Endless

Endless
Chapter 187



Pagi ini Kembali seperti biasa, ke empat orang itu berkumpul kembali di ruang kerja Malvin. Namun kali ini cukup berbeda, Selena datang dengan lebam di sekujur tubuhnya. Bahkan rambut panjangnya menjadi samgat tidak karuan, entah gaya apa yang ia pakai pada rambutnya saat ini, terlihat panjang dan pendek di mana-mana.


"Selena! Ada apa dengan wajah dan rambutmu, apa kau baru saja melakukan operasi plastik?" tanya Zigo menahan tawanya.


Mata wanita itu menoleh dengan tajam ke arah Zigo, sedetik setelahnya ia merubah wajahnya menjadi sedih dan mendekati Malvin. "Malvin maafkan aku."


"Aku sudah sangat memberi pengertian padamu Selena, tapi kau sudah merusak rasa belas kasihku itu."


"Maaf." Selena menundukkan wajahnya dalam-dalam. Bagaimana ia tidak takut, dia berhadapan dengan ketua kelompok Mafia. Semua itu karena rasa cinta dan obsesinya yang terlalu besar kepada Malvin.


Ternyata Malvin tahu apa yang dia lakukan. Namun, sudah sejak awal ia menaruh curiga kepada Selana. Kan tetapi ia terus memberi kesempatan mengira Selena akan menyerah dan menghentikan rencana-rencana gilanya. Ia hanya pura-pura mengatakan tidak tahu kepada Andrea. Karena jika wanita hamil itu tahu, maka bisa di pastikan, bukan Selana yang di kirim wanita itu ke neraka melainkan dirinya.


Malvin beranjak dari tempat duduknya, mendekat ke arah Selena. Wanita itu semakin menunduk karena takut. Aura yang di keluarkan Malvin membuat tubuh Selena bergetar hebat. Malvin menarik dagu Selena dengan sangat kasar, memaksa agar wanita itu menatapnya.


"Jika bukan karena aku membutuhkanmu untuk membereskan Daniel, dari sejak awal sudah ku patahkan batang rahangmu ini. Berhenti mengelabuiku dan membuat kekasihku cemburu, atau kau akan benar-benar di kirim ke neraka."


"Malvin!" Selena memekik. Namun, terdengar seperti sedang memohon. "Kau bahkan tahu jika aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu Malvin. Semua yang ku lakukan sekarang demi mendapatkanmu," teriak Selana dengan nada sedikit tinggi. Entah dari mana keberanian untuk meneriaki pria di depannya. Padahal baru saja ia gemetar karena tatapan Malvin.


Demetrio dan Zigo yang sedari tadi mengamati mereka hanya bisa terdiam di tempat. Zigo bahkan menggelengkan kepala karena tidak mengira jika Selan benar-benar nekad. Dia mengira jika wanita itu masih Selana yang dulu, yang polos dan gila akan gairah bercinta dengan Malvin. "Dia terlihat seperti Arsula," gumam Zigo pelan.


"Kau berani berteriak padaku dengan apa yang sudah kau lakukan. Apa kau benar-benar tidak ingin hidup?"


"Ma-Malvin, aku mohon ampuni aku. Jangan membunuhku, aku mohon!" Selena seketika menarik diri dan bersujud di bawah kaki Malvin. Perempuan yang lekuk tubuhnya terlihat di mana-mana itu berulang kali memohon meminta agar Malvin mau memafkannya.


"Si-si. Aku mengerti." Selena segera berdiri, memperbaiki gaun merah yang seperti kehabisan bahan itu dan melangkah pergi.


"Tunggu!" Malvin menahan langkah Selena. Pria bermata hitam legam itu mengangkat tangan menadah ke arah Selena. "Ponselku. Kembalikan ponsel yang kau ambil semalam dariku."


Glek .... Selena menelan ludah kasar saat Malvin meminta ponselnya. Mata wanita itu terbuka lebar karena terkejut. "Dari mana Malvin tahu jika ponselnya aku ambil. Apa dia melihatnya tapi pura-pura tidak tahu?" Selena bergumam di dalam hati. Bertanya-tanya, kenapa pria ini tahu segalanya tapi tetap membiarkannya.


"Selena, ponselku!"


Karena kaget di teriaki lagi, Selena langsung bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel Malvin dari sana. Ia memberikan benda pipih itu dengan tangan yang gemetar.


"Kau benar-benar ingin mengancurkan hubunganku dengan Andrea? Bahkan semua panggilan dan pesannya kau blokir." Malvin menengadah setelah mengecek ponselnya. Pria itu mendesah lalu berkata. "Tidak ada yang bisa memisahkanku dengan Andrea, kau ataupun Tuhan sekalipun."


Pria itu melangkah tegas meninggalkan Selena yang sudah berlinang air mata. Benar-benar tidak dapat di percaya, mereka sudah bersama berhari-hari, bahkan Selena melakukan hal-hal yang memancing gairah Malvin padanya. Namun, tetap saja, pria itu tidak tergodah dan malah kembali menjebaknya seperti ini.


"Apa yang kurang dariku, apa yang tidak bisa membuatmu mencintaiku Malvin. Apa!"


Teriakan Selana memancing Zigo untuk mendekat, pria yang terkenal dengan senyuman menggodanya itu mendekatkan wajahnya tepat di telinga Selena. "Kau terlalu nakal Sayang, Malvin menyukai wanita polos." Zigo berlalu mengikuti langkah Malvin setelah mengatakan itu. Begitupun dengan Demetrio, pria dingin itu hanya melewati Selena tanpa berkata apa-apa.


Selena menjadi semakin tertantang, ia menghapus air matanya dan mengepalkan kedua tangannya. "Aku tidak akan menyerah dengan mu Malvin. Kau harus jadi milikku, suka atau tidak aku akan terus memaksamu."


"Teruslah berusaha dan teruslah gagal," sahut Zigo sebelum mereka benar-benar menghilang di balik pintu.