Endless

Endless
Chapter 81



Tidak ada yang bisa menghancurkan keterdiaman Malvin dan tatapan tajamnya. Bahkan keberanian Demetrio tidak cukup untuk sekadar membuka pembicaraan. 2 hari tidak sadarkan diri karena terluka, Malvin terbangun dengan melihat wajah wanita yang mati-matian dia lindungi ada di depan matanya.


Ternyata, isi pesan yang di kirimkan Garilla adalah untuk memberi tahu bahwa Andrea berada di Mansion. Dia tiba di Italia karena gelisah menunggu kedatangan kekasihnya yang selama 1 bulan lamanya tidak muncul di peulba.


"Sebaiknya kau keluar Demetrio."


"Sì, Signore."


Raut wajah Andrea berubah tegang seketika saat pria yang dia pikir akan menyelamatkannya dari amukan sang dewa kematian malah keluar tanpa menatapnya.


Wanita itu terdiam cukup lama. Tidak terfikir olehnya Malvin akan semarah ini. Dia bahkan belum memberi maaf untuk pria bermata hitam itu karena tidak menepati janjinya untuk menjemputnya di Puelba. Namun, kini dia yang harus meminta maaf atas kesalahannya yang datang ke Verona tanpa memberi kabar terdahulu.


"Maafkan aku karena membuatmu khawatir. Aku --"


"Tinggalkan aku sendiri!'


"Tapi Signore?"


"Aku bukan majikanmu!"


"Apa!"


"Keluar!"


"No! Aku datang untuk menemuimu, teganya kau mengusirku."


"Aku tidak menyuruhmu untuk datang Andrea, jadi pergilah. Keluar dari kamarku."


Ucapan keras Malvin membuat Andrea tersentak, Matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di mana Malvin mengusirnya dengan kasar. Wanita berambut panjang itu menunduk untuk menghindari tatapan pria di depannya.


"Kenapa kau masih di situ? Keluarlah!"


Keduanya bertatap saat Andrea mengangkat kepalanya. Dan manik hitam Malvin melihat kesedihan dalam manik biru kekasihnya, membawanya ikut tenggelam dan merasakan kekecewaan itu.


"Maafkan aku."


"Kenapa kau harus melakukan-nya?"


"Seharusnya kau memberi tahukan kedatanganmu terlebih dahulu Andrea, jika saja anak buah Marco melihatmu di sini maka mungkin saja aku bisah membanjiri Verona dengan darah."


Seakan ada batu besar yang menghantam dadanya, papas Andrea sesak karena menahan tangis. Wanita 22 tahun itu mengingat saat di mana Malvin menyerang dengan membabi buta saat Marco menculiknya.


"Kau tahu, saat itu aku menyalahkan takdir dan Tuhan karena tidak menahanmu waktu itu. Dan sekarang bagaimana bisa kau datang tanpa mengatakan apa-apa padaku."


"Aku minta maaf, hal ini tidak akan terulang lagi. Lagi pula aku tidak tahu yang menghubungi siapa. Ponselku hilang saat Marci menculikku mungkin saja itu terjatuh di taman."


Malvin membuang napas berat. Dia tahu tidak seharusnya dia marah seperti ini, hanya saja dia tidak ingin jika Andrea terluka lagi. Aplagi dia baru saja menghadapi para musuh-musuhnya hingga terluka parah. Beruntung mereka bisa di musnakan. Jika tidak, melihat kedatangan Andrea adalah kesempatan emas bagi mereka untuk menyerang kelemahannya.


"Apa kau masih marah?"


"Tidak!"


"Lalu apa?" tanya Andrea menghapus sedikit air mata yang sempat keluar.


"Aku hanya kecewa karena kau menyimpan hal penting ini dariku. Apa kau takut aku tidak akan menepati janjiku untuk menjemputmu?"


Keterdiaman Andrea membuat Malvin yakin jika itu adalah alasan yang membuat dia berani datang ke Verona. "Mendekatlah."


Wanita bermata abu-abu itu berjalan pelan mendekat ke arah pria yang terbaring dengan perban yang cukup besar di kakinya. Dia duduk di kursi yang di letakan di sisi kanan ranjang sesuai dengan arahan yang di berikan oleh Malvin.


Malvin menatap manik wanita yang dia rindukan itu dalam-dalam. Melunakan kemarahannya sejenak. Andrea layaknya, nyawa, jantungnya, napasnya, kehidupannya, tidak ada yang lebih penting saat ini terkecuali keselamatan dan kebahagiaannya. Dan saat ini yang Malvin lakukan bukanlah memberi kebencian dengan kemarahan yang dia perlihatkan. Melainkan rasa sayang, perhatian, perlindungan serta cinta yang tidak ingin jika wanita yang dia cintai mengalami hal yang buruk.


"Berjanjilah padaku untuk tidak mengulanginya lagi."


Andrea mengangguk pelan. "Aku berjanji, ini adalah yang pertama dan terakhir."


"Maaf, jika amarahku membuatmu takut."


Andrea menggeleng dengan air mata. "Tidak! Aku tahu kau hanya mengkhawatirkanku. Dan aku salah karena tidak mengabarimu."


"Oke baiklah. Berikan aku pelukan."