Endless

Endless
Chapter 178



"Hallo, Malvin. Akhirnya kita bisa bertemu lagi."


"Hallo Selena." Malvin menyapa kembali sahabat lamanya dengan tatapan yang dangat biasa. Berbeda dengan Zigo yang sangat bersemangat.


Selena adalah sahabat lama mereka yang kebetulan adalah mantan kekasih Daniel. Dari Zigo, mereka mendapat informasi jika Daniel masih mengejar-ngejar wanita itu. Awalnya Malvin dan Demetrio tidak menyetujui menggunakan Selena sebagai umpan karena, Selena pernah menggilai Malvin sejak jaman kuliah dulu. Namun, hari pernikahan mereka semakin dekat, jika keadaan tidak segera membaik, bisa jadi pernikahan akan di undur dan Andrea akan merasa kecewa. Sudah banyak yang ia siapkan, membatalkan hanya akan membuat perseturuan baru.


"Ciao dolcezza. (Hallo Manis.)"


Zigo menyunggingkan senyum mengodanya kepada Selena. Ini bukan karena ia tertarik pada wanita yang memakai pakaian yang sangat terbuka dengan belahan dada yang cukup dalam di depannya. Namun, hanya sebagai pengalihan agar Selena tidak menempel kepada Malvin.


"Sudah sangat lama kita tidak minum bersama bukan? Bagaimana jika malam ini kita berpesta, anggap saja sebagai perayaan menyambut kedatanganmu."


"Ya Tuhan! Kau benar. Sudah cukup lama kita tidak melakukannya. Mungkin 4 tahun, bukan .... bukan, 3 tahun. Ya! 3 tahun kita tidak pernah lagi bertemu," sahut Selena.


"Jadi kau ingin berpesta denganku?"


Selena tersenyum masam, samar bahkan tidak ada yang menyadarinya. Dia menginginkan Malvin mengingatnya. Namun, kenapa malah Zigo yang lebih dulu mengatakannya. Wanita itu mengabaikan pertanyaa Zigo dan beralih menatap Malvin.


"Bagaimana menurutmu Malvin, bukankah bar ini milikmu." Selena melirik keseluruhan bagian bar dengan menyeringai. "Kau setuju bukan, jika kita sedikit berpesta di sini."


"Lakukankah jika kalian ingin. Tapi maaf, aku tidak bisa bergabung."


"Kekasihku tidak menyukai bau alkohol, dia tidak akan mau tidur denganku jika aku pulang dengan keadaan mabuk."


"Jika dia tidak mau, maka kau bisa datang dan tidur di ranjangku," ujar Selena hendak meraih dagu Malvin. Namun, tangannya di tepis keras oleh Demetrio.


"Jaga sikapmu Selena. Malvin sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan menikah. Dia bahkan akan segera memiliki anak. Haruskan kau mengatakan itu." Demetrio menggertakan giginya geram dengan sikap Selena yang terus saja menggoda Malvin. Ini yang membuatnya enggan bekerja sama dengan wanita rubah seperti Selena.


Selena berdecak kesal. "jadi kekasihnya sedang hamil?" Wanita itu membatin dengan tatapan tidak suka. "Lihat saja, jika aku tidak bisa menaklukanmu, jangan panggil aku Selena," gumam Selena di dalam hati. Kegilaannya terhadap Malvin sama sekali tidak pernah memudar. Saat Zigo menghubunginya untuk bekerja sama, dia menyetujuinya tanpa berfikir panjang. Ini adalah kesempatannya untuk kembali mendapatkan cinta Malvin. Dulu pria itu tidak bisa ia dekati karena Arsula. Namun, sekarang menghadapi Andrea sepertinya bukan hal yang sulit.


"Jika Malvin tidak mau, maka kau bisa mengajakku menempati ranjangmu Manis." Zigo mencium bahu mulus Selena dengan sensual. Pria dengan julukan predator itu benar-benar menunjukan skilnya demi melindungi saudaranya dari godaan.


"Menjauh dariku Zigo, aku menginginkan Malvin bukan dirimu."


"Sayangnya aku menginginkan orang lain. Dan sama sekali tidak ada tempat untukmu," ujar Malvin dengan datar. Tatapan dinginnya menusuk hingga wanita dengan rambut pirang di depannya hampir saja meneteskan airmata karena sakit hati dengan pernyatannya.


"Kau lihat saja nanti, aku akan membuat kau berada di atas ranjangku. Sikap sombongmu itu akan aku taklukkan," batin Selena. Wanita dengan bibir seksi itu menyeringai sambil menatap sensual ke arah Malvin.


"Lebih baik kita fokus pada masalah yang akan kita bahas." Demetrio melirik dengan tatapan tajam ke arah Selena. "Berhenti berfantasi liar kepadanya, jika kau tidak ingin berakhir seperti Arsula," bisiknya pelan di telinga Selena.


Selena menelan salivanya kasar, ternyata Demetrio sama sekali tidak berubah. Dia masih sama dari dulu. Dingin, kaku dan juga menyeramkan. "Baiklah, apa yang kalian inginkan dariku?"