Endless

Endless
Chapter 164



"Ada apa? Kau terus menatapku dari tadi," ujarnya mengusap wajah Andrea yang berbaring di sampingnya. Wanita itu terus menatapnya dengan sangat serius sejak ia kembali.


Andrea tersenyum tipis. "Tidak, aku hanya ingin menatap wajahmu. Sudah lama aku tidak bisa menatap seperti ini."


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak."


"Katakan, aku akan mendengarnya."


"Tidak Sayang, tidak ada."


Malvin menipiskan jarak di antara keduanya, meraih pinggang kekasihnya, dan memberikan kecupan singkat di kening Andrea. "Katakanlah, kau tidak perlu menyembunyikannya dariku."


Andrea terkekeh sambil meletakan telapak tangannya di dada Malvin, mengelus dengan sensual di sana. "Bagaimana kau tahu, aku bahkan sudah berusaha keras menyembunyikannya."


"Mungkin karena rasa cintaku yang terlalu banyak untukmu, jadi aku bisa merasakan bagaimana suasana hati kekasihku saat ini."


Andrea membulatkan mata, meski wajahnya setenang air. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan jantung yang memompa dengan cepat dan hatinya yang seakan sedang berjoget di dalam sana. Andrea benar-benar merasa jika Malvin yang dulu jauh berbeda dengan Malvin yang sekarang ia kenal. Tidak ada lagi perlakuan kasar, hanya rasa perhatian dengan banyaknya rasa cinta padanya.


Entahlah, meski awalnya ia di perlakukan cukup kasar oleh Malvin dan sempat membencinya. Namun, seiring waktu berjalan, Andrea melupakan kebencian itu, salah paham yang mengubah kehidupannya menjadi seperti neraka itu benar-benar ia kubur dalam-dalam. Kisah tentang Marco, tentang Arsula tentang Sella dan tentang orang-orang yang memberikan luka padanya. Andrea mengangkat kepala, tersenyum menatap Malvin.


"Ketika berbicara dengan Marisa tadi, aku menyadari satu hal," ucapnya dengan sorot mata yang begitu tenang.


"Bahwa aku adalah wanita paling beruntung karena memilikimu." Wanita bermanik abu-abu itu mendekatkan wajahnya bersembuyi di balik dada bidang milik Malvin. "Terima kasih telah memilihku, aku tidak tahu apa jadinya aku sekarang jika kau tidak memperjuangkanku dan menolongku dari pria seperti Marco."


Andrea teringat bagaimana Malvin datang membantai Marco juga kompolotannya saat ia di sekap. Meski samar-samar. Namun, ia tahu jika Malvin yang membawanya pergi dari sana, dia bahkan bersembunyi di balik Daniel dan menyembunyikan semua itu dari Andrea. Bukan hanya itu, Malvin bahkan menantinya dari balik pepohonan taman, bersembunyi hingga dirinya ketahuan saat naik ke kamar Andrea. Andrea tertawa di dalam hati mengingat semua hal yang di lakukan Malvin demi dirinya.


Melihat sepasang mata abu-abu itu mulai berkabut, Malvin bergerak duduk dan seketika menangkup wajah kekasihnya. "Apa yang sudah terjadi padamu, kenapa kau menangis."


"Maaf jika selama ini aku selalu membuatmu terluka, juga membuatmu merasa capek dengan tingkahku yang kurang baik ini." Andrea mengucapkan semua itu dengan air mata yang berlinang.


"Andrea, untuk apa kau mengatakan semua ini. Ada apa denganmu?" Malvin Mulai panik karena melihat Andrea yang terus saja terisak di depannya. "Sayang .... Ada apa?" ujarnya mengelus pipi yang sudah basah di penuhi dengan air mata.


"Tidak, aku hanya ingin mengatakannya saja. Tidak ada apapun yang terjadi padaku," ujarnya dengan terisak.


"Tidak usah berkata bahwa siapa yang paling beruntung dan paling berkorban di sini, di manapun cinta berada, akan ada keberuntungan yqng di bayar dengan pengorbanan. Seperti sebuah hukuman yang pasti, jika kita berani berkorban untuk orang yang kita kasihi maka akan ada keberuntungan setelahnya." Malvin memeluk erat tubuh Andrea menyalurkan perasaan duka yang di rasakan Andrea padanya. "Kita hanya perlu saling menguatkan, saling peduli, saling mendukung dan juga saling berjanji untuk tidak meninggalkan. Aku membutuhkanmu untuk bersama-sama menjalani sisa hidup ini Andrea, ku harap kau pun begitu."


"Aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu, dan anak-anak kita nanti," ujar Andrea tersenyum penuh bahagia.


Hidup tidak pernah memberikan kita pilihan, tetapi kita sendirilah yang membuat pilihan itu. Tergantung jalan mana yang akan kita tempuh. Karena dalam menjalani kehidupan akan ada pengorbanan dan juga keberuntungan. Apalagi ini tentang cinta, menyatukan dua orang yang berbeda tidaklah semudah membalikan ikan goreng di atas wajan.😆😆😆😆


soriiiii Lanjuttt 🤣🤣😘