
Fajar belum menunjukkan dirinya, tetapi Zigo sudah terjaga. Tatapannya terpaku pada wanita yang tidur di sampingnya. Punggung putih mulus Paris membuat Randika tidak tahan untuk mengelusnya. Paris melengguh manja dengan perlahan membuka kedua matanya saat merasakan sentuhan sang suami. Marisa mengucak kedua matanya pelan agar penglihatannya tidak kabur. Perempuan yang baru saja melewatkan malam pertama bersama suaminya itu berusaha duduk. Namun, karena tubuh mungilnya tidak berbalutkan apapun, dia kembali ke posisinya dengan lebih menaikkan selimutnya.
"Baby ...." Suara parau Paris membuat predator itu menggigit sedikit bahunya. "Aaah ... itu sakit Baby."
"Jangan mengeluarkan suara seperti itu, atau kita akan memulainya lagi"
"Suara seperti apa yang kau maksud?" tanya Paris menatap Zigo dengan tersenyum.
"Suara seperti tadi," ujarnya mengecup sudut bibir Paris.
"Hentikan bualanmu dan kembalilah tidur. Ini masih terlalu pagi," ujarnya kembali membenamkan tubuhnya ke dalam selimut.
"Aku tidak bisa tidur jika keadaanmu seperti ini Sayang."
Paris mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan Zigo. "Apa maksudmu dengan keadaan seperti ini, baby. Memangnya apa yang terjadi padaku?"
Zigo membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya. "Lihatlah, kau sangat membuatku ingin kembali menerkammu."
"Oh God! Tidak lagi Baby. Kita sudah melakukannya beberapa kali semalam, aku lelah." Paris menepis tangan Zigo dan menutup tubuhnya kembali dengan cepat. "Dasar predator."
Zigo terkekeh, dia mendekati istrinya memberikan ciuman berulang kali pada bibir tipisnya yang selalu membuat dia menggila. "Aku menginginkannya sekali lagi Paris. Ayolah, sekali lagi saja."
"Tidak! Aku lelah."
Pria yang sangat ahli soal bercinta itu terlihat sedikit kecewa. Namun, dia tidak menyerah, banyak jebakan yang ia siapkan untuk membuat istrinya tetap berada di atas ranjang bersama sepanjang hari ini. "Baiklah, kalau begitu aku akan keluar."
"Binggo," batin Zigo menyeringai penuh kemenangan.
Pria itu terkekeh, dengan gemasnya dia mencubit pipi wanitanya, dan tanpa aba-aba dia melompat hingga kedua pahanya jatuh di antara sisi tubuh munggil Paris. "Ayo kita lanjutkan, tidak boleh ada gang beranjak turun dari tempat ini."
Paris memekik, tubuhnya bergetar dengan hebat saat Zigo mulai mencumbuinya. Kedua tangannya melingkar pada leher pria yang sedang menciumnya. Dalam benaknya ia berjanji jika seumur hidupnya, dia hanya akan bercinta dengan pria yang ada di atas tubuhnya. Pertama kali ia bertemu dengan pria gila ini, dia melakukan hal seperti ini, bercumbu dengan sangat liar. Hingga saat Zigo mengabaikannya, ia baru tersadar jika dia mencintai pria itu bukan hanya menginginkan kepuasan dan kenikmatan sesaat. Dan Paris bersyukur karena Zigo adalah orang pertama dan terakhir yang menyentuhnya.
"Bisakah kita memulainya?" tanya Zigo tepat di bibir Paris, yang langsung di jawab dengan anggukan kecil dari istrinya.
"Ba--Baby ...." Paris memekik sesak, seluruh kenikmatan sekali lagi seakan menjerit dalam suka cita saat milik Zigo memasukinya.
Dengan cepat Zigo meredam gumaman Paris dengan ciuman yang begitu lembut, membuat wanita yang sedang membara itu mencengkeram erat pada jemari Zigo yang menggenggamnya. Sesaat ketika ciuman mereka terlepas, Paris membalas dengan tersenyum kepada Zigo. Dan kembali berciuman dengan penuh gairah.
"Kita akan membuat anak-anak tampan yang menggoda dan bergairah sepertiku Dokter Paris."
•
•
Part duanya sudah tayang Jangan lupa mampir yah. tekan fav agar tiap up kalian tahu. 🙏💜