
Demetrio tidak bisa menahan gaya Cool nya saat melihat ekspresi Zigo pada Video yang dikirimkan oleh Garilla. Tawa kerasnya bahkan membuat Malvin yang sedang bertransaksi dengan salah satu pria asing yang ingin membeli senjatanya menjadi terganggu. Pria itu terus melotot penasaran dengan apa yang membuat pria berwajah es itu tertawa. Dia menoleh dan terus memperhatikan Demetrio yang tertawa tidak jauh dari posisinya.
"Sebentar." Malvin meminta ijin untuk permisi sebentar. Dia melangkah dengan langkah panjang lalu merampas ponsel yang di pegang oleh Demetrio. "Apa yang kau tertawakan dari tadi."
"Malvin itu ...!" Demetrio mematung di tempat saat ponselnya berpindah tangan dengan Video yang masih memutar.
"B*angsat!"
"Aaaakh."
Demetrio menjerit kasakitan saat Malvin melayangkan satu pukulan di bagian perutnya. Membuat pria asing yang menunggunya terhentak karena terkejut. "Malvin ini sakit," jerit Demetrio.
"Kau menjadikan kekasihku sebagai umpan pria gila itu! Kurang ajar!"
"Malvin tunggu!" Demetrio menahan pukulan Malvin. "Ini hanya agar Zigo tidak mengganggu Andrea, dia tidak benar-benar menggodanya."
Malvin tidak peduli, dia terus melakukan tinju pada Demetrio membuat pria itu harus menjerit berulang kali. "Jika sedikit saja Zigo menyentuh Andrea, lehermu akan aku patahkan." Pria itu berlalu pergi dengan langkah tegas menuju mobilnya.
"Malvin! Transaksi kita belum selesai," teriak Demetrio saat melihat oria bermata hitam itu memasuki mobil.
"Selesaikan sisanya, aku akan kembali ke Mansion untuk melihat keadaan Andrea."
"Dia baik-baik saja, Malvin!" Demetrio mendesah kasar saat panggilannya di abaikan. "Dia baik-baik saja, untuk apa dia secemas itu. Zigo bahkan tidak akan berani menyentuhnya jika sikap wanitamu se agresif itu." Pria itu tertawa hingga melupakan pria asing yang seharusnya dia layani.
"Maaf, bagaimana dengan transaksi kita?"
Demetrio mengganti ekspresi wajahnya saat pria asing itu mulai mendekatinya. "Bisa kita lanjutkan, majikanku harus menyelesaikan urusan cintanya terlebih dahulu." Dia mengataknnya dengan menahan tawanya agar tidak terlihat. Namun, Pria asing itu yang malah tertawa.
"Aku bahkan sering melakukannya saat istriku sedang ingin bermanja."
Demetrio mengerutkan keningnya. "Maksudmu Tuan?"
"Oh! Maaf. Apa wanitamu tidak pernah memintamu kembali saat kau sedang sibuk bekerja? Sayang sekali, itu adalah moment paleng romantis dalam percintaan."
Demetrio berdehem. "Maaf, bisa kita lanjutkan?"
"Sial! Apa dia sedang mengejek ku karena tidak memiliki teman wanita." Demetrio ingin sekali tenggelam ke dalam tanah saat pria asing itu menanyakan hal memalukan itu. Untung saja tidak ada yang tahu jika dia tidak pernah berkencan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jika tidak itu sangat memalukan.
****
"Ada apa denganmu, apa sesuatu terjadi saat kau berkunjung ke Mansion saudaramu?" tanya Paris saat melihat wajah Zigo yang muram dan tidak bersemangat.
Pria itu membuang napas dengan kasar. "Wanita itu, dia sama persis dengan kekasihnya. Benar-benar mengerikan."
"Ahahaaha!" Seketika suara tawa Paris menggelegar. "Apa kau tidak bisa menaklukannya Tuan Predator? Pantas saja wajahmu tidak biasa." Paris berdecak dengan tawa kecil. "Untuk apa kau merayu kekasih saudaramu, apa kau ingin merasakan menginap beberapa hari di rumah sakit ku Sayang?"
"Oh God! Jangan sampai itu terjadi. Bagaimana bisa seorang Zigo, dewa dari pada keromantisan dan keseksian mendekam di rumah sakit karena tidak bisa menaklukan seorang wanita."
"Berhentilah bermain-main dengannya Zigo, kalian adalah saudara. Kau tidak seharusnya merayu kekasihnya."
"Hei! Apa kekasihku ini sedang cemburu?" Zigo memainkan jemarinya pada bahu mulus yang tertutup kemeja putih. Namun masih bisa terlihat karena kain yang membalutnya terlihat jarang.
"Sejak kapan aku seperti itu, kau bahkan bisa bercumbu di dapanku tanpa merasa canggung. Aku hanya memperingatimu agar tidak merusak hubungan persaudaraan kalian Zigo."
Zigo mendekat, dan memeluk kekasihnya, dia tahu Paris memang tidak pernah cemburu saat dia sedang merayu wanita lain atau bercumbu dengan wanita lain, wanita ini selalu memberikan kebebasan sepenuhnya kepada Zigo. Dia tidak pernah menuntut untuk selalu dicintai atau di nomor satukan. Itu yang membuat Zigo tidak bisa melepaskannya, terlepas dari kegilaannya akan **** dengan hobinya yang selalu bergonta ganti wanita. Paris adalah satu-satunya tempat untuk kembali, dia selalu menjadi bagian paling penting di dalam hati Zigo.
"Kau tahu kenapa aku tidak bisa melepaskanmu?"
Paris memutar kedua bola matanya malas. "Tentu saja karena aku satu-satu wanita yang mau bertahan dengan kegilaanmu."
"Hai ragione tesoro. (Kau benar sekali Sayang.)"
Paris berdecak dengan tawa. "Baiklah Tuan predator, aku harus melihat pasienku setelah itu kita akan berkencan."
"Tentu saja Sayang."
Paris memberikan ciuman singkat untuk kekasihnya sebelum meninggalkan ruangan.