
Flash back part 2
Marisa dan Demetrio kembali ke Mansion, meski ini rasanya sangat canggung. Namun, hati wanita itu terus berbunga-bunga. Bagaimana tidak, dia dan Demetrio baru saja melewati malam panjang yang mendebarkan. Pria yang Marisa pikir sangat dingin dan kaku itu ternyata bisa lebih ber-gairah ketika di atas ranjang. Dan yang lebih membuat Marisa tercengang adalah, ternyata Demetrio bisa tersenyum.
Setelah Sampai, Dayla begitu marah karena Marisa semalam tidak pulang. Ibunya mengira jika dia kembali di jalanan dan melukis hingga pagi. Entahlah Dayla sangat tidak suka jika Marisa melukis di jalanan, padahal ia sangat suka dengan kegiatan melukisnya di jalanan itu karena banyak pengalaman yang ia dapatkan dari sana.
Bukan hanya dirinya bahkan ada banyak bahkan puluhan pelukis terkenal yang sudah tua berada di jalanan untuk sekedar menyalurkan hasrat melukis mereka dengan bebas tanpa ada tekanan dari manapun. Mereka juga tidak segan berbagi pengalaman kepada para pelukis baru seperti Marisa. Hal itu yang membuat Marisa selalu datang saat malam ke tempat itu, terkadang karena terlalu asik dia bahkan lupa jika hari sudah pagi.
Pertengkarannya dengan Dayla tidak dapat di hindari, Andrea dan Malvin yang keluar bahkan tidak bisa melerainya. Sedangkan Demetrio, dia hanya berdiri jauh mendengarkan semuanya. Setelah Andrea meredahkan amarah Dayla, Demetrio memutuskan untuk kembali ke kamar dan membereskan kopernya. Setelah selesai, hendak menemui Malvin untuk menanyakan lerdiapan mereka, dia malah mendapati Andrea yang sedang memohon kepada Dayla agar Marisa bisa ikut bersama mereka ke Puelba. Namun, sepertinya Dayla tidak menginjinkanny. Akhirnya serelah Andrea pergi, Demetrio memberanikan diri mengatakan hubungannya dengan Marisa.
"Nyonya Lazaro, ada yang ingin aku katakan," ujar Demertrio saat Dayla baru saja beranjak dari duduknya.
Dahi wanita tua itu sedikit berkerut. Antara bingung dan heran kenapa tiba-tiba Demetrio ingin bicara dengannya. "Si, duduklah." Dayla kembali duduk dan mempersilahkan Demetrio juga untuk duduk. "Katakan! Apa yang ingin kau sampaikan padaku nak Demetrio."
Begitu lembut dan penuh kasih sayang, Dayla menyebutkan nama pria yang duduk di depannya. Tidak dapat di pungkiri, jika di mata Dayla Demetrio adalah pria baik dan sopan. Dia menyukai pria ini sejak pertama kali mereka bertemu saat ia mengantarkan Andrea kembali ke Puelba. Sempat ia berfikir jika saja Demetrio mau di jodohkan dengan salah satu putrinya. Saat itu dia berfikir mustahil dengan Marisa karena Andrea terlihat dekat dengan Demetrio. Namun, jika itu Marisa, maka jelas gadis arogannya itu tidak akn cocok dengan pria baik ini.
"Nyonya Lazaro, sebelumnya aku minta. Tapi apa yang aku katakan ini sedikit sensitif."
"Sensitif?" Dayla terkekeh, melihat Demetrio yang sungkan membuat dia semakin menyukai pembawaannya.
"Tidak apa-apa, katakanlah nak."
"Aku menyukai putrimu Nyonya Lazaro."
"Apa!" Dayla tampak sangat terkejut. "Kau menyukai putriku yang mana? tidak mungkin jika Andrea kan?"
Demetrio tertawa kecil seketika. "Nyonya Lazaro, mana mungkin Andrea, dia kekasih majikanku, dan lagi pula dia sedang hamil. Yang aku maksud adalah putrimu, Marisa."
Dayla membulatkan mata saat pria yang sangat dia idamkan menjadi menantunya ini menyebutkan nama putrinya. "Kau tidak sedang bercanda bukan, Marisa? Apa yang kau sukai dari anak nakal itu."
"Astaga! Apa yang kau lakukan pada putriku! Apa kalian?--"
"Aku akan bertanggung jawab," potong Demetrio dengan cepat."
Dayla mengerutkan wajah. "Apa yang kau katakan nak, aku tidak berfikir sampai ke situ. Memangnya apa yang sudah kalian lakukan hingga kau ingin bertanggung jawab?"
"Aaa ..." Tengorokan Demetrio seperti tercekik, tiba-tiba pria dingin itu tidak bisa berkata apa-apa.
"Ya-yang pasti aku menyukai putrimu dan ingin membawanya ke Puelba. Aku ingin membawanya menemui keluargaku," ujar Demetrio mengelus belakang lehernya karena gugup. Pria itu membuang napas kasar, sedikit kikuk karena salah berbicara.
"Apa maksudmu kau ingin menikahi putriku?" Dayla bertanya dengan nada sedikit tinggi, bukan karena marah melainkan itu karena ia sangat terkejut.
"Si."
Pendar mata Dayla berkilau, ia bahkan hanya sedikit berhayal jika Demetrio menyukai salah satu putrinya, tetapi sekarang. Anak ini malah langsung melamar putrinya. "Oh Tuhan! Apa yang aku lakukan di masa lalu hingga aku di kelilingi oleh orang-orang baik ini, bahkan aku hanya bermimpi tetapi kau menjadikannya kenyataan."
"Huh?" Demetrio menganga, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan Dayla. "Maaf Nyonya Lazaro, tapi aku tidak mengerti.
Wanita tua itu tertawa. "Aku mengijinkanmu. Tetapi ...." Dayla mendekatkan wajah pada kuping anak laki-laki yang baru saja melamar anaknya. "Apa yang kalian lakukan semalam?" bisik Dayla penasaran.
"Itu ...." Mata Demetrio terangkat mengingat tentang malam panjangnya bersama Marisa.
•
•
Malam panjangnya di bab sebelah yah wkwkwkwk 🤭🤭💜