Endless

Endless
Chapter 82



Hal pertama yang di rasakan Malvin adalah pegal, pria itu terbangun saat merasakan keram pada tangannya. Tidur dengan posisi tangannya sebagai bantalan Andrea membuat dia sesaat tidak bisa bergerak. Sudah cukup sore, dan wanita ini masih tertidur dengan pulas. Malvin menahan napas dan perlahan, dia menarik tangan lalu menggantikannya dengan bantal.


"Tidak ada yang berubah darimu Andrea, kau selalu tidur dengan nyenyak ketika orang lain sedang merasa kesakitan." Pria itu tersenyum lalu mencium bibir kekasihnya berulang kali.


"Bangunlah Andrea, ini sudah sangat sore. Kepalamu akan sakit jika kau tidur hingga gelap." Suara berat Malvin membuat gadis itu hanya mengangguk-angguk lalu tanpa membuka mata. Dia ingin tidur sedikit lebih lama, apalagi sekarang dia berada di atas tempat tidur milik pria yang sangat dia rindukan, berada dalam pelukkannya yang menghangatkan. Tanpa sadar bibirnya bergetar, menggumamkan nama Malvin di dalam hatinya. Bibirnya tersenyum membayangkan hal seperti ini akan terus terjadi.


"Apa yang membuat kau tersenyum?" tanya Malvin dengan menatap lekat wajah wanita yang masih menutup mata itu.


Perlahan Andrea membuka matanya. "Signore, apa sopan jika aku membayangkan hal semacam ini akan terus terjadi?" ucapnya dengan tersenyum lembut dan begitu manis dan semakin membuat dia terlihat cantik.


Malvin terkekeh, dia mengamati wajah cantik kekasihnya mengelus dengan lembut pada pipinya yang begitu halus. "Maksudmu, kau ingin kita berada sepanjang hari di kasur ini?"


"Oh sh*it." Andrea mengumpat di dalam hati karena Malvin sepertinya salah menanggapai, apalagi gerakan tangan pria itu semakin membuat dia tidak nyaman. "Malvin hentikan! Bukan itu yang aku maksud."


Pria itu pun tahu, dia hanya sedang menggoda kekasihnya yang terlihat malu. "Aku harus menemui Demetrio, mandilah. Kita akan makan malam setelah urusanku dengannya selesai." Dia mencium kening kekasihnya sebelum beranjak turun.


"Apa kau butuh bantuanku?"


"No, Sayang. Aku harus membiasakan diri melakukannya sendiri."


"Baiklah."


Dengan perlahan Malvin melangkah keluar. Ketika membuka pintu, dia kaget dengan sosok pria yang menatapnya dengan begitu tajam. Malvin mengabaikannya karena dia tahu kenapa Demetrio menatapnya seperti itu.


"Ada apa dengan wajahmu?"


Malvin terkekeh sambil berjalan pergi. "Kesempatan? Kau pikir kita melakukan apa di hari yang terang ini."


"Kau mengunci pintunya Signore, dokter bahkan harus kembali karena tidak bisa masuk."


"Aku tidak tahu jika dokter akan datang siang tadi."


Demetrio berdecak. "Bukankah beberapa hari ini selalu begitu. Kau lupa jadwalnya ketika ada wanita cantik di sampingmu."


Malvin tertawa keras, berjalan menuju dapur dengan perlahan. Malvin meneguk segelas air putih yang di sediakan oleh Garilla. "Dimana wanita itu?"


"Di ruang pengobatan Signore," jawab Demetrio mengikuti langkah majikannya.


"Dia menepati janjinya, setelah dia kuat bawa dia kembali ke kampung halamannya seperti yang sudah kita janjikan."


"Tapi Signore, dia mengatakan ingin tetap menjadi pelayanmu."


"Kaki lumpuh, apa yang bisa dia lakukan dengan keadaan seperti itu." Langkah kaki Malvin terhenti ketika sampai di depan ruang khusus yang biasa mereka gunakan untuk perawatan. Dia menarik dalam napasnya sebelum masuk.


"Signore," sapanya dengan sedikit membungkuk. "Terima kasih telah menepati janjimu untuk menolongku. Tetapi, bisakah kau membiarkan aku tetap berada di sini, aku akan melayanimu seumur hidup sebagai penembus semua dosaku."


Malvin menggeleng. "Kau harus kembali, kedua orang tuamu menunggumu. Aku sudah menepati janjiku untuk menyelamatkan mereka. Sebagai balasannya, berbaktilah kepada mereka, buatlah keluargamu bersyukur sudah memilikimu. Itu adalah hukuman untukmu."


"Aku menerimanya dengan senang hati," ujar Sella dengan deraian air mata. "Terima kasih sekali lagi Signore. Aku berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."