Endless

Endless
Chapter 183



"Andrea,, apa yang kau lakukan di sini, siapa yang membawamu?"


"Aku."


"Marisa!!" Mendadak gugup, Demetrio yang tadinya keluar untuk menyiapkan mobil kini menjadi harus menenangkan Marisa. Kekasihnya jadi ikut-ikutan marah padanya dan terpaksa menemani Andrea datang.


"Dimana Malvin kenapa sampai sepagi ini kalian belum juga kembali. Apa yang kalian bicarakan hingga semua panggilan dan pesanku dia abaikan. Katakan!" Andrea berteriak keras hingga urat nadi pada lehernya terlihat jelas. Wanita yang kehamilannya sudah memasuki semester ketiga itu berubah menjadi sangat menyeramkan.


"Andrea, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tadinya kami akan kembali. Namun, Selena mangajak untuk minum dan ...."


Demetrio menjedah kalimatnya seraya sesekali mencuri padang kepada Marisa yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


"Dan apa!" Andrea sedikit menaikan suaranya karena tahu maksud dari kalimat yang di ucapkan Demetrio. Tanpa menunggu jawaban pria dingin itu, Andrea dengan gerakan cepat menepis lengan yang Demetrio gunakan untuk menghalangi jalanya dan segera melangkah masuk ke dalam bar.


"Andrea tunggu! Kau mau kemana?" tanya Demetrio saat wanita itu berusaha melewatinya.


"Aku mau masuk. Aku ingin melihat seperti apa Nona Selena yang kalian banggakan itu," ucap Andrea dengan serius.


"Tunggu Andrea, tunggu!"


Demetrio mengikuti langkah panjang Andrea dan sama-sama berhenti saat mata Andrea menangkap kejadian luar biasa di depan matanya. Bukan hanya Andrea, Demetrio bahkan membuka lebar mata dan mulutnya saking tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. "Se--Selena?"


"Menjauh dari kekasihku atau aku hancurkan wajah cantik mu itu." Suara tegas dengan geram itu membuat gerakan Selena terhenti.


"Aaah .... Andrea." Selena menjerit keras sedikit menjauih dari tubuh Malvin.


"Sebaiknya kau rapikan bajumu sebelum ada yang melihatmu Nona Selena," ujar Andrea yang sudah berada di belakang Selena.


Wanita itu menaikan sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang terkesan jahat lalu berbalik dengan wajah ketakutan. "Maaf aku .... Aku benar-benar tidak mengira jika Malvin akan melakukan ini."


"Maksudmu, kau tidak mengira jika kekasihku akan melecehkanmu?" Andrea bertanya sungguh-sungguh karena pernyataan Selena yang terdengar aneh.


"Hahahha!! Kau satu-satunya wanita bodoh yang mengira pria di depanmu ini menginginkan tubuh kotormu itu." Andrea sedikit membungkuk dengan wajah jatuh tepat di samping telinga Selena. "Dengar Nona Selena. Aku adalah calon istri pria yang baru saja kau peluk dan kau cium dengan rakus itu. Menjauh darinya atau aku akan mengirimmu untuk menemani Arsula di neraka." Andrea kembali menegakkan tubuhnya.


"Dan lagi, bukan Malvin yang melecehkanmu tetapi kau yang melecehkannya."


"Apa kau tidak waras! Jelas-jelas kau melihatnya," pekik Selena. Bibirnya sedikit bergetar karena ancaman Andrea yang ingin membunuhnya.


"Ya, aku melihatnya. Melihat bagaimana ekor rubahmu berubah menjadi wanita gila yang melepaskan bajunya untuk pria yang sedang tidak sadarkan diri. Apa kau tidak malu, kau bahkan memasang kamera untuk menyorot tubuh seksimu itu Nona Selena."


Andrea memberi isyrat dengan menaikan matanya untuk menuntut Selena melihat bahwa ada kamera pemantau yang terpasang tepat di atas mereka duduk. Bukan karena Andrea yang memasangnya. Akan tetapi itu sengaja di letakkan oleh Selena untuk menjebak kekasihnya.


"A--Apa maksudmu?"


Andrea memutar bola matanya, ini sudah cukup dari kesabarannya. Selena terus berpura-pira tidak melakukan apa-apa. "Berhenti pura-pura dan pergila dengan tenang."


"Andrea ini salah paham, Malvin memaksaku melakukannya, kamera itu aku sama sekali tidak tahu."


Demetrio menjadi kesal, ternyata benar dugaannya. Wanita rubah itu memang melakukan sesuatu. Pria dingin ini berjalan mengitari Selena yang berdiri kaku di tempatnya. "Sudah ku duga kau melakukan kecurangan. Sekarang katakan apa yang kau taru di dalam minumannya."


"A-aku tidak menaru apa-apa Demetrio."


"Jadi kau tidak ingin jujur." Tangan Marisa tiba-tiba menjambak rambut Selena hingga membuat wanita itu menjerit keras karena kesakitan.


"Sayang!" Demetrio kaget, dia mendekat untuk melerai. Namun, langkahnya terhenti saat Marisa menoleh dengan tatapan yang begitu tajam.


Sesaat setelah jambakkan Marisa yang membuat Selena menjerit keras, Malvin dan Zigo mulai sedikit sadar berkat Agrio. Pria itu berusaha membangunkan kedua majikannya agar sadar dan segera mendinginkan singa gunung yang sedang mengamuk.


"Andrea!!" Malvin terhentak kaget dengan kehadirannya, pria itu dan juga cukup syok melihat penampilan Selana saat ini. "Andrea aku--"


"Dasar bajingan!"