Endless

Endless
Us Eleven



Hari minggu yang cerah, dan saat membuka matanya Lou langsung dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa. Disana, tepatnya pada sofa, Alaska tidur dengan posisi meringkuk. Masih dengan setelan kemeja dan celana bahannya.


Lou turun dari tempat tidurnya, berjalan dengan langkah pelan menuju Alaska. Lou berjongkok dengan kedua tangan yang ia lipat ke atas lutut serta menopang dagunya disana. Dari dekat Lou dapat melihat kantung mata lelaki itu yang menghitam.


Tangannya terulur menyentuh wajah lelah lelaki itu, Lou mengelus bawah mata Alaska dengan telunjuknya. Wajahnya tertekuk murung, mengingat bagaimana perlakuan baik Alaska yang tak pernah ia beri balasan.


Lou mengelus pelan pipi lelaki itu "Tidur yang nyenyak" katanya.


Lou beranjak dari sana, sebisa mungkin ia menutup pintu dengan pelan. Ia masih berada di rumah Ibu, terhitung dua hari satu malam ia disini.


Lou memasuki dapur, menemukan Ibu yang sedang sibuk dengan kegiatan memasak untuk sarapan. Cukup tahu diri, Lou berjalan mendekat untuk membantu.


"Ibu masak apa, aku bantu ya?."


Ibu menoleh dengan senyum cantiknya "Baru bangun kan? Cuci muka dulu" katanya.


Lou mengangguk, tanpa perlu pergi ke kamar mandi ia langsung mendekat kearah kitchen sink dan mencuci wajahnya. Ibu yang melihat hanya bisa terdiam dengan kelakuannya.


"Susah banget ya masuk kamar mandi disana? Kamu ini, jangan gitu lagi" kata Ibu dengan kekehan kecil.


Lou meraih tisu yang ada di atas meja makan dengan kekehan ringan "Susah ih, mau buka pintu dulu."


"Yaudah, kalau udah cuci muka duduk sana. Nggak usah bantu, cukup lihat aja" Ibu mengkode kearah meja makan.


Lou membuang tisu bekas ditangannya, alih-alih duduk ia malah mendekat bertepatan dengan ikan yang Ibu goreng menyemburkan minyak panas. Lou merasa kakinya kena minyak, Ibu sudah heboh sendiri mematikan kompor.


"Udah dibilangin juga, ngeyel banget kamu tuh" suara Ibu bisa saja terdengar sampai halaman depan, karena Alaska jadi keluar kamar setelahnya.


Lou mengerjapkan matanya, Alaska keluar dari kamar dengan wajah panik. Lelaki itu langsung berlari kearah mereka.


"Kenapa?" tanyanya dengan suara berat khas bangun tidur.


"Ini loh, Lihat kakinya kena minyak. Sampai merah gitu, makannya jangan ngeyel" Ibu masih saja mengomel.


Lou mencebikkan bibirnya, merasa bersalah karena telah membuat khawatir "Mana tahu ikannya bakal bertingkah" katanya.


Alaska menggeleng, ia menarik satu kursi untuk Lou duduki "Ibu obatin aja, Aku yang masak" katanya mengambil alih.


Lou dan Ibu saling tatap sejenak. Ibu yang beranjak mengambil air dan P3K, sedangkan Lou yang sibuk memperhatikan cara Alaska memasak.


"Ibu obatin, jangan diperhatiin terus."


Lou menatap Ibu yang berjongkok didepan kakinya "Aku bisa sendiri. Ini mau dicuci sebentar kakinya."


"Ibu udah ambil air, biar Ibu aja."


"Ih nggak usah, Biar aku aja" Lou mengambil alih air yang Ibu bawa "Aku ngerasa nggak sopan kalau Ibu kayak gini" katanya.


Ibu segera bangkit, memberi salep pada Lou "Obatin sendiri kalau gitu. Ibu mau keluar sebentar."


Lou langsung saja memberi obat pada kakinya setelah Ibu pergi. Ia menutup kembali salep dan meletakkan di atas meja.


Karena tidak puas menatap Alaska dari belakang, ia mendekat. Berdiri di samping Alaska yang sibuk menyiapkan sayur untuk dimasak.


"Mau masak apa?."


Alaska merentangkan sebelah tangannya, memundurkan tubuh Lou"Duduk sana, gue masak dulu. Nanti kita bicara"katanya.


