
Andrea terlihat gelisah, entah sudah berapa lama dia menatap pintu kecil yang menuju lantai bawah tanah di mana Arsula berada. Sudah 1 jam setelah Malvin membawanya ikut bersama, pria itu tidak puas dengan semua jawaban yang di katakan Andrea lalu menyeretnya untuk ikut bersama melihat Arsula. Namun, lihatlah. Dia malah meninggalkannya di pintu masuk bersama Demetrio.
"Apa yang mereka lakukan di dalam sana, kenapa lama sekali?"
Demetrio terkekeh. "Apa kau cemburu?"
"Aku?" Andrea menunjuk wajahnya. "Untuk alasan apa aku cemburu."
"Lalu kenapa kau keberatan jika lebih dari satu jam mereka bersama?"
"Aku hanya khawatir dia akan membunuh Arsula, jika wanita itu mati, maka akan susah untuk menemukan Marco. Dan itu artinya, aku tidak akan mendapatkan kebebasanku."
Demetrio tertawa dengan keras. " Hahahah. Dasar wanita licik, kau memanfaatkan penderitaan orang lain untuk kekebasanmu?"
"Mereka bahkan melakukan hal yang sama kepadaku."
Demetrio terdiam sejenak. Ini yang di namakan hukum alam. Kita akan mendapatkan buah dari apa yang kita tanam.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika Signore membebaskanmu?"
"Tentu saja aku akan pulang ke Puelba, mencari pria kaya dan menikah dengannya."
"Dan aku akan membunuh pria itu lalu membawamu kembali ke Verona." Malvin muncul dengan tatapan khasnya yang datar. Namun, menusuk hingga ke jantung.
Andrea tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, tangannya gemetar dengan wajah yang sangat gugup. "Signore?"
"Sebelum kau menghayal akan kebebasanmu, terlebih dahulu jawab pertanyaanku. Apa yang kalian lakukan di balik semak-semak itu."
"Kenapa kau terus menanyakannya Signore, bukankah itu bukan urusanmu?"
"Karena semua jawabanmu tidak masuk akal."
Andrea membuang napas kasar, kesal karena pria di depannya sunggu membuat dia frustasi. "Sudah ku katakan, kami tidak melakukan apapun Signore. Lagi pula kami hanya ..." Andrea menjeda ucapannya, matanya menoleh pada Demetrio yang berdiri tidak jauh darinya. Mengatakan lewatan tatapan agar membantunya.
"Hanya apa, katakan!"
"Andrea hanya penasaran tentang pintu itu, aku menemukannya di balik semak. Saat ingin menyeretnya keluar, mereka sudah membawa masuk Nona Arsula, dan kau muncul, karena takut kau melihat kami, aku mengajak Andrea untuk bersembunyi."
Andrea menggigit bibir bawahnya, takut jika Malvin akan menghukumnya lagi. Dia juga mencibir ke arah Demetrio dengan kesal karena menjawab dengan sangat jujur.
"Apa aku bertanya padamu Demetrio." Malvin menatap Andrea, yang sedang komat kamit mangumpati pengawal setianya.
Malvin berdecak kesal, mengira yang tidak-tidak antara Andrea dan Demetrio. Dengan kasar, Malvin menarik Andrea untuk ikut bersamanya. Andrea yang sedang berdiri terhentak kaget saat tubuhnya di bawa pergi.
"Signore! Kau mau membawaku kemana?"
"Kau harus di hukum karena melanggar aturanku."
"Tidak Signore, aku mohon jangan lakukan itu padaku." Andrea memaksa untuk melepaskan tangan Malvin yang menarikanya. Namun, Malvin menahan gerakannya, dia mengangkat tubuh Andera dan menggendongnya seperti sekarung beras.
Merasa terancam Andrea berteriak untuk meminta bantuan. "Demetrio! Apa yang kau lihat cepat tolong aku," teriak Andrea dengan wajah memohon.
"Sig--" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Malvin sudah lebih dulu menyela.
"Jangan ikut campur! Selesaikan saja tugas mu."
Demetro menunduk seketika. "Sì, Signore."
"Tidak!! Lepaskan aku."
"Diamlah! Atau hukumanmu akan semakin berat."
"Dasar gila! Turunkan aku, atau aku akan berteriak dan semua orang akan terbangun."
"Berteriaklah, agar mereka bisa melihat bagaimana aku menghukummu."
Alih-alih berteriak, Andera malah menurunkan nada suaranya, membuat pria bermanik hitam itu menyunggingkan senyum. "Turunkan aku!"
Malvin mengabaikannya dia melangkah lebih cepat menuju kamarnya, takut jika ada yang sudah terbangun dan melihat keduanya dalam keadaan seperti ini. Ketika Malvin menutup pintu kamar, Andera spontas berteriak.
"Apa yang kau laku-- Aaaaaa." Andrea menjerit tatkala Malvin membantingnya ke atas ranjang. "Signore .... Cosa stai facendo. (Apa yang kau lakukan.)" Andrea mencoba mundur dengan ketakutan.
Bukannya menghindar, Malvin malah semakin mendekat hingga membuat punggung Andrea terbentur kepala ranjang.
"Signore." Andrea mendesahkan nama pria itu saat wajah Malvin berada tepat di hadapannya. Dia menekan kedua tangannya pada dada Malvin, mencoba menyingkirkan Malvin yang akan menindihnya.
"Kau akan menerima hukumanmu."
"Tidak ...!"