela nafas pelan "Lo bahkan nggak bisa ngatasin masalah lo sendiri."
Alaska tidak ingin memberikan beban lagi pada Lou, gadis itu bahkan tidak bisa mengurus diri sendiri dengan baik. Bisa saja gadis itu bertindak bodoh jika Alaska ikut bercerita tentang masalahnya.
"Aska" Lou menatap Alaska serius "Kalau gue minta lo buat nggak donor hati lo buat dia, apa lo bakal dengar kata-kata gue?" tanyanya.
Alaska menarik sudut bibirnya membentuk senyum, mengelus rambut gadis kesayangannya itu "Tanpa lo minta, gue nggak akan kasih itu sama dia" katanya.
"Bukannya dia bakal mati kalau lo nggak donor hati lo?"
"Dia nggak akan mati begitu aja, dia belum separah itu" ucap Alaska.
"Gitu ya?"
"Iya"
Ruangan itu mendadak hening, tidak ada lagi suara dari keduanya. Lou yang sibuk ada fikirannya, mencoba mencerna hal yang baru ia ketahui sekarang.
"Ada lagi?" tanya Alaska.
"H-hah, apa?"
Alaska menghela nafas pelan "Ada lagi yang mau ditanya hm?."
Lou menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu menatap Alaska "Itu, Lo nggak mau cerita semuanya sama gue?" katanya.
Alaska mengangkat sebelah alisnya, aapa sekarang gadis ini tengah berperan sebagai orang yang selalu ada untuknya. Bukankah semua ini terlalu mendadak, karena selama ini mereka bahkan tidak bercerita tentang keluarga masing-masing.
"Mau mulai dari mana? " tanya Alaska.
"Dari lo pindah ke SD pertama kali"
Alaska mengangguk, mengingat sebentar momen itu "Hari itu gue datang sama Anin dan Athala, kebetulan gue lihat lo di bully" ucapnya dengan lugas, Alaska menundukkan pandangannya menatap Lou. Memastikan gadis itu baik-baik saja, melihat tidak ada reaksi Lou ia tahu gadis itu baik-baik saja "Gue nggak tinggal sama orangtua gue lagi sejak SMP, gue tinggal sama kakek. Udah gitu aja" katanya.
"Tentang donor hati? Lo nggak bakal cerita?"
"Mamah yang minta gue donor hati, tapi gue nggak mau"
Lou terdiam, ternyata ada seorang Ibu yang lebih jahat dari pada Mamahnya. Karena selama ini Lou fikir Mamah adalah wanita paling jahat, ah tapi tidak menyangkal bahwa Mamahnya memang orang jahat yang menekan anaknya sendiri.
"Apa alasan lo nggak mau donor hati lo?."
"Gue nggak mau dia dapatin segalanya cuman karena dia sakit, tapi ngelihat lo sekarang kayaknya gue tahu alasan gue yang sebenarnya" lelaki itu mengelus sisi wajah Lou"Gue tahu kalau lo alasan gue."
...