
"Apa dia baik-baik saja?"
Dokter yang memang selalu memeriksa keadaan Malvin itu mengangguk. "Pastikan dia meminum semua obatnya. Dan ingat, dia tidak boleh mengalami tekanan."
"Sì, terima kasih sudah mau datang dengan jadwalmu yang cukup padat."
"Itu sudah menjadi kewajibanku." Dia menepuk bahu Demetrio sebelum keluar. "Wanita itu bisakah kau menenangkannya, isakannya membuat kupingku sakit."
Andrea menatap Demetrio dengan datar. "Apa dokter itu baru saja mengatakan ingin mengusir ku?"
"Kau memang tidak seharusnya ada di sini Andrea." Tatapan mata Demetrio terlihat dingin, dia menunjukkan rasa ketidaksukaan yang nyata kepada wanita Puelba itu.
"Aku tidak akan pergi dan akan tetap di sini. Bukankah kau yang mengatakan aku mampu menyembuhkan lukanya."
Demetrio tertawa hambar. "Kau benar, satu-satunya wanita yang bisa membuatnya pulih dengan cepat adalah kau, begitupun kau adalah orang yang membuat penderitaannya itu kembali lagi."
"Aku ...." Andrea tergagap, semua ucapan Demetrio bagaikan pukulan palu di dadanya. Tidak ada yang salah dari semua kalimat itu. Wanita itu menunduk dengan lemas, meremas pada ujung bajunya karena merasa sesak yang cukup di bagian dada. "Maafkan aku, ini tidak akan terulang lagi."
"Maaf tidak bisa mengembalikan keadaan Andrea, renungi kesalahanmu itu di luar dan biarkan Malvin istirahat. Jangan menangisinya seakan dia akan mati."
"Tetapi--"
"Andrea .... " Demetrio memotong dengan cepat kalimat wanita bermata abu-abu itu. Dia memijat pelipis karena emosinya saat ini benar-benar sudah di ubun- ubun. Jika saja dia bukan kekasih Malvin, mungkin saja Demetrio sudah menyeretnya keluar.
"Bisakah kau menjadi orang yang patuh? Sedikit saja Andrea sedikit saja jangan membuat masalah. Malvin memiliki trauma kehilangan Andrea, dia akan drop ketika merasa sesorang meninggalkannya. Dia selalu seperti ini, dan itu akan cepat berlalu jika keadaan sekeliling tenang. Jika kau terus di sini dan menangis seperti ini, isakan mu itu akan mengganggunya dan dia akan terus berfikir kau dalam keadaan tidak aman. Dia akan semakin gelisah karena meskipun dia tertidur alam bawa sadarnya masih bisa menangkap apa yang terjadi di sekitarnya. Apa kau mau membuatnya tidak bisa terbangun? Apa itu yang kau mau huh!"
"Kau tidak bisa belajar dari kesalahanmu, kau selalu bertingkah sesuka hatimu tanpa berfikir orang lain mungkin akan menderita. Kau tahu, sejak kau kembali ke Puelba, Malvin sangat menderita, dia bahkan tidak pernah kembali ke Mansion, hanya alkohol yang mampu menenangkan pikirannya, dan sekarang setelah semua yang sudah dia lakukan padamu kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan membuat dia terluka lagi, kau adalah wanita yang paling egois Andrea."
Andrea terpaku di tempatnya, tidak ada kata yang mampu dia ucapkan selain maaf. Melihat Demetrio yang begitu dingin dan selalu tidak ingin ikut campur berkata begitu banyak membuat lidah Andrea yang selalu memiliki banyak pertanyaan itu kaku.
"Dewasalah Andrea, jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru hanya karena sesuatu itu tampak salah di awal. Malvin punya alasan kenapa dia membunuh Arsula, dan kenapa dia datang ke pemakaman itu."
"Aku tahu, aku salah. Aku benar-benar menyesalinya."
"Kalau begitu bisakah kau di luar sebentar, biarkan dia istirahat. Aku akan berjaga di sini, ketika Malvin terbangun nanti aku akan memanggilmu."
Andrea membereskan air mata dan riasan wajahnya yang berantakan. Tidak ingin melawan lagi, semua yang di ucapkan Demetrio itu benar, seharusnya dia tenang, bukannya menangis dan terus berteriak menuntut agar pria itu terbangun. Dia baru menyadari, di balik tatapan datar dan sikap cueknya, Demetrio ternyata adalah sahabat yang baik. Dia benar-benar menjaga sahabatnya.
"Aku akan menunggu di kamar tamu," ucapnya hendak melangkah. Namun, tiba-tiba Demetrio menahan tangannya hingga langkah itu terhenti.
"Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin Malvin kembali pada keadaan seperti saat Daisy meninggalkannya."
Wanita berambut cokelat itu tersenyum, meskipun sedikit ada rasa sakit hati dengan perlakuan Demetrio, Andrea memakluminya. Saat ini, dia tidak ingin menimbulkan masalah lagi, Malvin adalah prioritas utamanya. Pria itu harus cepat membuka mata dan menerima permintaan maaf darinya.
"Kau harus terus menjaganya dan katakan padanya jika aku sangat membenci sahabatnya."
Demetrio tertawa. "Kau harus mengatakannya sendiri ketika dia bangun nanti."