Endless

Endless
Chapter 146



Malvin tersenyum, dia tidak menjawab ucapan Andrea. Namun, sorot matanya jelas terlihat jika dia sangat mencintai wanita yang ada di dalam pelukannya. Diam-diam ia mengeram di dalam hati, aroma tubuh Andrea membuat dia gelisah.


"Sa-sayang .... Bisakah kau sedikit menjauh dariku?"


"Tidak apa-apa, aku sudah meminta ijin kepada Ayah agar kau menemaniku tidur. Kau tahu bukan, aku selalu terbangun untuk mencari pelukanmu," jawab Andrea tanpa melihat wajah kekasihnya


"Tidak, bukan itu ma--" Kalimat Malvin terjedah karena Andrea yang tiba-tiba menciumnya.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menahan hasratnya. Andrea sama sekali tidak mengerti dan terus mendekatkan tubuhnya. Bau harum tubuh kekasihnya semakin membuat dia berfantasi liar. Terbiasa menumpahkan hasrat dengan Andrea membuat Malvin susah untuk menahannya. Apalagi dengan posisi mereka yang sekarang.


"Ayolah Sayang, aku takut gerakanku bisa menyakiti bayi kita, tempat tidurnya terlalu sempit. Aku akan tidur bersama Demetrio saja di kamar tamu," ujar Malvin mencari alasan untuk menghindar. Ia hendak beranjak bangun. Namun, Andrea menahannya.


"Tidak! Aku ingin tidur dengan memelukmu."


"Oh God! Andrea. Jangan memaksaku umtuk melakukannya sekarang."


"What?" Andrea melonggarkan pelukanya, menengadah menatap wajah Malvin. Mata kekasihnya sudah di penuhi oleh hasrat ingin bercinta. "Kau ingat pesan Garilla, kita tidak boleh melakukannya karena masa kehamilanku masih sangat mudah, rentan untuk mengalami keguguran."


"Sì! Aku mengerti, tapi aku sangat-sangat menginginkannya Andrea, kau terus saja tidur dengan menggesekan tubuhmu padaku, dan memeluk ku seperti ini." Malvin menatap lekat wajah kekasihnya, raut wajah memelas dengan mata di penuhi aura yang selalu ia lihat saat Malvin ingin bercinta tergambar di sana. "Aku tidak mungkin bisa menahannya sampai pagi Sayang," rintih Malvin yang saat ini sudah tidak bisa terkontrol.


"Tidak boleh sekarang Sayang." Andrea membalikkan tubuh Malvin agar tidur dengan punggung menghadapnya. "Begini saja, asalkan kau tetap di sampingku, tidak memeluk juga tidak masalah."


"Tapi--"


"Lalu apa kau ingin menuntaskannya dengan wanita lain?" Andrea memotong ucapan Malvin dengan cepat. Wanita itu duduk menatap kekasinya dengan napas terengah-engah karena emosi yang tiba-tiba memuncak.


Malvin membalikan tubuh menghadap kepada Andrea. "Apa yang sedang kau katakan, mana mungkin aku melakukan itu Andrea."


"Bukankah sudah ku katakan kita tidak bisa melakukannya, kau terus saja memaksa hanya untuk memancing emosiku agar setelah itu kau pun pura-pura merasa tertundas lalu pergi dan tidur dengan wanita lain untuk menuntaskan hasratmu itu. Benar begitu bukan."


"Andrea apa yang kau bicarakan, wanita apa? Tidak ada sekalipun aku berfikir seperti yang kau katakan tadi."


Andrea membalikan wajah dengan kasar. "Pergila! Tuntaskan gairahmu itu dengan wanita-wanita di luar sana."


"Andrea!"


"Baiklah, Aku akan tidur bersama Demetrio kalau begitu."


Andrea berdecak. "Alasan yang tepat."


Malvin terkekeh. "lalu aku harus bagaimana, kau sendiri yang mengatakan tidak mau, aku ingin menghindar kau juga tidak mau, aku ingin tidur dengan Demetrio kau juga tidak mau, melakukannya dengan wanita lain juga tidak boleh."


"Oh! Jadi benar kau ingin melakukannya dengan wanita lain?" pekik Andrea dengan sedikit keras.


"Bu-bukan begitu Sayang, aku hanya mengulangi ucapanmu," ujar Malvim gugup. Ia takut jika Andrea akan salah paham.


"Pergi! Pergi. Keluar dari kamarku. Pergi kau."


"Sayang, ini salah paham, aku tidak bermaksud mengatakan itu.


"Jika tidak sengaja apa kau ingin menyimpannya di dalam hati dan pergi diam-diam?"


"Bukan! Bukan seperti itu Sayang."


Pergi!" Andrea melemparkan semua batal ke arah Malvin yang hendak mendekatinya. "Aku tidak ingin melihatmu, bahkan di rumahku kau berani memikirkan wanita lain."


"Andrea tenanglah kau sedang hamil jangan bergerak sekasar ini."


Malvin menahan gerakan Andrea yang terus memukul dadanya saat ia sudah di hadapnya, wanita itu bahkan turun dari pembaringan dan mendorong keras tubuh kekasihnya agar terseret keluar kamar.


Prang.


"Oh astaga!" Malvin kaget saat Andrea Membanting pintu dengan keras.


Suara itu terlalu keras hingga membuat semua orang terbangun. Malvin terlihat salah tingkah saat sadar ia di usir keluar hanya menggunakan celana pendek dan tidak memakai baju. Pria bermanik hitam itu menoleh pelan pada wajah penuh pertanyaan Dayla, Lazaro dan Marisa juga Demetrio. "Apa wanita hamil selalu sekejam ini?"


Keempat orang itu tertawa menatap calon penghuni baru keluarga Lazaro. Penampilan dan ekspresi Malvin benar-benar menyedihkan.