
"Siapa?"
"Demetrio, sepertinya ada hal yang ingin dia bicarakan denganku." Malvin mengelus pada dagu kekasihnya. "Boleh aku bicara sebentar dengannya di taman?"
Andrea tersenyum penuh pengertian. "Si, pergilah! Aku juga akan membersihkan diri."
Malvin memberikan kecupan singkat di kening Andrea. "Aku mencintaimu," ucapnya lalu melangkah pergi. "Aku janji tidak akan lama," ucapnya lagi sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
Setelah meminta ijin, Malvin melangkah menuju taman belakang di mana Demetrio sedang menunggunya. Malvin menatap Demetrio dengan tatapan yang tidak ramah. "Ada apa?" ujarnya ketus.
Demetrio berdecak dengan tawa kecil. Sadar jika ia baru saja mengganggu kesenangan sahabatnya bersama sang kekasih. Entah apa yang sedang mereka lakukan hingga wajah Malvin terlihat begitu kesal padanya. "Apa yang sedang kalian lakukan di waktu sore seperti ini, apa aku mengganggu kencan manis yang sedang pemanasan," ujarnya dengan tatapan mengejek.
Malvin tidak menyukai ejekan itu, dia berdiri dengan melipat kedua tangan di dadanya seraya berkata. "Ada masalah apa, katakanlah! Andrea menunggu ku di kamar."
Dengan wajah yang masih mengejek Demetrio tersenyum. Namun, sedetik setelahnya ia meruba wajahnya menjadi datar dan suaranya melambat. "Aku .... aku dan Marisa. Kami ...."
Malvin menyipitkan mata, menatap Demetrio yang terbata-bata. "Kami?" ujarnya mengulangi ucapan Demetrio.
Demetrio tersenyum kaku. "Aku ingin mengatakan tentang hubunganku dengan Marisa, tapi sebelumnya tolong, jangan katakan apapun kepada Andrea."
Demetrio begitu tegang, baru kali ini ia merasakan hal seperti ini, jatuh cinta kepada wanita yang baru beberapa hari ini ia kenal. Bahkan keduanya sering bersitegang. Namun, entah kenapa mendengar Marisa menceritakan perjalanan hidupnya, Demetrio langsung jatuh cinta dan tanpa basa-basi ia langsung mengatakan ingin menjadikan Marisa kekasihnya. Beruntungnya wanita yang berprofesi sebagai pelukis itu menerimanya meski masih sedikit terlihat keraguan di wajahnya.
"Baiklah, aku tidak akan memberitahukan apapun kepada Andrea. Sekarang katakan, ada apa yang terjadi antara kau dengan Marisa," ujar Malvin menahan tawa. Ia tahu jika Demetrio pasti akan mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja dia dan Andrea bahas.
"What?" pekik Malvin pura-pura terkejut. "Apa kau gila! Dia adalah saudara Andrea, bagaimana bisa kau melakukan itu."
Demetrio menyapu wajahnya kasar. "Aku tahu, untuk itu aku katakan jangan beritahu apapun kepada Andrea. Jika dia tahu, maka segala cacian akan dia keluarkan untuk ku." Demetrio membuang napas kasar. "Kekasihmu itu akan mengutuk ku sepanjang waktu."
"Tapi apa kau yakin Marisa sudah menerimamu? Maksudku kau sudah memastikan jika dia juga menyukaimu?
Demetrio melirik Malvin dengan tajam. "Jadi apa kau pikir aku sedang berhalusinasi bahwa wanita itu menyukaiku?"
Malvin sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, pria bermanik hitam itu tertawa terbahak, merasa geli dengan sahabatnya sendiri. Dulu saat ia sedang begitu tergila-gila kepada Andrea, Demetrio mengejeknya dengan kata-kata menggelikan. Sekarang malah kata-kata berbalik padanya.
"Hentikan tawamu aku tidak menyukainya."
"Dasar kaku. Hahaha, untuk apa kau setegang itu," ujarnya masih terkekeh hingga Demetrio menatapnya dengan tajam.
"Hentikan!"
"Hahahah ...." Malvin terus saja tertawa, ia tidak peduli dengan wajah kesal Demetrio padanya. "Tenangkan dirimu, kekasihmu akan lari jika kau terus tegang dan marah-marah seperti ini Tuan es."
"Diamlah Malvin, memanggilmu untuk berbagi cerita malah semakin membuatku kesal." Demetrio memandang pria itu dengan malas karena Malvin bukannya memberi solusi agar dia merasa tenang, malah terus mengejeknya dari tadi.
Karma itu memang benar-benar ada, ketika kita mengejek orang lain maka hal itu pasti akan kita alami. Begitulah yang sedang di rasakan Demetrio saat ini.