
"Selamat untuk mu Sayang, aku sangat bahagia mendengarnya."
"Terima kasih Garilla. Apa kau berkunjung hari ini ke asrama?" Andrea bertanya karena dia tahu, jika hari libur wanita itu selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk anak-anaknya.
"Ya pagi tadi, aku pergi saat kau juga pergi menjemput kekasihmu. Mereka sangat bahagia dengan hadia yang kau berikan."
"Benarkah?" ucapnya antusias.
"Si, mereka menitipkan salam cinta untukmu. Jika kau punya waktu, kita bisa berkunjung minggu depan. Itu jika Signore memberikan ijin," ucapnya dengan tersenyum.
"Oh tidak Garilla, dia pasti tidak akn mengijinkannya. Malvin menjadi sangat posesif saat tahu aku hamil, dan itu sedikit membuatku terganggu." Bibir Andrea mengerucut, pria itu berubah dari romantis menjadi sangat menjengkelkan.
"Ya, dan kau menjadi sangat dramatis Nona, kekasihmu bahkan mengalah tadi saat kau tiba-tiba menjadi sangat emosional," ujar Garilla dengan tertawa kecil.
"Entahlah, aku hanya tidak suka jika dia membentak mu."
Garilla terkekeh. "Signore selalu seperti itu Andrea, nada bicara selalu tegas dan terkesan kasar. Tapi kau pun tahu, dia adalah majikan terbaik."
"Tidak sebelum aku jatuh cinta kepadanya."
Kini Garilla tidak bisa menjawab, wanita tua itu menggeleng melihat perubahan sikap Andrea saat dia hamil. Kini dia yakin, jika Malvin akan benar-benar keealahan menghadapi Andrea. "Berapa usia kandunganmu, apa dokter mengatakan janinnya baik-baik saja?"
Andrea sedikit memiringkan kepalanya, berfikir sejenak. "Aku belum menanyakan itu kepada Malvin. Oh God!" Andrea menepuk jidatnya. "Aku terlalu bahagia hingga melupakannya." Mata Andrea berpendar mencari sosok kekasihnya. "Di mana dia?"
"Signore sedang menemui Demetrio, dan Agrio. Mereka sedang membahas pekerjaan di ruang kerjanya," jawab Garilla dengan cepat. Dia tersenyum melihat sikap kekanakan Andrea yang masih saja ada, lihatlah dia bahkan lupa menanyakan hal yang sangat penting. "Di mana kebiasaan seribu pertanyaanmu, apa sudah hilang?" Bukan rahasia lagi jika Andrea adalah wanita dengan seribu pertanyaan. Dia selalu bertanya dengan tidak sungkan jika sesuatu membuatnya bingung. Namun, sepertinya itu akan hilang saat kehamilannya.
Garilla memutar bola matanya. "Kau tidak perlu memikirkannya Andrea, jika Signore tampak biasa maka semuanya baik-baik saja," ujar Garilla sambil membereskan gelas bekas minuman yang dia bawah tadi. "Istirahatlah, aku harus kembali dan bekerja."
"Sì." Wanita itu tersenyum manis. "Grazie Garilla."
Setelah Garilla pergi, Andrea berniat untuk bangun dan membersihkan tubuhnya. Dahinya sedikit berkerut saat menyadari jika dia menggunakan piama tidur. "Kapan aku memakai ini?"
Andrea melangkah menuju kamar mandi tapi lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat. Wanita bermata abu-abu itu mengira jika yang datang adalah kekasihnya. Dia menghentikan langkah dan menoleh bersiap-siap dengan pertanyaannya. Namun, ternyata tidak. Sesorang yang sangat tidak di sukainya melangkah dengan tegas mendekatinya. Pria itu bahkan tidak sungkan jika Andrea sekarang hanya menggunakan piama tidur sejari yang tentu saja itu terlihat tidak sopan untuk seorang selain kekasihnya.
"Hi!" sapa Zigo dengan tatapan yang tentu saja sangat liar. Mata pria itu menatap dengan sangat tidak sopan sama seperti pemiliknya.
Karena kaget, Andrea langsung berlari masuk ke dalam Walk in closed untuk mencari jubah tidurnya agar tubuhnya sedikit tertutupi mata liar Zigo. Dia keluar setelah merapikan penampilannya dengan menggenakan jubah piamanya. "Apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Kamarmu?" Zigo menjatuhkan tubuh atletisnya tepat di atas sofa, memangku satu kakinya dan menatap Andrea dengan menggelangkan kepala. "Ini kamar saudaraku Nona."
Andrea membalas dengan mengangkat sudut bibirnya sinis. "Kau sangat tidak sopan, beraninya kau memasuki kamar orang lain tanpa permisi," ujar Andrea melangkah menuju pintu. Dia tidak suka meladeni orang yang sikapnya bebal seperti Zigo.
Saat gagang pintu hendak di raih, seseorang lebih dulu membukanya. Malvin masuk dengan tatapan yang sangat dingin. Dia melewati kekasihnya dan langsung melangkah menuju Zigo. Tanpa banyak bicara, dia mencengkeram pada leher baju saudaranya dan menyeret dia keluar dengan kasar
****
Spil tipis-tipis babang Zigo 🤭