Lou patuh, ia kembali duduk dan mengamati Alaska. Sepersekian menit kemudian makanan sudah siap, Ibu baru saja kembali setelah Alaska siap menyajikan makanan di meja.


"Ibu habis beli susu diluar."


"Yaudah kalau gitu, buat Alaska aja."


Mereka semua sudah duduk dengan tenang, dan bersiap makan. Ibu yang mengambilkan nasi beserta lauk.


Lou tersenyum menatap makanan di piringnya, karena ia tidak pernah dapat ini dari Mamah. Ia melirik Alaska yang juga nampak diam.


"Ayo makan."


...


Setelah makan, Alaska dan Lou mandi secara bergantian. Ibu pergi ke toko setelah mereka makan, dan sekarang kedua orang itu sedang berada di ruang keluarga, menonton televisi yang menanyangkan film yang pastinya diketahui banyak orang, Titanic.


Ini kali pertama Lou menonton film selain Tangled bersama Alaska. Lou sangat fokus dengan filmnya, sementara Alaska sibuk memperhatikan ekspresi gadis itu sepanjang film diputar.


Tiga jam lebih film itu diputar, Lou cukup sedih dengan ending film tersebut. Ia memeluk Alaska dengan erat, menangis sesekali memukuli Alaska.


"Cuman film" kata Alaska heran dengan reaksi gadisnya yang sungguh brutal memukulinya.


Lou melepaskan pelukannya, meraih kotak tisu diatas meja. Mengelap air mata dan ingusnya secara berkala.


"Itu kisah nyata" katanya masih dengan tangis yang belum usai.


Alaska menghela nafas pelan "Kejadiannya emang nyata, tapi Rose sama Jack itu cuman karakter fiksi. Mereka nggak benar-benar ada" jelasnya.


Lou mengangguk "Tapi tetap aja sedih" katanya membela diri.


Alaska meraih tisu ditangan Lou, menghapus sisa air mata gadis itu "Iya, emang sedih" katanya.


"Kalau lo jadi Jack, apa lo bakal lakuin hal yang sama?" Lou menatap Alaska dengan matanya yang berair.


Alaska tersenyum "Gue bakal lakuin hal yang sama. Tapi kalau lo yang ada di posisi Jack, gue bakal ikut mati sama lo" Alaska mengelus rambut Lou dengan sayang "Gue nggak akan bisa hidup tanpa lo, tapi lo bisa hidup tanpa gue" katanya tulus.


Tapi Lou jelas tahu, dibalik kata itu pasti akan ada sakit hati yang dalam. Lou sadar bahwa selama ini ia sangat bergantung pada Alaska, lelaki itu salah jika mengatakan ia bisa hidup meski Alaska tak ada.


Lou berdehem pelan, enggan membicarakan hal ini lebih lanjut "Lo kapan kesini?" katanya melenceng dari topik.


Alaska mendengus, tahu sekali bahwa Lou tidak pernah ingin membahas tentang perasaan "Gue dengar lo kabur dari Sea, makannya gue cepat pulang semalam."


"Gue nggak kabur" protes Lou tak terima.


Alaska mengangguk "Jadi kemana lo kemaren? Sea udah tiga kali bolak-balik cari lo dan sama sekali nggak ketemu sama lo. Gue sampai lebih dulu dari lo ke rumah ini, dan gue baru lihat lo jam sembilan disini" jelasnya.


Lou menggigit bibir bawahnya, tidak mungkin ia akan berkata jujur. Lou tidak ingin Alaska terlibat dalam masalahnya, karena hal ini tidak akan semudah yang ia pikirkan.


"Gue main kerumah Anin" jelas saja itu kebohongan.


"Gue udah bilang jujur sama gue, kenapa lo bohong?" Alaska menarik Lou agar lebih dekat padanya "Lo nggak lagi sembunyiin sesuatu kan?" tanyanya penuh intimidasi.


"Itu, lo jangan marah ya" Lou memperhatikan wajah Alaska, saat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya barulah ia kembali berucap "Gue ke gramedia, beli novel." katanya.


"Siapa penulisnya?."


"Penulis kesukaan gue."


Damn! Alaska tahu itu sebuah kebohongan. Karena penulis kesukaan Lou meninggal beberapa bulan lalu, dan orang itu juga tidak mengeluarkan buku seri baru. Karena Alaska membantu Lou membeli buku seri terakhir itu dua bulan lalu.


Jadi, kemana Cella-nya pergi?


...